Kabar Papua
Eks Tahanan Politik: 'Otsus Gagal, Saatnya Papua Merdeka'
"Gagal. Berarti tidak ada jalan lain tapi hanya satu yaitu Papua merdeka," ujar Filep Karma, mantan tahanan politik.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Mantan Tahanan politik, Filep Karma berorasi saat demo penolakan Otsus Papua.
Filep Karma mengatakan Papua harus merdeka karena pelaksanaan otonomi khusus (Otsus) selama 20 tahun telah gagal, dan Daerah Otonomi Baru (DOB) bukan solusi.
Anak dari salah satu Mantan Bupati Wamena itu menyampaikan hal itu dalam orasinya di hadapan ribuan demonstran penolak DOB dan Otsus Papua di bundaran Abepura, Kota Jayapura, pada Jumat (1/04/2022).
"Jadi teman-teman harus tahu, tahun 2000 lalu seusai kongres di GOR Jayapura, Barnabas Suebu, Maikel Manufandu, Philip Erari, dan tokoh-tokoh Papua lainnya bilang, jangan minta merdeka dulu, kita terima Otsus dulu, sebab itu alternatif terbaik dan terakhir yang bisa pemerintah Indonesia buat dalam 20 tahun."
"Namun itu gagal. Berarti tidak ada jalan lain tapi hanya satu yaitu merdeka," ujar Filep.

Filep Karma juga menyinggung soal sistem Keluarga Berencana (KB) yang diterapkan oleh pemerintah.
"Mereka sudah kasih Otsus 20 tahun, mungkin teman-teman semua ingat Indonesia punya program KB, dong bilang dua anak saja cukup supaya berhasil."
"Jadi ini sama seperti Otsus juga, dua provinsi saja supaya berhasil, tapi ternyata tidak. Kalau dua provinsi saja tidak berhasil, apalagi banyak provinsi," kata Filep.
Karena itu, Filep menyerukan agar tuntutan masyarakat Papua perlu dinaikkan ke level atas.
"Bukan pemekaran provinsi tapi pemekaran negara, karena sudah jelas Otsus gagal, jadi mau bikin provinsi banyak pun tetap gagal," katanya.
Filep mengeklaim pilihan tersebut adalah keputusan terbaik.
"Supaya jangan lagi ada orang yang demonstrasi, atau adik-adik yang menjadi prajurit TNI-Polri ataupun orang Papua mati," ungkapnya.
Dia berujar, perlu ada perundingan internasional yang dilakukan soal kompleksitas masalah Papua.
"Dulu Papua dipaksa gabung ke Indonesia itu melibatkan Amerika, Belanda dan PBB. Jadi kalau dulu melibatkan dua negara dan lembaga internasional, maka sekarang mereka perlu bersama bangsa Papua melakukan perundingan," jelasnya.
Menurutnya, Amerika, Belanda dan PPB tidak tidak berpikir soal masa depan masyarakat Papua kala Perjanjian New York digelar pada 15 Agustus 1962.
"Saat itu pihak-pihak ini tidak melihat kami orang Papua sebagai manusia atau sebagai bangsa yang punya hak untuk menentukan nasib sendiri.
Seharusnya saat itu ada wakil bangsa Papua yang dilibatkan untuk duduk bersama," kesalnya.
Ia menyayangkan kebijakan tersebut. Sebab Papua masa itu sudah punya parlemen sendiri.
"Parlemen ini adalah salah satu lembaga dari sebuah negara yang akan berdiri sendiri, jadi Papua saat itu sudah punya, dan seharusnya dilibatkan dalam perundingan itu," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, ribuan massa di Kota Jayapura pada Jumat (1/4/2022), mendesak DPR Papua segera membentuk panitia khusus (Pansus) untuk mengawal aspirasi rakyat soal penolakan pemekaran daerah dan otonomi khusus (Otsus).
Massa lewat koordinator demo mengutuk pejabat Provinsi Papua dan pusat yang mendukung Daerah Otonomi Baru (DOB) di Bumi Cenderawasih.

Bahkan, massa juga menolak kue bernama Otonomi Khusus (Otsus) yang telah 20 tahun bergulir di Papua.
"Kami rakyat Papua 100 persen tolak daerah otonomi baru," kata perwakilan dari mahasiswa, Notianus Belau saat berorasi di persimpangan Buper Waena, Kota Jayapura pda Jumat (1/4/2022).
"Pejabat yang mendukung pembentukan DOB kami kutuk," sambungnya.
Natianus mengklaim, rakyat Papua dan 116 organisasi telah menandatangani petisi penolakan DOB.
Simak Profil Filep Karma di link bawah ini:
Baca juga: Sosok Filep Karma, Aktivis Papua Merdeka yang Kibarkan Bendera Bintang Kejora, Anak Mantan Bupati
(*)
Artikel ini telah tayang di Tribun-Papua.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/profil-sosok-filep-karma-aktivis-opm-papua-anak-mantan-bupati-wamena-andreas-karma1.jpg)