Buya Syafii Meninggal
Berita Duka,Tokoh Muhammadiyah Buya Syafii Maarif Meninggal Dunia
Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah 1998-2005 ini meninggal dalam usia 86 tahun.
TRIBUNMANADO.CO.ID,-Kabar duka datang dari keluarga besar PP Muhammadiyah Ahmad Syaffi Maarif meninggal dunia.
Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah 1998-2005 ini meninggal dalam usia 86 tahun.
"Muhammadiyah dan bangsa Indonesia berduka. Telah wafat Buya Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif pada hari Jumat tgl 27 Mei 2022 pukul 10.15 WIB di RS PKU Muhammadiyah Gamping," ucap Haedar melalui keterangan tertulis, Jumat (27/5/2022).
Haedar menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya Buya Syafii Maarif.
Baca juga: Kisah Buya Syafii Ulama Besar dari Muhammadiyah, Pernah Viral karena Pengemudi Lain Sungkan Menyalip
Baca juga: SOSOK Buya Syafii Maarif, Tokoh Pendidikan dan Pemikir Islam di Indonesia, Pernah Jadi Guru Desa
"Semoga beliau husnul khatimah, diterima amal ibadahnya, diampuni kesalahannya, dilapangkan di kuburnya, dan ditempatkan di jannatun na’im. Mohon dimaafkan kesalahan beliau dan do’a dari semuanya," kata Haedar.
Dikutip dari Tribun Wiki, Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif dikenal sebagai salah satu tokoh dan pemikir Islam di Indonesia.
Ahmad Syafii Maarif atau yang akrab dipanggil Buya Syafii lahir di Sumpur Kudus, 31 Mei 1935.
Ahmad Syafii Maarif menempuh pendidikan dasarnya di sekolah rakyat di Sumpur Kudus dan kemudian melanjutkan ke Madrasah Mualimin di Balai Tengah, Lintau, Sumatera Barat.
Setelah itu, Ahmad Syafii Maarif merantau ke Jawa dan melanjutkan pendidikannya di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Yogyakarta.
Setelah lulus, Ahmad Syafii Maarif diharuskan mengabdi di pendidikan yang dikelola organisasi Muhammadiyah dan dikirm ke Lombok, Nusa Tenggara Timur selama setahun.
Baca juga: Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun, Tokoh Muhammadiyah Buya Syafii Maarif Meninggal Dunia
Setelah menyelesaikan masa pengabdian, Syafii Maarif kemudian melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Hukum Universitas Cokroaminoto Surakarta.
Karena adanya pemberontakan PRRI/Permesta yang mengakibatkan terputusnya hubungan Sumatera-Jawa, Syafii Maarif tidak bisa lagi mendapatkan bantuan biaya kuliah dari saudaranya yang berada di Sumatera.
Ahmad Syafii Maarif pun memutuskan untuk berhenti kuliah.
Pada saat itu, Syafii Maarif menyambung hidupnya dengan menjadi guru desa di wilayah Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Ahmad Syafii Maarif kembali melanjutkan kuliahnya di Jurusan Sejarah Universitas Cokroaminoto dan berhasil meraih gelar Sarjana Muda pada 1964.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/buya-syafii-maarif-34.jpg)