Konflik Rusia vs Ukraina

Samakan Ukraina dengan Papua, Benny Wenda Buat Pesan untuk Indonesia: Kami Berjuang untuk Bebas

Terkait hal tersebut bahkan warga Indonesia juga tengah menyoroti kedua negara itu.

Editor: Glendi Manengal
ABC.net/Supplied
Benny Wenda 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Konflik Rusia dan Ukraina saat ini tengah menjadi perhatian dunia.

Terkait hal tersebut bahkan warga Indonesia juga tengah menyoroti kedua negara itu.

Sosok Benny Wenda pun turut menyoroti konflik kedua negara tersebut.

Baca juga: Akhirnya Rusia Siap Hentikan Operasi Militer di Ukraina, Asal Ada Syaratnya

Baca juga: Gubernur Sulut Olly Dondokambey Puji Duet Joune Ganda dan Kevin William Lotulung

Baca juga: Abeloni Tabuni Kepala Suku di Desa Ilaga Marah Besar Anaknya Tewas Ditembak KKB,Tidak Usah Datang

Anggota layanan Ukraina terlihat di lokasi pertempuran dengan kelompok penyerang Rusia di ibukota Ukraina, Kyiv, pada pagi hari 26 Februari 2022, menurut personel layanan Ukraina di tempat kejadian.
Anggota layanan Ukraina terlihat di lokasi pertempuran dengan kelompok penyerang Rusia di ibukota Ukraina, Kyiv, pada pagi hari 26 Februari 2022, menurut personel layanan Ukraina di tempat kejadian. ((Photo by Sergei SUPINSKY / AFP) (AFP/SERGEI SUPINSKY))

Konflik antara Rusia dan Ukraina masih memanas.

Hari ini sudah memasuki hari ke 11 invasi Rusia ke Ukraina.

Ditengah perhatian dunia ke Ukraina, Benny Wenda kembali membuat ulah.

Benny Wenda, Presiden Interim United Liberation Movement of West Papua (ULMWP), mengatakan meskipun dunia memerhatikan ketegangan invasi Rusia, warga Papua Barat merasakan kedekatan khusus dengan warga Ukraina.

"Kami merasakan teror mereka, kami merasakan sakit mereka dan solidaritas kami bersama para pria, wanita dan anak-anak.

"Kami melihat mereka menderita dan kami menangisi tewasnya nyawa tak berdosa, pembunuhan anak kecil, pengeboman rumah-rumah mereka, dan untuk trauma para pengungsi yang dipaksa meninggalkan komunitas mereka," ujar Benny Wenda dilansir dari rnz.co.nz.

Benny Wenda menggemparkan Indonesia di tahun 2020 dengan mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara Papua Barat.

Deklarasi itu menjadi bentuk separatisme Papua Barat, dan tidak hanya dikecam Pemerintah Indonesia tapi juga ditolak rakyat Papua.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, saat itu menyatakan bahwa pimpinan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) tersebut tengah merancang negara ilusi.

Menurutnya, deklarasi pendirian negara Papua Barat juga tidak memenuhi syarat.

Misalnya, mengenai keberadaan masyarakat, wilayah, dan pemerintahan, hingga pengakuan dari dunia internasional.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved