Kabar Papua
Aktivis Papua Merdeka Filep Karma: 'Tidak Ada Jalan Lain, Papua Harus Merdeka'
Soroti demo DOB Papua yang ricuh, Aktivis Filep Karma: "Tidak ada jalan lain, Papua harus merdeka"
Pada medio 1997, ia berangkat ke Manila untuk kuliah selama satu tahun di Asian Institute of Management. Ia tidak menyelesaikan studinya. Karma dikaruniai dua anak.
Pengibaran Bendera dan Penangkapan
Sepulangnya dari Manila, Filep Karma melihat Jawa dibanjiri unjuk rasa melawan Presiden Soeharto.
Ia terlibat dalam pergerakan tersebut dan mulai mengangkat isu pemisahan Papua dari Indonesia.
Pada tanggal 2 Juli 1998, ia memimpin upacara pengibaran bendera Papua Barat di Biak.
Para aktivisnya terlibat rusuh dengan polisi dan mencederai beberapa polisi.
Militer Indonesia menduduki Pulau Biak empat hari kemudian dan menembaki aktivis.
Karma menduga lebih dari 100 pengunjuk rasa tewas dan dikuburkan di pulau-pulau terdekat.
Jumlah korban tewas tidak diketahui secara pasti.
Human Rights Watch memprotes aksi pemerintah Indonesia dan menyebut bahwa beberapa bulan setelah peristiwa ini pemerintah "gagal melaksanakan investigasi serius terhadap insiden ini dan gagal memaksa para pelaku penyiksaan warga di Biak bertanggung jawab".
Kedua kaki Filep Karma terluka akibat peluru karet. Ia kemudian ditangkap, diadili, dan dihukum penjara selama 6,5 tahun atas tuduhan pengkhianatan.
Hukuman dibatalkan di sidang banding setelah Filep Karma dipenjara selama 10 bulan.
Pada 1 Desember 2004, ia berpartisipasi dalam upacara pengibaran bendera kedua yang menandakan ulang tahun kemerdekaan Papua dari Belanda.
Aparat kemanan lagi-lagi diduga menembaki kerumunan dan menewaskan para aktivis pro-kemerdekaan.
Filep Karma kembali ditangkap atas tuduhan pengkhianatan terhadap negara. Kali ini ia ditangkap bersama sesama aktivis Yusak Pakage.