Breaking News:

Penyidik KPK Memeras

Lili Pintauli Siregar Dapat Sanksi Pemotongan Gaji Sebesar 40 Persen Selama 12 Bulan 

Putusan Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi yang menjatuhkan sanksi berat kepada Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar

Editor: Aswin_Lumintang
ANTARA FOTO/AKBARr NUGROHO GUMAY
Anggota Dewan Pengawas KPK Syamsuddin Haris bersiap mengikuti upacara pelantikan Pimpinan dan Dewan Pengawas KPK di Istana Negara, Jakarta, Jumat (20/12/2019). Presiden Joko Widodo resmi melantik lima orang Dewan Pengawas KPK periode 2019-2023 yaitu Artidjo Alkostar, Harjono, Syamsuddin Haris, Tumpak Hatorangan Panggabean dan Albertina Ho. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Putusan Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (Dewas KPK) yang menjatuhkan sanksi berat kepada Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar berupa pemotongan gaji sebesar 40 persen selama 12 bulan tetap menuai pro kontra di publik.

Ada yang menyatakan sudah sesuai ketentuan. Namun, ada juga yang menyebut putusannya masih ringan.

Dalam putusannya, Dewas KPK menyatakan Lili terbukti melanggar etik dan pedoman perilaku lantaran menyalahgunakan pengaruh sebagai pimpinan KPK dan berkomunikasi dengan Wali Kota nonaktif Tanjungbalai M Syahrial.

Padahal, KPK sedang mengusut dugaan jual beli jabatan di lingkungan Pemerintah Kota Tanjungbalai yang menyeret nama Syahrial.

Lili Pintauli Siregar, Wakil Ketua KPK
Lili Pintauli Siregar, Wakil Ketua KPK (tribunnews)

Ketua Dewas KPK Tumpak Hatorangan Panggabean menyatakan, pihaknya tidak akan meneruskan pelanggaran kode etik Lili ke ranah pidana.

"Apakah nanti Dewas akan menyampaikan? Oh tidak. Dalam putusan kami tidak sampaikan seperti itu. Kalau dibaca putusan secara baik-baik itu jelas kami sampaikan kami tidak masuk dalam area perbuatan pidana sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 36 juncto Pasal 45 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 juncto Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019," kata Tumpak saat jumpa pers di Gedung ACLC KPK, Jakarta Selatan, usai pembacaan putusan, Senin (30/8/2021).

Tumpak menerangkan, dalam kasus ini, Lili mengakui perbuatannya tapi memang tidak menyesal.

Hal itu karena Lili tidak merasa bersalah atas apa yang sudah dilakukannya.

"Saya sampaikan bahwa yang bersangkutan mengakui perbuatannya, satu lagi, tidak menyesal. Itu dua hal yang berbeda. Perbuatannya diakui tetapi tidak ada penyesalan terhadap perbuatan itu. Saya pikir Anda bisa bedakan itu, ada dua hal yang berbeda, perbuatan diakui tetapi tidak ada penyesalan. Mungkin merasa bahwa itu tidak salah sehingga tidak menyesal," ungkapnya.

Sementara itu, Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Zaenur Rohman menilai perbuatan Lili yakni berhubungan dengan pihak yang beperkara dengan KPK merupakan pelanggaran berat kode etik KPK.

Baca juga: Masih Kenal Ruslan Buton? Mantan Anggota TNI yang Minta Jokowi Mundur, Ditinggal Mati Istri

Baca juga: Update Situasi Terkini di Afghanistan, Info Terbaru Terkait Serangan di Kabul

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved