Sejarah
Huang Lung, Klub Sepakbola Profesional Pertama di Manado yang Lahir di Kampung Cina
Sofyan Jimmy Yosadi SH, menuturkan, berdirinya klub tersebut tak lepas dari iklim saat itu dimana banyak warga Tionghoa yang menggeluti Sepakbola.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Siapa sangka puluhan tahun lalu, Sepakbola pernah jadi semangat hidup warga Kampung Cina.
Tahun 1950, sejumlah warga Tionghoa di bawah pimpinan Soei Swie Goan (Nyong Loho) mendirikan Klub Sepakbola Naga Kuning (Huang Lung).
Hadirnya klub itu menyemai bibit sepakbola profesional di Kota Manado.
Lebih jauh, klub itu merupakan embrio Persma Manado.
Sofyan Jimmy Yosadi SH, Ketua Komunitas Budaya Tionghoa Sulut menuturkan, berdirinya klub tersebut tak lepas dari iklim saat itu dimana banyak warga Tionghoa yang menggeluti Sepakbola.
"Antusiasme itu ditangkap oleh Nyong Loho dengan membentuk klub Sepakbola," kata dia.
Seperti lazimnya warga Tionghoa, hal memberi nama sangat penting. Nama berkaitan dengan keberuntungan.
Loho memilih nama Huang Lung (Naga Kuning) untuk klub itu.
"Naga artinya besar sedang kuning adalah warna Kaisar yang artinya megah, jadi artinya sesuatu yang besar dan megah," kata dia.
Sesuai namanya, Naga Kuning langsung melejit sebagai klub Sepakbola terkuat dan profesional kala itu.
Berbagai lomba mereka menangkan. Sejumlah atletnya ikut tim nasional.
"Ada atlet yang ikut Ganefo," kata dia.
Dituturkannya, Nyong Loho yang juga dikenal sebagai atlet multi talenta berhasil meniupkan nafas profesionalisme dalam klub itu.
Para pemain Naga Kuning menjadikan Sepakbola sebagai profesi.
"Mereka latihan keras, menjaga kebugaran tubuh, semua serius menggeluti bola, tak ada profesi lain," kata dia.
Sofyan membeber, selain menyemai bibit sepakbola profesional, Naga Kuning juga menyemai bibit pembauran.
Disebutnya, naga kuning membuka pintu untuk pemain dari semua suku di Manado.
"Mereka berbaur tanpa sekat, di kepala mereka hanya ada pikiran bagaimana menjebol gawang lawan," kata dia.
Diungkapnya, Naga Kuning punya banyak pendukung. Kebanyakan bukan orang Tionghoa.
"Hingga kini, nama Naga Kuning masih melekat di benak sejumlah warga Manado," kata dia.
Semenjak kemunculan Naga Kuning, klub-klub sepakbola lain muncul.
Tak lama kemudian, dibentuk Gasram (Gabungan Sepakbola Manado) yang jadi tempat bernaung semua klub Sepakbola di Manado termasuk Naga Kuning.
Gasram kemudian menjadi Persma. Bau Naga Kuning tercium di Persma.
Nyong Loho menjadi Bendahara Persma selama 60 tahun.
Entah kebetulan atau tidak, kostum Persma berwarna kuning, mirip kostum naga kuning.
Yosadi mengenang Nyong Loho sebagai salah satu pembina olahraga profesional terkemuka dalam sejarah Manado.
Loho menghidupi dirinya dengan olahraga dan menghidupkan olahraga.
"Ia punya tokoh olahraga," kata dia.
Dikatakan Yosadi, jejak Loho diteruskan sejumlah warga Tionghoa.
Salah satunya Hengky Wijaya. Hengky pernah jadi manajer Persma di masa jayanya tahun 90 an.
"Kini banyak pula atlet dari cabor selain sepakbola yang jadi atlet serta pembina olahraga Sulut, semua terinspirasi Loho," kata dia.
Rohaniawan Ronny Loho mengaku Nyong Loho adalah Ceknya (paman) nya.
Ia masih ingat kala sang Cek menuju ke tempat latihan bola bersama rekan-rekannya.
"Mereka jalan kaki menuju Sario untuk berlatih bola di sana," kata dia.
Dibeber Ronny, pamannya menyediakan semua fasilitas latihan, dari seragam, bola hingga sepatu.
Para anak didik Loho, kata dia, berumur 10 hingga 17 tahun.
"Anggotanya mulanya orang Tionghoa namun lama kelamaan banyak juga orang Manado yang bergabung," kata dia.
Seingatnya sang Pekhu tidak menjadikan suku sebagai ukuran.
"Pokoknya yang jago ia pasang," kata dia.
Kala itu Ronny masih kecil dan hobi olahraga pula. Namun ia tak memilih sepakbola.
"Saya pilih tenis meja," kata dia.
Dikatakannya, banyak orang Tionghoa yang hobi olahraga. Tenis meja termasuk yang banyak digemari.
"Saya tekuni ini sungguh-sungguh, saya pernah ikut PON," kata dia. (Art)
• Honorer Rencana Dihapus, Ketua DPRD Tomohon Harap Rekrutmen CPNS dan P3K Prioritaskan Nakon K2
• Ingat Mimi Peri? Potret Terbarunya Kini Jadi Sorotan, Berpose bak Bidadari dari Kayangan
• Kondisi Orang yang Dipenjara di Rumah Bupati Langkat, Ketakutan dan Mata Berkaca, Wajah Lebam