Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

G30S PKI

Kapten Pierre Tendean, Ajudan Jenderal AH Nasution yang Setia hingga Akhir Hayat, Jadi Korban G30S

Kisah Kapten Pierre Tendean saat G30S PKI 1965. Bertugas sebagai Ajudan Jenderal AH Nasution, Pierre Tendean gugur dalam tugas.

Editor: Frandi Piring
Istimewa.
Pierre Tendean 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kisah Pahlawan Revolusi, Pierre Andries Tendean atau yang dikenal sebagai Kapten Anumerta Pierre Tendean di penghujung hidupnya.

Kapten Anumerta atau Lettu (pangkat terakhir) Pierre Tendean merupakan salah satu perwira TNI yang menjadi korban keganasan pasukan Cakra Birawa dalam peristiwa Gerakan 30 September/PKI (G30S/PKI) tahun 1965 silam.

Bertugas sebagai Ajudan Jenderal AH Nasution, Pierre Tendean gugur dalam tugas.

Pasukan Tjakrabirawa (Cakrabirawa), pasukan pengawal Presiden di era rezim pemerintahan yang menjadi pasukan pembantai dewan Jenderal TNI AD. Dioroma penyerangan terhadap Lettu Pierre Tendean.
Pasukan Tjakrabirawa (Cakrabirawa), pasukan pengawal Presiden di era rezim pemerintahan yang menjadi pasukan pembantai dewan Jenderal TNI AD. Dioroma penyerangan terhadap Lettu Pierre Tendean. (TribunJakarta.com/Lita Febriani)

Ia gugur dengan terhormat, setia mengawal dan melindungi Jenderal AH Nasution hingga akhir hayat.

Meski menjadi korban, Pierre yang saat itu baru berusia 26 tahun sebenarnya bukan target dari pasukan pemberontak tersebut.

Tapi, dia turut menjadi korban demi melindungi pimpinannya, yakni Jenderal AH Nasution yang saat itu merupakan Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan sekaligus Kepala Staf Angkatan Bersenjata.

Kala itu, Pierre merupakan salah satu ajudan Jenderal Nasution yang selalu mendampingi dan akrab dengan keluarga Nasution karena turut bermukim di rumah Nasution yang terletak di Jalan Teuku Umar Nomor 40 di Menteng, Jakarta Pusat.

Dikutip dari tayangan Singkap, Kompas TV, Jumat (1/10/2021), Abie Besman, Editor Buku Biografi Pierre Tendean berjudul Sang Patriot mengatakan, pada umur yang masih muda,

Pierre telah dikenal sebagai bunga bangsa dan setia dengan tugasnya melindungi simbol negara.

"Pierre muda, ganteng, dia tidak punya power sebesar jenderal-jenderal itu, tapi orang ini ada di lubang yang sama dengan mereka," kata Abie.

"Umur segitu dia bisa dikenal sebagai bunga bangsa, dikenal sebagai orang yang meninggal untuk melakukan tugasnya sebagai tentara atau ajudan untuk melindungi simbol negara, AH Nasution," lanjut dia.

Dalam peristiwa nahas itu, Pierre menunjukkan kesetiaannya kepada sang pemimpin yang telah berhasil melarikan diri saat peristiwa penyerangan.

Ketika pasukan tersebut memoncongkan senjata tepat di hadapan Pierre dan mencari keberadaan Jenderal AH Nasution, dengan tegas Pierre mengaku bahwa dirinya adalah sang jenderal.

Pengakuan Pierre itu pun membuat pasukan Cakra Birawa langsung membawa dan menyekapnya di Lubang Buaya, bersama tahanan lainnya.

Jenderal AH Nasution merupakan salah satu sosok yang ditargetkan para pelaku untuk diculik bersama enam orang perwira tinggi TNI lainnya.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved