Berita GPI
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Usulkan Buya Syafii Maarif Jadi Pahlawan Nasional
Bangsa Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Sosok yang selama ini teguh dan konsisten menyuarakan tegaknya NKRI.
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Rizali Posumah
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii Maarif berpulang Jumat (27/05/2022).
Buya menghembuskan nafas terakhir di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat pagi sekitar pukul 10.15 Wita
Bangsa Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Sosok yang selama ini teguh dan konsisten menyuarakan tegaknya NKRI. Tokoh gereja pun merasa kehilangan Buya Syafii.
Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pdt Gomar Gultom melayat ke Masjid Gede Kauman Yogyakarta, tempat jenazah Buya disemayamkan.
Gultom menyampaikan rasa duka mewakili gereja-gereja di Indonesia dan memberikan penghormatan terakhir.
Layatan ini juga merupakan wujud kebersamaan sekaligus menyatakan turut sepenanggungan dengan keluarga Buya Syafii Marif, Keluarga Besar Muhammadiyah bahkan umat Muslim pada umumnya.
Menurut Gomar, ketokohan, pemikiran dan perjuangan Buya sejalan dengan perjuangan Gereja-gereja di Indonesia untuk kemajuan dan kesejahtetaan bangsa ini.
PGI menilai bahwa kontribusi dan jasa Buya bagi bangsa ini sangat besar, maka PGI mengusulkan kepada Pemerintah agar Buya Syafi'i Ma'arif dijadikan sebagai Pahlawan Nasional.
Kepala Humas PGI, Jeirry Sumampow menyatakan, Buya bukan hanya seorang tokoh pluralis dan nasionalis, tetapi juga Guru dan Bapa Bangsa, yang banyak menyumbang gagasan untuk mencerdaskan bangsa.
"Kesederhanaannya membuat banyak orang kagum dan makin menghormatinya, sehingga beliau mendapatkan tempat yang istimewa di hati rakyat Indonesia," kata Sumampow kepada Tribunmanado.co.id, Jumat malam.
Katanya, Buya sangat dekat dengan semua kalangan sehingga patut menjadi pola teladan bagi semua pemimpin agama dan pemimpin bangsa di Indonesia.
"Sebagai bangsa yang besar dan menghargai kemajemukan," ujarnya.
"Keteladanannya yang sangat sederhana dan menolak berbagai bentuk fasilitasi sangat perlu ditiru," tambah dia.
Buya menolak tawaran pengobatan di Jakarta, baik dari Ibu Megawati Soekarnoputri maupun dari Presiden RI, Joko Widodo, karena merasa lebih nyaman dirawat di rumah sendiri: RS PKU Muhammadyah Yogyakarta.
Bahkan untuk penguburannya pun beliau mewasiatkan untuk dikebumikan di pemakaman khalayak Muhammadyah di Kulon Progo dan tidak di pemakaman yang dikhususkan bagi Pimpinan Muhammadyah. (ndo)
• Van Dental Hadirkan Perawatan Gigi Berkualitas untuk Semua Kalangan