Selasa, 2 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sejarah Indonesia

Sebelum Peristiwa G30 September 1965, Pemberontakan PKI Madiun Pecah, Para Pimpinan Ditumpas Habis

Sejarah Pemberontakan PKI Madiun 1948. Ketua PKI Musso hingga Amir Syarifuddin jadi dalang.

Tayang:
Editor: Frandi Piring
Wikimedia Commons
Sejarah Pemberontakan PKI Madiun 1948. Ketua PKI Musso hingga Amir Syarifuddin jadi dalang. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sejarah pemberontakan PKI Madiun 1948 yang dipimpin oleh Amir Syarifuddin dan dibantu Musso.

Aksi pemberontakan ini dilatarbelakangi lengsernya Kabinet Amir Syarifuddin pada 1948. 

Kekuasaan Amir Syarifuddin dalam kabinet jatuh setelah penandatanganan Perjanjian Renville yang ternyata berdampak buruk terhadap Indonesia.

Kisah awal hingga akhir pemberontakan yang menewaskan para pimpinan dan anggota setelah misi penumpasan dilakukan aparat keamanan RI.

Latar Belakang

Pecahnya pemberontakan PKI Madiun diawali dengan jatuhnya Kabinet Amir Syarifuddin, karena tidak lagi mendapat dukungan setelah kesepakatan Perjanjian Renville.

Ketua PKI Musso dan Amir Syarifuddin jadi dalang. Sejarah Pemberontakan PKI Madiun 1948.

(Foto: Ketua PKI Musso dan Amir Syarifuddin jadi dalang Pemberontakan PKI Madiun 1948. (Istimewa/Internet)

Dalam perjanjian tersebut Belanda dianggap menjadi pihal paling diuntungkan dan Indonesia yang dirugikan.

Dengan kemunduran Amir ini, Presiden Soekarno kemudian menunjuk Mohammad Hatta sebagai perdana menteri dan membentuk kabinet baru. 

Namun, Amir beserta kelompok sayap kirinya (komunis) tidak setuju dengan pergantian kabinet tersebut, sehingga Amir dan komplotannya berusaha menggulingkan mereka. 

Gerakan Amir ini dibantu oleh Musso, pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pernah belajar ke Uni Soviet. 

Musso menggelar rapat raksasa di Yogya, di sana ia melontarkan pendapatnya tentang pentingnya mengganti kabinet presidensil menjadi kabinet front persatuan.

Musso bersama Amir dan kelompoknya berusaha untuk menguasai daerah-daerah yang dianggap strategis di Jawa Tengah, yaitu Solo, Madiun, Kediri, dan lainnya. 

Rencana awal yang akan dilakukan yaitu dengan melakukan penculikan dan pembunuhan para tokoh di kota Surakarta, serta mengadu domba kesatuan TNI setempat. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved