Konflik di Afghanistan

Joe Biden, Donald Trump dan Ashraf Ghani Disebut Pengkhianat oleh Jenderal Tentara Afghanistan

Afghanistan saat ini tengah menjadi perhatian dunia setelah Taliban berhasil merebut kekuasaan.

Editor: Glendi Manengal
AFP Jim Watson/Brendon Smialowski/Kantor Pers Presiden Afghanistan
Mantan Presiden AS, Donald Trump, Presiden AS, Joe Biden, dan Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani. (AFP Jim Watson/Brendon Smialowski/Kantor Pers Presiden Afghanistan) 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Afghanistan saat ini tengah menjadi perhatian dunia setelah Taliban berhasil merebut kekuasaan.

Seperti yang diketahui Ashraf Ghanis yang saat itu menjabat sebagai Presiden melarikan diri.

Hingga para pasukan Amerika Serikat ditari Presiden Joe Biden.

Terkait hal tersebut jenderal tentara Afghanistan menyebut pengkhianat.

Baca juga: Masih Ingat Ade Londok? Dulu Viral Karena Odading Lalu Jadi Artis Dadakan, Ini Kabarnya Sekarang

Baca juga: Sosok Yahya Waloni, Penceramah yang Ditangkap Karena Dugaan Ujaran Kebencian, Dulu Pindah Agama

Baca juga: Buntut Foto Mesra, JKT48 Keluarkan Zahra Nur Khaulah dan Beri Sanksi Chika JKT48

Inilah sosok jenderal tentara Afghanistan, Sami Sadat, yang sebut Donald Trump, Joe Biden, dan Ashraf Ghani sebagai pengkhianat.

Jenderal tentara Afghanistan, Sami Sadat, baru-baru ini membeberkan tiga sosok yang ia nilai sebagai pengkhianat dan menjadi penyebab runtuhnya negaranya.

Hal ini ia sampaikan dalam opini yang ditulisnya di New York Times.

Dikutip dari The Independent, Sadat membeberkan alasan mengapa pasukannya gagal melawan Taliban saat kelompok itu mulai mengambilalih kekuasaan pemerintahan.

Alasan yang pertama dimulai dari adanya perjanjian damai pemerintahan Donald Trump dengan Taliban yang dibuat di Doha, Qatar, pada Februari 2020.

Kesepakatan itu dinilai Sadat telah menghancurkan negaranya karena ada persyaratan untuk penarikan AS tanpa pembagian kekuasaan konkret antara Taliban dan pemerintah Afghanistan.

Menurut Sadat, kesepakatan itu memberi tenggat waktu bagi kehadiran AS di negara itu, yang memungkinkan Taliban menunggu dan merebut kembali Afghanistan begitu pasukan Amerika pergi.

Alasan kedua, karena pemerintahan Joe Biden terus melanjutkan rencana pemerintahan Trump untuk menarik kembali pasukan serta ribuan kontraktor militer yang penting untuk mempertahankan pasokan bagi pasukan dan tekonologi seperti helikopter dan drone.

"Saya sedih melihat Tuan Biden dan pejabat Barat menyalahkan Angkatan Darat Afghanistan karena keruntuhan negara kami, tanpa menyebutkan alasan mendasar yang terjadi," katanya.

"Perpecahan politik di Kabul dan Washington mencekik tentara dan membatasi kemampuan kami untuk melakukan pekerjaan," imbuhnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved