Breaking News
Sabtu, 25 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Konflik Rusia Vs Ukraina

Analisis Pakar Politik, AS dan Sekutunya Tak Pernah Belajar dari Penyerbuan Irak

Robert Inlakesh, seorang analis politik, jurnalis dan pembuat film dokumenter di London, Inggris, AS dan sekutu barat tak pernah

Editor: Aswin_Lumintang
Isitimewa
Perang Rusia dan Ukraina Diperkirakan Terjadi Besok, Ini Akar Masalah Konflik Kedua Negara 

TRIBUNMANADO.CO.ID, LONDON - Robert Inlakesh, seorang analis politik, jurnalis dan pembuat film dokumenter di London, Inggris, AS dan sekutu barat tak pernah mengambil pelajaran dari penyerbuan ke Irak  pada 2003.

Inlakesh yang pernah tinggal di wilayah Palestina yang diduduki Israel, dan saat ini bekerja di Quds News, menyebut invasi AS ke Irak adalah perang yang dibangun di atas kebohongan.

Perang Irak telah menewaskan sebanyak satu juta orang Irak. Publik barat pun melupakan begitu banyak pelajaran yang seharusnya diambil dari bencana serangan ke Irak.

Gambar selebaran ini disediakan oleh Komando Operasi Baghdad Angkatan Darat Irak tertanggal 7 Juli 2021 menunjukkan pemandangan asap membubung dari kendaraan yang hancur di distrik al-Baghdadi di provinsi al-Anbar
Gambar selebaran ini disediakan oleh Komando Operasi Baghdad Angkatan Darat Irak tertanggal 7 Juli 2021 menunjukkan pemandangan asap membubung dari kendaraan yang hancur di distrik al-Baghdadi di provinsi al-Anbar (Komando Operasi Gabungan Angkatan Darat Irak / AFP)

Membangun narasi guna mengesahkan keputusan menyerbu Irak, AS  menarasikan melenyapkan Presiden Irak Saddam Hussein, diperlukan untuk perdamaian dunia.

Alasannya, Saddam Hussein menyimpan dan memiliki senjata pemusnah massal.

Saddam juga dituduh memiliki hubungan dengan Al-Qaeda yang diburu Washington pascaserangan  9/11 ke New York dan  Washington.

Peryataan Perdana Menteri Tony Blair

Perdana Menteri Inggris Tony Blair (saat itu), bahkan menyamakan Saddam Hussein dengan Adolf Hitler. Sentimen anti-Timur Tengah pun saat itu juga sedang tinggi.

Presiden AS George W Bush (saat itu) lewat pidatonya mendeklarasikan “perang melawan terror” yang ia ibaratkan “perang salib”.

Foto mantan Presiden Irak Saddam Husein dan agen CIA John Nixon
Foto mantan Presiden Irak Saddam Husein dan agen CIA John Nixon (NET)

 
Terbukti kemudian, tidak ada satupun tuduhan ke Saddam Hussein yang benar. Ini terlepas dari kejahatan lain yang dilakukan Presiden Irak itu di masa sebelumnya, terutama ke etnis Kurdi dan lawan politiknya.

Namun, tanpa bukti, media barat pun setuju dan menarasikan invasi ke Irak sebagai perang yang adil. Padahal Komisi Ahli Hukum Internasional (ICJ) di Jenewa menyatakan perang itu pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional.

Dalam dua bulan pertama invasi 'Shock and Awe' ke Irak, lebih dari 7.186 warga sipil Irak dikabarkan meninggal dunia.

Namun, pada saat itu, media barat merayakan kemenangan AS-Inggris seolah-olah tidak ada kematian dan kehancuran yang terjadi.

Baca juga: Potret Angie Ang, Presenter Cantik yang Jadi Sorotan Setelah Lakukan Hal ini dengan Marc Marquez

Baca juga: Akhirnya Terungkap Bude Pawang Hujan di Mandalika Ternyata Guru Spiritual Istri Presiden Soeharto

Mereka tidak pernah benar-benar menanyakan di mana senjata pemusnah massal (WMD) yang dimaksud AS.

Peter Van Buren, mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS yang berbasis di Irak selama satu tahun, ditanya apakah media barat telah belajar dari Irak.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved