Berita Manado
Mengenal Komunitas Inspire Manado
Ia mengatakan sebenarnya semua program yang dilakukan yaitu mencoba mengubahkan hidup anak didik.
Penulis: Andreas Ruauw | Editor: Rizali Posumah
TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - "We Are Changing Live Through Football, menjadi Selogan Inspire Manado," ujar Direktur Inspire Manado Hein Hoekstra sekaligus pelatih yang berasal dari Belanda.
Ia mengatakan sebenarnya semua program yang dilakukan yaitu mencoba mengubahkan hidup mulai dari sikap, gaya hidup hingga spiritualitas mereka sejak dini.
Sehingga pada saat anak-anak ini mendaftar, orang tua juga melihat bagaimana perkembangan kebiasaan dari anaknya mulai yang buruk hingga menjadi baik.
"Kemudian kebanyakan itu dalam empat bulan para orang tua bisa melihat sikap anaknya yang mendapat perubahan lebih baik dari sebelumnya," katanya.
Inspire Academy juga memberikan kesempatan kepada anak-anak kurang mampu untuk bisa mengikuti latihan sepak bola.
Selain itu melalui para pemain yang lain mereka membantu membiayai SPP dari para pemain kurang mampu tersebut, ada juga sponsor yang turut membantu.
Dan selain SPP ada juga biaya lain seperti seragam, buku, sepatu dll.
"Kami bilang bahwa setiap anak adalah juara, dan kami mau agar mereka bisa mendapat kesempatan yang sama seperti anak-anak dari latar belakang berbeda," ucapnya.
Dia bersama tim Inspire Manado juga mau mendorong sepak bola perempuan.
Karena baginya ini sangat bernilai, sehingga pihaknya pun tertarik untuk buat program khusus bagi perempuan yang ingin dan punya minat serta bakat di olahraga sepak bola ini.
Salah satu tempat latihan ada di Kiban Paniki atas yang merupakan akademi untuk usia 7 - 16 tahun untuk anak laki-laki dan perempuan dengan biaya Rp 100.000 per bulan.
Untuk biaya pendaftaran diganti dengan yang pembelian seragam yang seharga Rp 175.000.
"Selain itu kami juga mempunyai akademi futsal untuk remaja berusia 14 hingga 17 tahun pada hari Selasa dan Jumat, kemudian ada umur 3 sampai 6 tahun yaitu pada hari Sabtu pagi," ujar dia.
Pihakny juga membuka tempat latihan di lembaga pemasyarakatan (Lapas) anak.
"Karena memang kami berkeinginan agar sepak bola juga bisa dinikmati oleh anak-anak narapidana,' terang dia.
"Kami juga memiliki kafe di Megamas yang bernama Second Chance Cafe.
Sehingga nantinya setelah para tahanan yang bebas dari lapas yang merupakan anggota Inspire Academy bakal diberi kesempatan untuk bekerja di Second Chance Cafe tersebut," ujar Hein.
Ia menuturkan untuk saat ini, khusus untuk akademi sepak bola yang dibuka sementara hanya di wilayah Manado dan Bitung.
"Sempat juga membuka akademi di Tomohon tapi karena Covid-19 maka kami berhentikan karena dibatasi," terang dia.
Hein mengungkapkan, tantangan yang ia hadapi selama melatih club-club sepak bola di Indonesia yaitu masih kurangnya dukungan pemerintah.
"Ya kalau di Belanda kita setiap hari Sabtu pasti ada Liga atau kejuaraan yang digelar, namun sayang kalau di Indonesia saya lihat masih jarang," tandasnya.
Ia mengaku, sedikitnya event-event sepak bola di Indonesia disebabkan karena belum adanya dukungan penuh ke daerah-daerah dari asosiasi sepak bola lokal.
Dirinya berharap pemerintah dapat membenahi standar dan kualitas pesepak bola yang ada di dalam negeri terutama di tiap daerah Kabupaten/Kota.
"Semoga kedepannya kita makin banyak fasilitas seperti lapangan sepak bola, dan dukungan dari pemerintah setempat untuk menggelar kejuaraan di tiap usia," kata Hein.
Inspire Manado adalah bagian dari @inspire.indonesia, yang sudah 12 tahun ke belakang menginspirasi komunitas lewat sepak bola.
Inspire Indonesia juga memiliki pemain yang telah bermain untuk Tim Nasional Indonesia, dan juga telah mendapatkan beasiswa ke universitas di Amerika dan Indonesia.
• Kasus Kekerasan Anak Masih Terus Terjadi, Ketua LPAI Sulut: Jangan Takut Melapor
• PDIP Bitung, Gelar Upacara HUT ke 49 di Monumen Trikora Pulau Lembeh
• Manado Independent School Berduka Atas Meninggalnya Grace Karundeng
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/direktur-inspire-manado-hein-hoekstra657.jpg)