Nasional
Gara-gara The Fed dan Ukraina, Rupiah Berpeluang Anjlok ke Rp 15 Ribu per Dolar AS
The Fed masih akan terus menaikkan suku bunga untuk mengatasi inflasi di Amerika Serikat. Ditambah, perang Ukraina tak kunjung selesai.
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed masih terus menaikkan suku bunga hingga kini.
Bahkan kenaikan suku bunga ini diperkirakan masih akan terjadi hingga bulan-bulan kedepan.
Hal ini menjadi salah satu faktor penggerak nilai tukar rupiah hingga anjlok ke Rp 15 ribu per dolar AS.
Pengamat keuangan Ariston Tjendra mengatakan, ada dua isu yang akan menjadi penggerak nilai tukar rupiah hingga berpeluang melemah ke Rp 15 ribu per dolar Amerika Serikat (AS).
Sentimen pertama yakni soal Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed yang masih akan agresif menaikkan suku bunga acuannya di bulan-bulan mendatang.

"Di Juli, The Fed masih membuka peluang kenaikan 75 basis poin. Di tengah sentimen The Fed tahun ini dan isu inflasi serta resesi, peluang pelemahan rupiah ke Rp 15.000 masih terbuka tahun ini," ujarnya melalui pesan singkat kepada Tribunnews.com, ditulis Senin (20/6/2022).
Sementara faktor kedua yakni isu inflasi dan resesi, di mana seperti diketahui perang di Ukraina masih mendorong kenaikan harga barang.
"Bank-bank Sentral Dunia serempak menaikkan suku bunga acuan, yang menciptakan ekonomi biaya tinggi. Dikhawatirkan bisa menekan pertumbuhan ekonomi," kata Ariston.
Karena itu, Bank Indonesia diharapkan merespons kebijakan The Fed dengan menaikkan suku bunga acuan agar jaraknya tidak menyempit, sehingga rupiah bisa tidak semakin melemah terhadap dolar AS.
Kemudian, pemerintah diharapkan bisa mengendalikan inflasi yang dapat membantu pertumbuhan ekonomi, sehingga kepercayaan terhadap rupiah meningkat.
Baca juga: Dicalonkan Partai NasDem, Ganjar Pranowo Harus Minta Restu ke Megawati Soekarnoputri
Baca juga: Peringatan Dini BMKG Besok Selasa 21 Juni 2022, Ini Daftar Wilayah Waspada Potensi Cuaca Ekstrem
"Adapun kalau isu-isu ini mereda, rupiah bisa kembali menguat, apalagi indikator ekonomi indonesia masih bagus seperti inflasi dan neraca perdagangan. Inflasi Indonesia memang perlahan naik, tapi masih di dalam target Bank Indonesia, dan neraca perdagangan sudah surplus selama 25 bulan beruntun," pungkasnya.
Harga Emas Hingga Perak Langsung Menguat Pasca The Fed Kerek Suku Bunga 0,75 Poin
Kebijakan The Fed menaikkan suku bunga hingga mencapai 0,75 poin membuat harga emas dan perak terkerek naik.
Harga emas naik 1 persen dalam perdagangan Kamis malam (16/6/2022).
Kenaikan ini terjadi imbas dari amblesnya kurs dolar AS akibat adanya kebijakan agresif bank sentral The Fed.
