Rabu, 15 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Nasional

Ketika Jokowi Ingin Marah saat Rapat Evaluasi Kinerja BUMN, Ahok Tertegun

Pernyataan keras disampaikan Jokowi saat memberikan arahan kepada jajaran direksi dan komisaris PT PLN dan PT Pertamina di Istana Kepresidenan Bogor.

Editor: Frandi Piring
Biro Setpres/Muchlis JR
Presiden Jokowi menyinggung kinerja BUMN. Komisaris PT Pertamina Ahok terdiam saat Pertamina ditegur Presiden. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Ketika Presiden Joko Widodo ( Jokowi ) ingin marah karena kinerja BUMN saat ini.

Presiden Jokowi kembali menegur jajaran direksi BUMN. Pernyataan keras disampaikan Jokowi saat memberikan arahan kepada jajaran direksi dan komisaris PT PLN serta PT Pertamina di Istana Kepresidenan Bogor baru-baru ini.

Awalnya, presiden meminta kedua perusahaan itu mempersiapkan diri untuk menghadapi transisi dari energi fosil ke energi hijau.

Mantan Walikota Solo itu menekankan bahwa PLN dan Pertaminan harus siap menghadapi transisi itu.

“Memang kita tahu bahwa transisi energi ini memang tidak bisa ditunda-tunda.

Oleh sebab itu, perencanaannya, grand design-nya, itu harus mulai disiapkan.

Tahun depan kita akan apa, tahun depannya lagi akan apa, lima tahun yang akan datang akan apa,” ujar Jokowi sebagaimana ditayangkan YouTube Sekretariat Presiden pada Sabtu (20/11/2021).

Pemaparan Jokowi pun berlanjut evaluasi kepada BUMN.

Pertama, persoalan investasi. Menurut Jokowi, hambatan investasi di perusahaan BUMN disebabkan kondisi internal dan bikrokrasi di Indonesia.

Jokowi mengatakan, dia sampai ingin marah saat mengetahui proses investasi yang seharusnya mudah dilakukan tetapi sulit direalisasikan.

"Terus (terang) saya ini orang lapangan ya, saya kadang ingin marah untuk sesuatu yang saya tahu (mudah), tapi kok sulit banget dilakukan. Sesuatu yang gampang tapi kok sulit dilakukan, kok sulit? Enggak jalan-jalan," ujar dia. 

Kepala Negara pun menyebutkan, sebenarnya investasi yang ingin masuk ke Pertamina dan PLN banyak sekali sehingga harus antre.

Akan tetapi, ruwetnya internal BUMN dan birokrasi menjadi penghambat realisasi investasi yang ada.

"Saya minta kondisi-kondisi seperti itu harus terus diperbaiki dengan profesionalisme dari jajaran komisaris dan direksi," kata dia. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved