Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Masih Ingat

Ingat Arteria Dahlan? Kini Pasang Badan Bela Kenyataan di Era Jokowi, Singgung Perbuatan SBY

Arteria Dahlan meminta agar publik melihat sisi lain dari polemik pengecatan pesawat kepresidenan dari warna biru putih mejadi merah putih.

Editor: Frandi Piring
Kompas.com/Kristian Erdianto
Kabar terbaru Arteria Dahlan. Kini singgung SBY soal warna Pesawat Kepresidenan RI. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Masih ingat Arteria Dahlan, anggota DPR RI Fraksi PDIP?

Kabar terbaru, Arteria Dahlan meminta agar publik melihat sisi lain dari polemik pengecatan pesawat kepresidenan dari warna biru putih mejadi merah putih. 

Politisi PDIP ini pasang badan bela Presiden Jokowi terkait pesawat kepresidenan yang kini berwarna merah putih.

Anggota fraksi PDI Perjuangan DPR RI Arteria Dahlan.
Anggota fraksi PDI Perjuangan DPR RI Arteria Dahlan. (Tribunnews.com/ Chaerul Umam)

Menurutnya, penggantian warna itu justru menunjukkan identitas diri Indonesia di kancah Internasional karena merah putih merupakan warna bendera Indonesia. 

"Justru kalau mau kita jujur dan hadirkan perdebatan yang harusnya dipermasalahkan itu dulu jamannya Pak SBY, kok pesannya warnanya biru?

Padahal memungkinkan untuk memesan warna merah putih.

Tapi kami beradab dan berpikiran positif saja," kata Arteria dalam keterangan tertulis, Rabu (4/8/2021). 

Ia menyebut, berdasarkan laporan dari Menteri Sekretariat Negara Pratikno, pekerjaan ini sebenarnya sudah direncanakan pada tahun 2019.

Selain itu, pengerjaan itu merupakan satu paket pengerjaan pengecatan dengan Heli Kepresidenan Super Puma yang lebih dulu dikerjakan. 

"Tentu saja anggaran untuk pengerjaan ini sudah dibahas dengan DPR, dan disetujui tahun 2019.

Aneh saja kalau sekarang ada anggota DPR atau parpol di DPR yang mengkritiknya.

Lah dulu saat dibahas, kenapa tak ditolak, bahkan mereka tidak ada mempermasalahkan sedikitpun kala itu?" ujarnya.

Ia menjelaskan, yang harus dipahami bahwa pengerjaan pengecatan itu dilakukan oleh kontraktor yang dibayar pemerintah.

Kemudian, mereka ini memperkerjakan warga negara Indonesia juga.

Artinya, negara justru menggerakkan perekonomian rakyat lewat pekerjaan pengecatan pesawat itu. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved