Sosok Fia TKW di Hongkong, Kerap Diberi Makanan Sisa dan Tulang Ikan dari Majikan, Kini Trauma
Wanita itu adalah Fia, TKW yang menerima pengalaman pahit ketika menjadi TKW di negara Hongkong.
TRIBUNMANADO.CO.ID- Indonesia sangat dikenal sebagai pengirim tenaga kerja wanita ke beberapa negara.
Namun setiap TKW mendapat perlakuan yang berbeda dari para majikan.
Perlakuan tak menyenangkan dialami oleh Fia TKW yang bekerja di Hongkong.
Baca juga: Cerita TKW Cantik Tolak Tawaran Menggiurkan Majikan, Mengaku Tak Sanggup, Hanya Bisa Dua Hari Saja
Simak video terkait :
Memilukan, kisah seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia yang bekerja di Hongkong ini setiap hari harus menangis lantaran ulah sang majikan.
Bukan tanpa alasan, dirinya mendapat perlakuan tak menyenangkan dari majikan tempat dia bekerja.
Dari mulai ocehan hingga jatah makan pun membuat wanita ini sakit hati bahkan setiap hari menangis.
Wanita itu adalah Fia, TKW yang menerima pengalaman pahit ketika menjadi TKW di negara Hongkong.
Baca juga: Sosok Dian Aristya, TKW Indonesia yang Ditawari Bonus Tambah Layani Saudara Majikan, Ngaku Tak Mampu
Kisah Fia, TKW cantik di Hongkong yang selalu menangis ulah majikan (YouTube Bunda Fia)
Fia membagikan kisahnya diperlakukan tak menyenangkan oleh majikannya yang dinilai cerewet, jutek, dan pelit.
Bahkan blak-blakan Fia mengaku selalu makan dari sisa makanan majikannya setiap hari.
Parahnya dia acap kali makan hanya dijatahi atau disisakan tulang ikan bekas makan majikannya.
Hal itu disampaikannya di kanal YouTubenya Bunda Fia beberapa waktu lalu.
Baca juga: Sosok Uni Yuni TKW Indonesia di Taiwan, Beri Jatah dan Tidur Sekamar Dengan Majikan Pria Tiap Malam
Fia mengatakan bahwa dengan majikannya itu, dia disuruh bekerja tanpa henti.
Meskipun rumah milik majikannya tidak terlalu besar, tetapi Fia menyebut selalu ada hal-hal yang dikerjakannya bahkan berulang-ulang.
"Di sana rumahnya kecil tapi nggak berhenti-henti disuruh kerja," ujar Fia.
Fia menjelaskan sedikit aktivitasnya sehari-hari.
Dari mulai pagi, dia sudah siap dengan pekerjannya membereskan segala bagian rumah.
Kemudian membuatkan sarapan untuk majikannya sebelum bangun.
"Abis beres-beres, majikan bangun, kita bikin sarapan untuk majikan baru kita dikasih sarapan," kata Fia.
Sementara itu, bukan menyantap sarapan yang sama, ternyata menu sarapan Fia dan majikannya berbeda.
Untuknya, sang majikan hanya memberi selembar roti tawar.
"Sarapannya ya Allah kasian, kadang-kadang kopi sama selembar roti tawar, itu sekitar jam 9 baru sarapan," jelas Fia.
Lantas setelah diberi jatah sarapan selembar roti, Fia kembali diharuskan beres-beres rumah dari lantai bawah dan atas.
"Abis beres, bersihin, dari atas sampai bawah nggak boleh bersisa air setetes pun," kata Fia.
Fia menilai jika majikannya sangat cerewet, ketus atau jutek, bahkan pelit.
Keseharian di waktu siang setelah mengantar anak majikan dilanjutkan Fia dengan pergi ke pasar.
Setelah membereskan sayuran dan masak dia pun menjemput kembali anak majikannya.
Lantas Fia membocorkan makan siang apa yang diberikan majikannya untuknya.
"Jam tiga cuma dikasih roti kecil, kalau siang makan sisa kemarin, satu mangkuk dikit banget,"
Miris, Fia ternyata hanya diberikan roti kecil dan makan siang dari sisa kemarin.
Fia menyebut majikannya sangat perhitungan soal jatah makan Fia.
Bahkan dia blak-blakan mengaku harus makan dari sisa makan majikannya.
"Udah dijatah majikan, kita ngelayanin majikan makan dulu, baru kita dapat sisanya. Kalau makan ikan, majikan udah makan kita baru dapet kepala sama tulangnya, dagingnya sama majikan" kata Fia.
Saking sedihnya, Fia mengaku sering makan sambil menangis karena diperlakukan seperti ini.
Namun hal itu dilakukannya agar tetap bisa mengganjal perutnya yang lapar.
"Mau nggak mau demi perut biar bisa makan. Kadang-kadang makan sambil nangis, ternyata kerja di sini nggak seenak yang dibayangkan," ungkapnya.
Fia mengaku lelah fisik dan jiwa diperlakukan majikannya seperti itu.
Ternyata, selain hanya dijatahi makan sedikit, dan kerja yang tak berhenti-henti, Fia pun sangat sedikit memiliki waktu istirahat.
Dia bahkan seperti tak memiliki waktu siang biarpun hanya untuk duduk istirahat sejenak.
"Kerjaan capek makan sedikit, jangankan tidur siang, mau duduk sebentar aja susah kecuali majikan pergi," jelasnya.
Belum lagi ketika majikan pulang ke rumah Fia harus menerima sejumlah interogasi yang semakin membuatnya lelah.
"Diintorgasi di rumah ngapain aja, ya Allah nggak berhenti-henti, mereka nggak mau pasang kamera tapi mereka nggak mau percaya," tandasnya.
Mendapat perlakuan itu lantas membuat Fia menjadi trauma dan meninggalkan majikannya.
"Hingga aku trauma nggak mau kesitu lagi," kata Fia.
(Bangkapos.com/Vigestha Repit)
Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com