Selasa, 7 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Nasional

Kisah Sidney Mohede, Masa Lalunya Kelam, Kini jadi Pemimpin Pujian yang Diurapi Tuhan

Sidney memang patut bersyukur, lagu-lagu yang ditulis dalam bahasa Inggris banyak dinyanyikan di gereja gereja di luar negeri.

Penulis: Rhendi Umar | Editor: Rhendi Umar
google
Worship Leader Sidney Mohede 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sidney Mohede adalah salah satu penyanyi rohani di Indonesia.

DIa tak setuju tentang pendapat banyak orang yang bekerja sesuai honor atau gaji.

“Saya pernah dengar begini, kalau saya dapat gaji lima juta, saya baru akan bekerja keras. Kenapa nggak berpikir, saya akan beri yang terbaik bagi pekerjaan saya, soal penghasilan pasti mengikuti. Saya percaya dengan firman Tuhan, bila kita setia dengan perkara kecil Tuhan akan mempercayakan perkara besar,” tuturnya bijak.

Sidney Mohede menceritakan, pada Bulan Mei tahun 1995 dia datang ke Indonesia dari Amerika.

Sidney Mohede
Sidney Mohede (google)

Ia ke Jakarta tanpa kenal satu orang pun dengan tujuan yang menurut manusia pada umumnya.

Pokoknya melayani Tuhan, begitu tekadnya.

“Saya tidak punya saudara di Jakarta, semua ada di Menado. Jadi, saya benar-benar merasa asing. Namun saya percaya Tuhan pasti buka jalan. Dua hari di Jakarta, teman saya orang Indonesia yang tinggal di Amerika menikah di JHCC. Saya datang dan menyanyi. Di sanalah saya kenal musisi Erwin Badudu, Franky Sihombing, Amos Cahyadi, dan Sari Simorangkir” kisahnya takjub.

Satu persatu jalan di buka Tuhan untuk Sidney.

Melalui acara HUT RI ke 50 dengan “tema Jakarta Bersyukur” di Istora Senayan, masyarakat Kristen melihat dan mendengar suara emas ‘penyanyi rohani’ baru bernama Sidney Mohede.

Lalu disusul konser GMB pertama di Pecenongan, Jakarta yang dipenuhi dengan anak muda. Ia pun lalu ikut gabung dengan VOG.

Semakin hari semakin bertambah-tambahlah teman dan pelayanan Sidney.

Melayani Tuhan dengan sungguh membuat Sidney berusaha terus menerus memberi yang terbaik dan bersikap profesional, sebagai ungkapan hormat pada Tuhan.

Ia datang dan menyanyi tanpa pilih-pilih tempat.

“Saya masih ingat pulang pelayanan menerima amplop berisi uang sejumlah Rp. 7.500, Rp.14.000 dan pernah juga amplop kosong bertuliskan, terimakasih atas pelayanannya.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved