Selasa, 21 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Internasional

Sosok Sirajuddin Haqqani, Mendagri Afghanistan yang Diburu Amerika, Kepalanya Dihargai Rp 144 Miliar

Dalam daftar menteri yang diumumkan terdapat nama-nama yang selama ini paling dicari FBI Amerika.

Editor: Rhendi Umar
tribun medan
Sosok Sirajuddin Haqqani, Mendagri Afghanistan yang Diburu Amerika, Kepalanya Dihargai Rp 144 Miliar 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Dalam daftar menteri yang diumumkan terdapat nama-nama yang selama ini paling dicari FBI Amerika.

Dia adalah Sirajuddin Haqqani, yang menjabat Menteri Dalam Negeri Islam Emirat Afghanistan.

Sirajuddin Haqqani adalah pemimpin Faksi/Jaringan Haqqani, faksi terkuat dalam tubuh Taliban.

Sirajuddin Haqqani menjadi penerus ayahnya, Jalaluddin Haqqani yang tewas serangan drone Amerika.

Amerika memburu Sirajuddin Haqqani yang diyakini berusia akhir 40-an atau awal 50-an dan kepalanya dihargai 10 juta dolar AS atau sekitar Rp 144 miliar.

Sirajuddin Haqqani bersama pamannya Khalil Ur-Rahman Haqqani masuk dalam daftar buron Amerika sejak Februari 2011, dan hingga saat ini namanya masih berada dalam daftar teroris PBB.

Nyawa Khalil Ur-Rahman Haqqani dihargai 5 juta dolar AS atau sekitar Rp 72 miliar.

Sirajuddin Haqqani dicari FBI, karena keterlibatannya dalam serangan bunuh diri dalam perang dua dekade di negara itu - termasuk ledakan bom truk di Kabul pada 2017 yang menewaskan lebih dari 150 orang.

FBI juga memburu Sirajuddin Haqqani terkait serangan tahun 2008 di sebuah hotel yang menewaskan seorang Amerika. 

PM Sementara Mullah Mohammad Hassan Akhund didampingi dua deputi yakni: Deputi Pertama Mullah Abdul Ghani Baradar dan Mawlawi Abdul Salam Hanafi.

Mullah Mohammad Hassan Akhund menjabat Wakil Menteri Luar Negeri Taliban dari tahun 1996 hingga 2001.

Pengangkatan Mullah Mohammad Hassan Akhund sebagai PM Sementara dipandang sebagai kompromi, setelah mendapat tekanan dari beberapa tokoh garis keras Taliban.

Sebelumnya, nama Mullah Abdul Ghani Baradar digadang-gadang sebagai kepala eksekutif yang dianggap lebih moderat dari Mullah Mohammad Hassan Akhund. 

Sedangkan Menteri  Pendidikan Taliban, Sheikh Molvi Noorullah Munir, mengatakan bahwa gelar PhD dan Master tidak berharga karena para mullah (sebutan pemimpin Afghanistan) tidak memilikinya, namun mereka adalah 'yang terbesar dari semuanya'.

"Tidak punya gelar PhD, gelar Master sangat berharga hari ini. Anda lihat bahwa para mullah dan [pemimpin] Taliban yang berkuasa, tidak memiliki gelar PhD, MA atau bahkan SMA, tetapi adalah yang terbesar dari semuanya," katanya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved