Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Prakiraan Cuaca

Penjelasan Stasiun Geofisika Manado Terkait Ina-TEWS, Kolaborasi dengan Lembaga Lain Deteksi Tsunami

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sering mengeluarkan peringatan dini tsunami atau early warning system (EWS)

Penulis: Isvara Savitri | Editor: Chintya Rantung
Isvara Savitri/Tribun Manado
Kondisi ruang pemantauan gempa bumi di Stasiun Geofisika Manado BMKG Sulut yang terletak di Jalan Harapan Nomor 42, Winangun Satu, Malalayang, Manado, Sulut, Rabu (19/1/2022). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sering mengeluarkan peringatan dini tsunami atau early warning system (EWS).

Sistem yang memiliki nama resmi Indonesia Tsunami Early Warning System (Ina-TEWS) ini tak hanya melibatkan BMKG melainkan lembaga lainnya seperti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Informasi Geospasial (BIG).

Menurut keterangan Koordinator Bidang Data dan Informasi Stasiun Geofisika Manado BMKG Sulut Edward Henry Mengko, BMKG hanya membaca pergerakan gempa melalui seismograf.

"Awalnya BMKG mengoperasikan sensor pendeteksi gempa bumi bernama seismograf yang merupakan bagian dari peringatan dini tsunami. Jadi yang BMKG monitor itu sebenarnya gempa buminya," jelas Edward ketika ditemui Tribunmanado.co.id, Rabu (19/1/2022).

Ketika BMKG berhasil menganalisa sinyal getaran yang ditangkap seismograf dan algoritma yang digunakan mengisyaratkan gempa tersebut berpotensi tsunami, BMKG akan segera mengeluarkan peringatan dini tsunami.

Selain seismograf, ada alat pendeteksi tsunami yang berada di tengah laut bernama buoy yang dioperasikan oleh BPPT dan tide gauge yang dioperasikan oleh BIG.

"Jadi beberapa lembaga ini berkolaborasi menyelenggarakan Ina-TEWS," sambung Edward.

Jika gempa berpotensi tsunami, sesuai standar operasional prosedur (SOP) BMKG akan mengeluarkan peringatan dini tsunami paling lambat lima menit setelah gempa.

Informasi tersebut kemudian bisa langsung diakses oleh masyarakat luas.

Di Sulut sendiri ada delapan lokasi yang dipasang seismograf.

Daerah-daerah tersebut ada di Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel); Dumoga, Bolaang Mongondow (Bolmong); Bolaang Mongondow Timur (Boltim); Tondano, Minahasa; Manado; Siau, Kepulauan Sitaro; Naha, Kepulauan Sangihe; dan Melonguane, Kepulauan Talaud.

"Kami estimasikan tahun ini ada penambahan empat lokasi seismograf yaitu di Poigar, Bolmong, Tagulanda, Kepulauan Sitaro; Marore, Kepulauan Sangihe; dan Miangas di Kepulauan Talaud," kata Edward.

Alat-alat pendeteksi gempa yang terdiri dari seismograf, digitizer, modem satelit, antena, serta panel surya membutuhkan perawatan selama beroperasi.

"Jika salah satu alat rusak maka sinyal tak akan diterima dengan baik di sistem kami sehingga harus dirawat secara reguler oleh Pusat Instrumentasi dan Kalibrasi BMKG," sambung Edward.

Edward juga menyebut ada preventife maintenance yaitu sebelum adanya masalah dilakukan kunjungan ke lokasi peletakan seismograf sebanyak satu bulan dua kali.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved