Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sulawesi Utara

Wagub Steven Kandouw Ucapkan Selamat Hari Waisak, Serukan Slogan The Light of Peace

Wakil Gubernur Sulut, Steven Kandouw mengucapkan Selamat Hari Raya Waisak. Umat Budha merayakan Hari Raya Waisak hari ini Senin (16/5/2022)

Penulis: Ryo_Noor | Editor: Handhika Dawangi
Istimewa/Pemprov Sulut
Wakil Gubernur Sulut, Steven Kandouw mengucapkan Selamat Hari Raya Waisak. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Wakil Gubernur Sulut, Steven Kandouw mengucapkan Selamat Hari Raya Waisak.

Umat Budha merayakan Hari Raya Waisak, Senin (16/5/2022)

"Tri Suci Waisak adalah momen merenungkan segala perbuatan yang telah dilakukan, apakah baik atau buruk untuk kita, maupun pihak lain," tulis Steven Kandouw di laman Media Sosial Facebook miliknya, Senin (16/5/2022).

"Semoga ini menjadi momen bagi kita untuk menilai apa yang sudah kita perbuat. Selamat Hari Raya Tri Suci Waisak 2566 BE/2022," ungkapnya lagi.

Steven Kandouw juga memposting sebuah fyler di akun media sosialnya bergambar bunga teratai, bertuliskan slogan 'The Light of Peace'

Adapun dilansir dari kompas.tv, Waisak adalah hari paling suci bagi jutaan umat Buddha di seluruh dunia karena dua setengah milenium yang lalu, pada tahun 623 SM, Buddha lahir.

Umat salah satu agama tertua di dunia ini memperingati kelahiran, pencapaian pencerahan dan wafatnya Sang Buddha.

Setiap tahun, Hari Waisak dirayakan di tanggal yang berbeda-beda di bulan Mei seperti halnya tahun 2021 lalu yang digelar 7 Mei, kini Waisak 2022 dirayakan Senin,16 Mei 2022.

Tanggal Waisak yang berubah setiap tahun disebabkan karena perayaan ini terjadi saat bulan purnama pertama bulan lunar kuno Waisak yang biasanya jatuh pada Mei atau awal Juni.

Waisak adalah hari untuk memperingati lahirnya Siddhartha Gautama atau juga dikenal sebagai sang Buddha.

Buddha adalah gelar, yang berarti yang tercerahkan atau yang terbangun.

Melansir BBC, Siddhartha diyakini adalah seorang pangeran yang lahir dalam keluarga kaya di tempat yang sekarang disebut Nepal pada abad ke-5 SM.

Dalam ajaran Buddha, Siddhartha Gautama menyadari bahwa kekayaan dan kemewahan tidak menjamin kebahagiaan.

Jadi dia melakukan perjalanan sebagai orang suci tunawisma untuk belajar lebih banyak tentang dunia dan melihat penderitaan di dunia. (ryo)

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved