RHK Rabu 9 Maret 2022
RENUNGAN HARIAN KELUARGA Yesaya 58:6-7 - Puasa yang Sejati
Ayat ini berisi penjelasan mengenai puasa seperti apa yang dikehendaki oleh Allah. Di situ jelas dikatakan bahwa puasa yang dikehendaki oleh Allah
Yesaya 58:6-7
"Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,
supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! "
-----------------------------------------------
TRIBUNMANADO.CO.ID - Ayat ini berisi penjelasan mengenai puasa seperti apa yang dikehendaki oleh Allah. Di situ jelas dikatakan bahwa puasa yang dikehendaki oleh Allah yaitu membuka belenggu belenggu kelaliman, melepaskan tali kuk, dan memerdekakan orang yang teraniaya.
Dan lebih jelas lagi, bahwa ternyata bangsa Israel belum melakukan hal-hal tersebut. Malah sebaliknya, sekalipun mereka berpuasa (tidak makan dan minum), tetapi kelaliman, penindasan, dan penganiayaan menjadi bagian dalam kehidupan sosial mereka pada saat itu.
Itulah sebabnya, Allah tidak/belum mengindahkan puasa mereka. Karena memang, Allah tidak menyukai kelaliman, penindasan, dan penganiayaan sebagai bentuk ketidakadilan.
Di sini, sosok Allah yang adil ditampilkan. Untuk itu, Allah melalui perantaraan nabi, memerintahkan kepada bangsa Israel agar menghentikan perbuatan tercela mereka.
Hal ini kemudian menjadi pengingat bagi keluarga Kristen zaman sekarang untuk selalu mengasihi mereka yang lemah. Mengapa? Karena Allah sendiri pun mengasihi mereka yang lemah ini.
Maka sudah seharusnya kita bahu membahu dan mengulurkan tangan untuk kemudian merangkul mereka demi terwujudnya Kerajaan Allah di muka bumi ini. Konkretnya, melalui puasa diakonal, kita menyisihkan sebagian dari apa yang kita miliki.
Kalau kita memiliki makanan lebih, sudah sewajarnya kita bagikan kepada tetangga kita yang lebih membutuhkan. Atau kita dapat menahan diri membeli barang-barang yang tidak terlalu penting untuk diri kita sendiri dan fokus untuk membantu sesama. Dengan mengamalkan nilai-nilai kehidupan tersebut, maka puasa diakonal yang tengah kita jalani menjadi semakin bermakna dan bernilai di mata Tuhan.
DOA: Bapa kami dalam Sorga, Allah Pengasih juga Penyayang yang mencintai semua ciptaan tanpa terkecuali, tolonglah kami agar dapat mengikuti teladan-Mu melalui tindakan nyata untuk menolong mereka yang tertindas dan lemah dalam hidup ini. Amin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ilustrasi-renungan-555.jpg)