Tribun Bincang bincang
Cerita Victor Maradona Waloni sebagai Seorang Coffee Roaster
"Dengan keselahan kecil saja, kita bisa merubah kopi yang baik menjadi tidak baik," - Victor Maradona Waloni
Penulis: Rizali Posumah | Editor: Rizali Posumah
TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Banyak dari kita yang tahu pekerjaan di dunia Kopi itu hanya Petani Kopi dan Barista (peracik kopi).
Padahal profesi di bidang kopi ada banyak. Salah satunya Coffee Roaster.
Nah kali ini kita akan bicara tentang Coffe Roaster bersama seorang Coffe Roaster dari Manado, Sulawesi Utara, yaitu Victor Maradona Waloni.
Victor Waloni adalah Ketua Manado Coffee Association (MAC) dan Roaster di Seruput Coffee Company.
Tribun Manado mewawancarai Victor Waloni di tempat usahanya, Seruput Coffee Company, di Lantai 2 Gedung Cella Bakery, Jalan Tikala Ares No 6, Komo Luar, Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sabtu (25/9/2021).
Seperti apa pekerjaan Coffee Roaster itu? Bagaimana suka duka Victor Waloni sebagai seorang Coffee Roaster, apalagi di masa pandemi ini? Bagaima ceritanya hingga Victor tertarik menjadi seorang Coffee Roaster? Berikut jawabannya:
Coffee Roaster itu pekerjaan seperti apa sih?
Sebelum kita bahas lebih dalam ke Roaster, kalau kita bicara soal idustri kopi masih banyak hal-hal lain selain yang teman-teman tahu.
Selama ini mungkin yang lagi ngetren dan banyak teman-teman tahu itu Barista.
Nah kalau untuk kita Roaster itu lebih ke orang yang mempersiapkan si kopinya itu.
Jadi dari petani, kita ambil kopi itu dengan kwalitas yang baik, tentu dengan standarnya kita masing-masing.
Soal standar kopi, itu ada yang namanya speciality coffee, artinya kopi yang telah melewati proses-proses tertentu dengan standar-standar tertentu yang ditentukan oleh SCA (Specialty Coffee Association) Indonesia atau dunia.
Nah kita roaster mengambil itu dan kemudian meroasting (sangrai) kopi itu, atau dalam bahasa Manado songara.
Kita yang sangrai dan kita yang menentukan profilenya yang nanti akan dibuat oleh si Barista.
Soal meroasting kopi, itu ada teknik tersendirinya tidak?
Tentunya kita harus punya pengetahun soal roasting.
Ada banyak sekolah untuk mempersiapkan itu semua, yang mengajari kita, dan kemudian kita bisa mempraktekkannya.
Pengalaman dan belajar adalah kunci untuk menjadi seorang Coffee Roaster.
Kwalitas kopi bisa juga ditentukan oleh Coffe Roaster?
Ya bisa juga. Yang menentukan kwalitas kopi itu baik atau tidak pada awalnya itu petani. Dan kemudian kami Coffee Roaster yang memaksimalkan potensi si kopi itu untuk menjadi lebih bagus.
Dengan keselahan kecil saja, kita bisa merubah kopi yang baik menjadi tidak baik.
Bagaimana awal mula Anda tertarik untuk menekuni bidang Coffe Roaster?
Mungkin sama seperti perjalanan Seruput Coffee Company. Ya kalau boleh jujur-jujuran, setelah menikah saya masih bingung untuk ngapain.
Waktu dulu saya masih kerja bersama orang tua. Setelah menikah semuanya berubah.
Kita coba buat usaha, awalnya bangkrut. Hingga kemudian kita buatlah Seruput Coffee Company.
Awal-awal kita jualan mie sama jualan kopi. Dari situ mulai terbentuk rasa ingin tahu yang besar soal kopi.
Karena semakin hari setelah didalami ternyata kopi ini bikin penasaran.
Istilahnya saya jadi pingin tahu. Ini sebenarnya apa sih yang bisa membedakan cita rasa kopi.
Dan dari situ, dengan pengalaman beberapa tahun akhirnya saya coba belajar lagi.
Belajar, gali lagi setelah barista apa nih yang harus saya kuasai.
Kemudian saya mengambil beberapa sekolah terkait kopi di Bandung, juga pernah ke Thailand dan belajar di sana.
Mungkin karena rasa penasaran yang tinggi dan kecintaan terhadap kopi mungkin.
Kita rencananya, mudah-mudahan kalau jodoh, untuk waktu dekat ini kita akan buat sekolah dengan Asosiasi juga, tapi mungkin masih dalam bentuk workshop-workshop untuk belajar.
Mungkin tahun ini akan bisa direalisasikan, sama teman-teman dari asosiasi yang lain.
Di Manado sendiri sudah banyak teman-teman yang bisa jadi mentor yang qualified untuk bidang kopi.
Waktu kecil sebenarnya ingin jadi apa sih?
Waktu dulu kan jaman SD ditanya guru dan orang tua, kalau besar ingin jadi apa? Saya cuma bilang saya ingin jadi kaya.
Mungkin itu jawaban refleks seorang anak.
Saya berpikir kita diciptakan dari kecil untuk sekolah dan nantinya kita akan kerja, dan dari kerja itu kita akan menghasilkan uang.
Tapi sekarang, berubah. Jadi beriring waktu, goals kita jadi berubah.
Kalau sekarang sih saya hanya ingin menikmati hidup saja sebenarnya. Hidup santai-santai saja, nikmatin kopi setiap hari, ketemu orang baru. Kayaknya begitu aja mungkin sekarang ya, kira-kira.
Jadi kalau mau ditanya cita-cita, tidak ada cita-cita. Karena saya sempat ambil beberapa sekolah.
Saya pernah sekolah di informatika, pernah ambil jurusan bisnis juga, tapi waktu itu masih bingung mau jadi apa.
Sekarang jualan kopi dan kebetulan mungkin passion saya di bidang Food and Beverage (F&B) ya. Karena saya suka sekali dengan masak, setelah itu kopi.
Jadi mungkin cita-cita ya seperti sekarang ini cita-citanya.
Siapa yang menginspirasi Anda hingga tertarik untuk menekuni bidang Coffe Roaster?
Mungkin kalau untuk menekuni bidang Coffe Roaster itu sudah menjadi panggilan. Tapi soal langkah menjalani hidup, mengambil keputusan, itu influence paling besar dari Almarhum papa, dan juga ada Almarhum yang menjadi mentor saya dulu, Kak Chan.
Kedua orang inilah banyak saya ambil ilmunya. Mereka tidak pernah hitung-hitungan soal ilmu dan pekerjaan.
Banyak orang yang bisa menjadi manusia dengan ilmunya mereka, dan dengan suka rela, dengan kebesaran hati mereka mau mengajari kita.
Kalau ayah saya, selalu mentoring sampai sudah nikah saya masih saja dimentoring sama dia.
Jadi mungkin inspirasi dari mereka, untuk tetap terus belajar dan mau sharing dengan orang lain.
Sebagai seorang Coffee Roaster, ada tidak suka dukanya?
Banyak suka dukanya. Apalagi sekarang (red: masa pandemi Covid) PPKM, duka semua itu.
Jadi suka dukanya banyak. Pertama mungkin ya namanya UMKM kecil, kita pasti bergelut dengan modal.
Kalau sekarang kita Seruput Coffee Company sudah memiliki partnership dalam hal ini Cella Bakery, jadi untuk permodalan dan akses untuk ke mana-mana ya bisalah untuk sekarang.
Tapi, suka dukanya secara personal dan sebagai roaster banyak. Kita roaster harus memiliki standarisasi.
Standarisasi yaitu dengan sekolah, dan sekolahnya itu mahalnya minta ampun. Kedua belum tentu lulus. Jadi susah.
Jadi kalau kita mau dalami profesi untuk ambil sekolah lanjutan, lebih baik belajar dulu sendiri, biar kita saat sekolah siap.
Karena seperti tempat saya sekolah dulu di 5758, setelah saya sekolah di situ saya melihat bahwa ini sekolah bukan untuk pemula. Jadi lebih ke orang yang sudah tahu dan mau memperdalam dan bisa qualified di bidang ini.
Ada tidak pengalaman menarik selama menjadi seorang Coffee Roaster?
Banyak. Kalau roaster itu kan kita mengambil banyak kopi nih, dengan banyak jenis dari banyak petani. Kita setiap hari menemukan hal yang beda-beda dari setiap kopi.
Jangankan kita menemukan kopi yang berbeda. Kopi yang sama pun di saat kita meroasting kopi itu dengan profiling yang berbeda, itu akan menghasilkan rasa yang berbeda.
Jadi dengan satu jenis kopi saja kita bisa menciptakan rasa kopi yang nano-nano.
Bagi hidup Anda kopi itu seperti apa sih?
Kopi untuk hidup saya ya kopi itu hidup. Saya dihidupi oleh kopi dan saya hidup dengan kopi.
Saya sangat berterima kasih saya menemukan kopi. Yang kemudian menjadi passion saya berjuang untuk keluarga dan menafkahi keluarga.
Ya bisa dibilang hidup saya sekarang ya kopi.
Pesan untuk tribunners
Pesan saya sih gampang, jangan lupa minum kopi ya.
Jangan lupa minum kopi, bisa jadi antioksidan bisa tambah semangat juga bagi teman-teman yang lemas pagi-pagi.
Kemudian tetap semangat di masa-masa covid dan terus berjuang.
----------------------------
Biodata
Nama: Victor Maradona Waloni
Tempat Tanggal Lahir: Manado, 5 Juli 1986
Riwayat pendidikan
- SD Eben Haezar Manado
- SMP Eben Haezar Manado
- SMA Eben Haezar Manado
- Alumni 5758 Coffee Lab, Bandung.
- Fakultas Ekonomi Unsrat.
Organisasi
- Manado Coffe Association (MAC).
Baca juga: Bincang-bincang Bersama Steldy Runtuwene, Ahli Teknologi Laboratorium Medik di RS Prof Kandou Manado
Baca juga: Bincang-bincang Bersama Sartika Sasmi Ticoalu: Suka Duka Menjadi Pengacara
Baca juga: Bincang-bincang Bersama Allan Doringin, Pelatih Badminton di WBC Manado
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/tribun-bincang-bincang-bersama-victor-maradona-waloni.jpg)