Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Liga Champions

Kekuatan Carlo Ancelotti Melawan Kylian Mbappe, Messi dan Neymar di Santiago Bernabeu

Momen uji coba lapangan yang biasa diberikan kepada tim tamu, PSG saat bertandang ke Santiago Bernabeu

Editor: Aswin_Lumintang
(AFP/ANNE-CHRISTINE POUJOULAT)
Lionel Messi dan Kylian Mbappe 

Laga babak 16 besar Liga Champions melawan Paris Saint-Germain, dengan semua kesulitan, drama, dan intriknya akan memberikan makna yang lebih besar bagi presiden Real Madrid, Florentino Perez daripada 39 pertandingan Madrid lainnya sejauh musim ini.

Pada tahun 2018, Zinedine Zidane mempertaruhkan seluruh karier kepelatihannya dengan memenangkan pertempuran besar seperti ini.
Tidak peduli saat itu Real Madrid finis hampir tertinggal 20 poin di belakang Barcelona di La Liga.

Tapi di Liga Champions, Zidane membawa timnya mengungguli empat klub kelas atas Eropa di babak sistem gugur; PSG, Juventus, Bayern Muenchen dan di babak final mereka mengalahkan Liverpool. Berkat prestasi itu, Zidane langsung dipuji sebagai seorang genius.

Baca juga: Diadu dengan Khabib Nurmagomedov atau Conor McGregor, Begini Tanggapan Kamaru Usman

Baca juga: Pingkan Pijoh, KKP Bitung Lalukan Validasi ke Pelaku Perjalanan Dalam Negeri

Jika kesuksesan di Eropa bisa menjadi alasan kegagalan domestik di Real Madrid, itu bisa dibenarkan.

Namun, memenangkan La Liga pada musim ini saja mungkin dianggap tidak cukup untuk mencegah pertanyaan serius ke mana arah klub akan memutuskan jika PSG menang di pertandingan yang digelar di Santiago Bernabeu.

Ancelotti tahu tuntutan agar dia bisa lebih baik membawa Real Madrid dari siapa pun.

Dia pernah mengalaminya pada tahun 2015, setelah dia sempat memimpin Madrid ke 'La Decima' yang didambakan- dan meraih mahkota Liga Champions ke-10 dia tetap dipecat pada musim berikutnya setelah mereka gagal di Liga Champions.

“Madrid bukanlah klub tempat Kita untuk berakar,” tulisnya dalam bukunya ‘Quiet Leadership’ pada 2017. “Anda hanya pernah menjadi bagian dari proyek.”

Bahkan ketika Real Madrid menunjuk Ancelotti musim panas lalu, rasanya lebih seperti pernikahan, Perez menemukan wali tepercaya untuk memperlancar masa transisi setelah kepergian Zidane dan ketidakpastian keuangan yang disebabkan oleh pandemi.

Ancelotti, sementara itu, meraih kesempatan tak terduga untuk kembali melatih klub level atas.

Dia telah bekerja lebih baik daripada yang mungkin dibayangkan. Kemenangan 4-1 Real Madrid atas Real Sociedad pada hari Sabtu mengirim mereka unggul 8 poin di puncak La Liga, yang musim ini, hampir pasti akan mereka menangkan.

Catatan performa seperti ini, tentu saja Real Madrid diyakini bisa membalikkan defisit 0-1 dari PSG.

Tetapi selama Madrid terus mengandalkan pemain inti berusia tiga puluhan dan pelatih yang mengelola daripada membangun, pertanyaan umum tetap ada: Berapa lama itu bisa bertahan? Dan kemudian, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Gol penentu kemenangan Kylian Mbappe di leg pertama di Paris menggetarkan bagi pendukung Madrid. Banyak yang merasa mereka mendapatkan preview dari dekat seorang pemain yang akan menjadi milik mereka pada musim panas mendatang.

Begitulah kualitas dan daya tarik Mbappe, kedatangannya di Real Madrid akan memberi klub perubahan generasi, superstar berusia 23 tahun yang bisa langsung membangun tim.

Ancelotti tampaknya cocok untuk memperpanjang kontrak pemain seperti Luka Modric, Karim Benzema, Toni Kroos dan Casemiro, yang telah menjadi kunci dominasi Madrid di La Liga. Modric dan Benzema, khususnya, tampil luar biasa sejauh ini.

Dan tidak diragukan lagi para veteran Madrid dapat menemukan perlengkapan yang berbeda ketika musik Liga Champions dimainkan.

Setelah mengalahkan Liverpool musim lalu, Madrid dikalahkan oleh Chelsea. Tahun sebelumnya, mereka secara meyakinkan dikalahkan oleh City.

Inilah tantangan pekan ini bagi Real Madrid saat melawan PSG; bagi Ancelotti dan para pemainnya untuk membuktikan bahwa mereka masih relevan, tidak hanya di Spanyol, tetapi di level tertinggi Eropa.

Kembalinya Lionel Messi bermain di Spanyol juga akan menjadi daya tarik tersendiri. Lionel Messi akan kembali menyambangi markas Real Madrid, Santiago Bernabeu, arena yang cukup sering menjadi saksi kehebatan Messi.

Santiago Bernabeu, tentu bukanlah arena asing bagi penyerang Paris Saint-Germain itu.

Messi sempat 21 tahun main untuk Barcelona. Messi tercatat sudah 22 kali mengunjungi Santiago Bernabeu, semua dilakukannya saat masih berkostum Barcelona.

Messi mengantar Barcelona meraih 12 kemenangan, 3 seri, dan 7 kekalahan. Hasil tersebut tidak menghitung kekalahan 1-2 yang dialami Barcelona di kandang Madrid pada Liga Spanyol musim 2020-2021.

Sebab, kala itu Real Madrid tengah merenovasi Santiago Bernabeu dan berkandang sementara di Stadion Alfredo Di Stefano.

Dalam 22 kesempatan bertamu ke Santiago Bernabeu, Messi telah 15 kali menjebol gawang Real Madrid. Termasuk Hattrick yang dibuatnya di Santiago Bernabeu pada 23 Maret 2014.

Sumber: BolaSport.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved