Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kecelakaan Lalu Lintas

Kecelakaan Tadi Pukul 11.10 WIB, Mobil PNS Tabrak Pembatas hingga Terbalik di Depan Polda Metro Jaya

Terjadi kecelakaan lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan pada Jumat tadi siang.

Editor: Glendi Manengal
Twitter @tmcpoldametro
Kecelakaan tunggal mobil honda civic terbalik di depan pintu masuk polda metro jaya 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Terjadi kecelakaan lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan pada Jumat tadi siang.

Peristiwa tersebut merupakan kecelakaan tunggal sebuah mobil.

Akibat kecelakaan tersebut mobil dengan merek Honda Civic terguling.

Baca juga: Iseng Main Tinder, Gadis Ini Malah Dilamar, Lihat Momen Pertama Bertemu Setelah 18 Bulan LDR

Baca juga: Peringatan Dini BMKG Besok Sabtu (18/9/2021), Ini Daftar Wilayah yang Potensi Alami Cuaca Ekstrem

Baca juga: Tanda-tanda Kematian Bisa Dilihat 40 Hari Sebelum Ajal, Tubuh Akan Merasakan Ini

Sebuah mobil Honda Civic berpelat nomor B 1583 KES terguling di depan pintu masuk Polda Metro Jaya di Jalan Jenderal Sudirman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (17/9/2021) siang. (Tribun Jakarta)

Sebuah mobil Honda Civic berpelat nomor B 1583 KES terguling di depan pintu masuk Polda Metro Jaya di Jalan Jenderal Sudirman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (17/9/2021) siang.

Kasi Yanmas Laka Polda Metro Jaya Kompol Eko Setio Budi Wahono mengatakan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.10 WIB.

"Kecelakaan tunggal, out of control," kata Eko Setio saat dikonfirmasi.

Mobil Honda Civic itu dikemudikan oleh seorang pria yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) berinisial RS (23).

Kompol Eko menjelaskan, kecelakaan tunggal itu bermula ketika RS melaju dari arah utara menuju selatan di Jalan Jendral Sudirman.

"Dia melaju dengan kecepatan sekira 70 Km/jam," ujar Eko.

Saat melintas di depan Polda Metro Jaya, pengendara Honda Civic tersebut hendak mengambil jalur lambat.

"Karena kaget, pengendara berusaha membanting ke kiri dan mengerem. Namun masih tidak dapat mengendalikan lajunya kendaraan, sehingga menabrak separator jalan dan terbalik," ungkap Eko.

Akibat kecelakaan itu, mobil korban mengalami kerusakan parah. Sementara, pengendara berinisial RS mengalami luka-luka.

RS masih menjalani perawatan dan akan diperiksa terkait penyebab kecelakaan tersebut.

Kasus kecelekaan mantan Bos Jeep Indonesia

Hasil investigasi dan keputusan yang dikeluarkan oleh pihak pemegang merek kendaraan Jeep global, Stellantis terkait insiden yang melibatkan mantan bos Jeep Indonesia, diklaim tidak logis atau sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Jeep GC Summit 2015 kecelakaan, Kamis (15/7/2021). (Via Kompas.com)

Sebab, bila melihat kondisi mobil yang dikendarai yaitu Jeep Grand Cherokee Summit pada 15 Juli 2021 lalu, terjadi kerusakan parah tetapi fitur keamanan yaitu kantung udara alias airbag tidak ada satupun yang aktif.

Bahkan sebelum membentur truk kontainer akibat pindah lajur sesaat ada satu unit Toyota Avanza yang ngerem mendadak di depannya, pengemudi langsung melakukan hard braking guna mengurangi laju mobil secara signifikan.

"Jadi, saya kecewa dengan tanggapan dari mereka. Saya menilai bahwa hal ini karena tidak ada korban jiwa ataupun cedera akibat kecelakaan tersebut," ujar CEO Garansindo Distributor Indonesia (GDI) Muhammad Al Abdullah atau biasa disapa Memet kepada Kompas.com, Jumat (17/9/2021).

"Saya sangat yakin apabila (jangan sampai ya) ada korban jiwa pasti berbeda tangggapan mereka," lanjut mantan bos Jeep Indonesia tersebut.

Oleh karenanya, ia akan membawa kasus terkait ke ranah hukum agar dapat hasil yang adil sekaligus terbuka. Kini, Memet sedang berkonsultasi dengan kuasa hukum miliknya.

"Minggu depan saya akan meeting dengan lawyer saya. Langkah apa yang akan kita ambil berikutnya, nanti dikabarkan lagi," katanya.

Sebelumnya, Stellantis selaku pabrikan otomotif global yang dibentuk dari merger perusahaan Italia bersama Amerika, Fiat Chrysler Automobiles (FCA) dan PSA Group telah merilis hasil investigasi mengenai kecelakaan tunggal yang dialami Memet dua bulan lalu.

Berdasarkan investigasi teknis, mereka tidak bertanggung jawab dalam insiden tersebut karena tak ditemukan kesalahan manufaktur meski airbag gagal untuk mengembang atau berfungsi sebagaimana mestinya.

"Tidak ada tanggung jawab manufaktur yang ditemukan dalam insiden ini. Seat belt yang merupakan Safety Restraint System utama menjadi sistem penahan keamanan utama pada saat kejadian," kata COO PT DAS Dhani Yahya mengutip pernyataan resmi prinsipal.

kondisi mobil Jeep GC Summit 2015 kecelakaan, Kamis (15/7/2021). (Via Kompas.com)

Adapun alasan airbag tidak mengembang karena laju perlambatan yang diperlukan untuk mengaktifkannya tidak terpenuhi. Meski demikian, pengaman lainnya seperti sabuk pengaman tetap berkerja maksimal meredam benturan.

Area tabrakan berada di bagian atas dari area fokus sensor tersebut berkerja, dengan energi benturan yang dihamburkan oleh berbagai struktur lembaran logam. Oleh karena itu, laju perlambatan yang diperlukan untuk mengaktifkan airbag system tidak terpenuhi.

"Dengan temuan ini, kami harap pertanyaan penyebab insiden sudah dapat terjawab dan sekali lagi kami sangat bersimpati atas insiden terkait. Kami siap membantu konsumen untuk memperbaiki kendaraan sampai selesai," ujar Dhani lagi.

(Tribunjakarta.com/Kompas.com)

Artikel ini telah tayang di TribunJakarta.com

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved