Selasa, 5 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Perang Rusia Vs Ukraina

Keran Gas Rusia Ditutup Industri Austria Bisa Terpukul

Penangguhan pasokan gas Rusia akan menjadi pukulan serius bagi kesejahteraan rakyat Austria, karena mengancam sekitar 300.000 pekerjaan.

Tayang:
Editor: Aswin_Lumintang
GETTY IMAGES via BBC INDONESIA
Tank tercanggih milik Rusia, T-14 Armata muncul di parade di Moskwa, tapi tidak pernah tampak di medan perang. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, WINA - Penangguhan pasokan gas Rusia akan menjadi pukulan serius bagi kesejahteraan rakyat Austria, karena mengancam sekitar 300.000 pekerjaan.

Kabar ini diwartakan Russia Today mengutip surat kabar Kronen Zeitungyang mewawancarai Presiden  Federasi Industri Austria, Jumat (27/5/2022).

Menurut pemimpin federasi itu, Georg Knill, hampir semua industri makanan bergantung pada pasokan "bahan bakar biru."

Sirkuit Red Bull Ring, Austria.
Sirkuit Red Bull Ring, Austria. (Istimewa via Tribunnews.com)

Produksi baja juga membutuhkan kapasitas besar, katanya, seraya mencatat industri lain juga akan terpukul atau sangat terpengaruh.

Pemerintah Austria menurut Knill, tidak memiliki rencana jika terjadi penghentian pasokan gas dari Rusia.

Sementara kabinet dilaporkan mulai membuat skema warga tak boleh menyalakan pendingin udara di apartemen.

Knill mengatakan pihak berwenang pertama-tama dapat memutus aliran gas ke perusahaan negara, yang menjadi perhatian utama pemilik bisnis negara.

Baca juga: Peduli Pendidikan, Pegadaian Beri Beasiswa Anak-anak Pengurus Bank Sampah Binaan

Baca juga: Ingat Rossa Sera? Dulu Ceraikan Shuk Sahar Lantaran Tiga kali Selingkuh, Kabarnya Kini

Dia menekankan Rusia dapat "mematikan keran," jika Uni Eropa sepakat berhenti mengimpor gas Rusia. Blok tersebut sebelumnya berjanji untuk meninggalkan bahan bakar fosil pada 2040-2050.

Sementara mengikuti kebijakan Rusia, raksasa energi Austria OMV sedang bersiap membuka rekening rubel di Gazprombank Rusia.

 
Langkah itu dilakukan supaya mereka bisa membayar pasokan gas dalam mata uang Rusia. Perusahaan mengatakan pembayaran berikutnya akan jatuh tempo bulan ini.

Barat sudah merasakan "konsekuensi manis" dari sanksinya terhadap Rusia, tetapi langkah-langkah ini akan tetap berlaku "untuk waktu yang sangat, sangat lama."

Hal ini diingatkan mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev. Sejak awal serangan militer Rusia ke Ukraina, AS, Uni Eropa, Inggris, dan banyak negara lain telah menerapkan pembatasan keras terhadap Moskow.

Rusia menganggap tindakan sepihak atau unilateral itu melanggar hukum dan tidak dapat dibenarkan.

Berbicara di forum kewirausahaan Partai Rusia Bersatu, Medvedev, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, mengatakan dunia barat mendorong dirinya ke krisis global pakai tangannya sendiri.

“Tetapi, kenyataannya, Eropa telah merasakan semua konsekuensi manis dari sanksi anti-Rusia – inflasi, hiperinflasi, kenaikan harga bahan bakar, perumahan, utilitas, makanan, barang sehari-hari, pemutusan hubungan kerja,” katanya.

Rusia Juga Bakal Terpengaruh

Dia mengakui Rusia juga menderita karena pembatasan yang menurut istilahnya "bodoh", tetapi,  perbedaannya, Rusia memiliki tujuan yang mulia.

“Kita harus menemukan jawaban atas upaya untuk membatasi perkembangan negara kita,” jelas Medvedev.

Rusia harus siap untuk sanksi yang akan tetap berlaku untuk waktu yang lama.

“Kami memahami sanksi ini … akan menjadi salah satu cara sistemik untuk memperjuangkan kepemimpinan dunia dan melawan pembangunan negara kami, dan ini akan berlanjut untuk waktu yang sangat, sangat lama,” tegasnya.

Sebagai contoh pembatasan yang sudah berlangsung lama, ia merujuk pada Amandemen Jackson-Vanik 1974 yang terkenal.

Itu ketentuan undang-undang federal AS yang membatasi perdagangan negara dengan ekonomi non-pasar – yang bertahan selama empat dekade dan dicabut pada 2012, hanya untuk digantikan sanksi berikutnya.

“Kita dapat membayangkan tingkat hiruk-pikuk, kekakuan, dan keteguhan di mana pembatasan ini akan diterapkan,” ujar Medvedev.

Rusia, tambah Medvedev, harus hidup dalam kondisi seperti itu untuk waktu yang sangat, sangat lama, terlepas dari pemerintahan mana yang berkuasa di AS dan Eropa.

Menurut Medvedev, sanksi tersebut merupakan tantangan yang jauh lebih sulit daripada pandemi.

 Dia menjelaskan sementara seluruh dunia memerangi Covid, tidak ada perbedaan ideologis yang begitu jelas.

“Apa yang terjadi sekarang adalah cerita yang sama sekali berbeda,” tegasnya.

Pernyataan mantan presiden itu muncul setelah pemimpin Rusia saat ini, Vladimir Putin, memperingatkan "obsesi sanksi" yang dibuat barat.

Sanksi itu mengarah konsekuensi yang tidak dapat diselesaikan baik untuk Uni Eropa maupun untuk negara-negara termiskin di dunia yang sudah menghadapi risiko kelaparan.

Selama tiga bulan terakhir, Rusia telah mengalami pembatasan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

AS, antara lain, telah menerapkan embargo pada minyak Rusia, salah satu komoditas ekspor utama negara itu.

Uni Eropa saat ini sedang mempersiapkan paket sanksi keenamnya, dan juga mempertimbangkan larangan minyak.

Rusia telah terputus dari sistem pesan antar bank SWIFT, sementara bank, organisasi, dan individu telah dikenai sanksi, dan setengah cadangan devisa negara tersebut dibekukan.(Tribunnews.com/RussiaToday/xna)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Keran Gas Rusia Ditutup Industri Austria Bisa Terpukul, https://www.tribunnews.com/internasional/2022/05/27/keran-gas-rusia-ditutup-industri-austria-bisa-terpukul?page=all

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved