Berita Minut
Sejarah Dibangunnya Gereja Tua Malak Minut, Dibangun Dengan Doa Para Pekerja Kayu
Gereja tua Malak. Itu nama sebuah gereja yang berada di perbatasan Desa Laikit dan Matungkas di Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Chintya Rantung
TRIBUNMANADO.CO.ID - Gereja tua Malak.
Itu nama sebuah gereja yang berada di perbatasan Desa Laikit dan Matungkas di Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara, provinsi Sulawesi Utara.
Bentuknya mirip gereja di pedalaman Amerika Serikat.
Kecil, dari kayu dan bangunan lonceng berada di atap tengah.
Memasukinya, ibarat masuki lorong waktu. Bangku, mimbar, lampu, ornamen dan lainnya. Masih kuno.
Berada di dalamnya terasa sensasi beribadah di di masa ketika agama Kristen baru masuk di tanah Minahasa. Beberapa bagian sengnya masih seperti puluhan tahun lalu.
Ada lubang - lubang yang merupakan bekas tembakan pesawat tempur dalam pergolakan Permesta lalu.
Ada lonceng buatan Jerman sejak tahun 1928. Bunyinya sangat keras. Bisa menyentak tiga desa.
Gedung GMIM Malak dibangun hampir sedekade.
Dimulai 1928, selesainya 1930. Gereja ini ditahbiskan oleh Inlandsh Raeeraar Penulong W Kalesaran pada 9 Oktober 1930. Gereja ini telah menjadi cagar budaya.
Ada banyak cerita menarik seputar Gereja ini.
Salah satunya kisah anak anak yang sering memungut koin di kolong gereja tersebut. Kisah menarik lainnya adalah kayu yang didoakan.
Alkisah para pekerja yang memotong kayu untuk pembangunan gereja itu puluhan tahun lalu lebih dahulu berdoa.
Dan doa mereka dijawab. Gereja itu kokoh hingga kini.
Jantje Ngangi, warga setempat, mengatakan, kayu yang digunakan untuk membangun gereja adalah cempaka Wasian. Sebelum memotong kayu, para pekerja memanjatkan doa.
"Mereka berdoa agar Tuhan mengokohkan gereja ini. Doa mereka terwujud," kata dia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/gereja-tua-malak-di-laikit_20160515_093201.jpg)