Internasional
Kisah Musashi Miyamoto Samurai Terhebat Jepang, Kalahkan Ahli Pedang Dengan Kayu Dayung
Satu di antara samurai terhebat yang dimiliki Jepang adalah Musashi Miyamoto (1584 – 1645)
TRIBUNMANADO.CO.ID- Jepang sangat dikenal dengan kehebatannya menggunakan pedang.
para prajurit jepang atau yang dikenal dengan samurai menggunakan pedang sebagai senjata mereka.
Satu di antara samurai terhebat yang dimiliki Jepang adalah Musashi Miyamoto (1584 – 1645).
Baca juga: Apa Itu Hocho? Pisau Dapur Jepang Para Chef, Desainnya Terinspirasi dari Pedang Para Samurai
Kehidupan Samurai Terhebat Sepanjang Masa Musashi Miyamoto.(ist)
Dia merupakan pendekar pedang legendaris yang berkeliling Jepang selama bertahun-tahun menantang dan mengalahkan setiap lawan yang ditemuinya.
Setelah berduel dengan semua pendekar pedang paling terampil di Jepang, dia menulis sebuah buku tentang disiplin ilmu pedang: 'A Book of Five Rings.'
Legenda Musashi hidup melalui tulisan-tulisannya, kisah hidupnya, dan sekolah kenjutsu atau ilmu pedang yang ia dirikan.
Berikut 7 fakta mengenai Mushashi Miyamoto:
Baca juga: Penjelasan Tentang Prajurit Tradisional Jepang: Samurai, Ninja hingga Ronin
Dia Mengalahkan Seorang Ahli Pendekar Pedang Dengan Pedang Kayu.(ranker)
1. Kelahiran dan Berkenalan dengan Pedang
Merujuk kepada buku Go Rin No Sho, Musashi lahir sekitar 1584 di desa Miyamoto, Provinsi Harima. Nama kecilnya adalah Bennosuke atau Takezo.
Ayah Musashi adalah Shinmen Munisai. Seorang seniman bela diri dan pengguna senjata jitte yang sering dipakai polisi zaman Edo.
Sejak usia tujuh tahun, Musashi diasuh oleh pamannya, Dorinbo, seorang biksu di Kuil Shoreian, tiga kilometer dari Hirafuku.
Dorinbo dan Tasumi, pamannya yang lain, mengajari dia agama Buddha dan pendidikan dasar seperti menulis dan membaca.
Adapun untuk ilmu bela diri, Musashi sudah menerima cara menggunakan jitte dari sang ayah, hingga Munisai meninggal pada 1592.
Baca juga: Sales Diancam Dibunuh Bosnya Pakai Samurai, Rico Pujianto Disekap dan Dianiaya Selama 3 Hari
Musashi Miyamoto.(Vagabond Wiki)
2. Duel Pertama
Jika merujuk kepada ceritanya di Go Rin No Sho, lawan pertama Musashi adalah samurai bernama Arima Kihei, pengguna Kashima Shinto-ryu ketika dia berusia 13 tahun.
William Scott Wilson, penerjemah samurai terkenal berkata, Kihei pada saat itu berkelana untuk mempertajam ilmu berpedangnya.
Di Hirafuku, Kihei mengunggah tantangan publik, yang kemudian ditanggapi Musashi dengan menuliskan namanya sendiri di kertas.
Seorang pembawa pesan lalu datang ke kuil Dorinbo di mana Musashi tinggal, dan memberi tahu bahwa tantangannya telah diterima oleh Kihei.
Dorinbo terkejut. Kepada Kihei, dia meminta agar pertarungan dengan keponakannya dibatalkan mengingat usia Munisai masih belia.
Kihei menolak. Dia berkata satu-satunya jalan adalah Musashi harus datang saat hari pertarungan, dan minta maaf secara langsung.
Jadi, saat hari pertarungan tiba, Dorinbo meminta maaf atas nama Musashi. Di luar dugaan, Musashi malah berteriak menantang Kihei.
Kihei yang marah kemudian menyerang Musashi menggunakan wakizashi. Namun, Musashi melempar Kihei hingga terjengkang.
Saat Kihei berusaha bangun, Musashi langsung memukulnya tepat di antara dua matanya, dan kemudian memukul hingga tewas.
"Arima konon adalah samurai yang arogan, selalu bersemangat dalam pertarungan, dan bukan samurai yang terlatih," kata Wilson.
3. Mengembara
Di 1599, diperkirakan saat itu usianya 16 tahun jika mengacu duelnya dengan Arima, Musashi meninggalkan desa dan mengembara.
Dalam pengembaraan, diketahui Musashi terlibat dalam banyak pertarungan. Salah satu duel terkenalnya adalah melawan Tadashima Akiyama dari Provinsi Tajima.
Pada 1600, ketika pertempuran antara Klan Toyotomi dan Klan Tokugawa pecah, Musashi memihak Toyotomi, dan bergabung dengan Pasukan Barat dengan nama Klan Shinmen.
Konon, dia terjun dalam berbagai medan. Antara lain serangan dalam memperebutkan Istana Fushimi pada Juli 1600.
Kemudian, dia melindungi Kastil Gifu pada Agustus 1600, dan terakhir adalah Pertempuran Sekigahara yang terjadi pada 21 Oktober 1600.
Setelah pertempuran, Musashi sempat menghilang, dan kemudian dilaporkan berada di Kyoto pada usia sekitar 20 atau 21 tahun.
Saat itu, dia menantang murid-murid dari Sekolah Pedang Yoshioka yang pada saat itu adalah satu dari delapan perguruan bela diri terkenal di Kyoto.
Ayahnya pernah bertarung dengan pemilik perguruan itu, dan menang dua dari tiga ronde di hadapan Shogun Ashikaga Yoshiaki, yang memberi julukan "Tak Tertandingi di Bumi" kepada Munisai.
Awalnya, Musashi menantang kepala perguruan, Yoshioka Seijuro, yang kemudian menyepakati duel dilakukan di Rendaiji.
Saat hari pertarungan, Musashi datang terlambat yang kemudian menuai kemarahan dari Seijuro hingga dia tak bisa mengendalikan gaya berpedangnya.
Ketika mereka berhadapan, dengan mudah Musashi menghancurkan bahu kiri Seijuro yang mewariskan perguruan ke adiknya, Yoshioka Denshichiro.
Denshichiro menantang Musashi untuk balas dendam. Dia menggunakan tongkat besi. Namun, untuk kedua kalinya, Musashi datang terlambat.
Ketika Musashi melihat senjata Denshichiro, dia melucutinya, dan mengalahkannya sehingga membuat keluarga Yoshiaki marah.
Kali ini kepala baru perguruan, Yoshioka Matashichiro, melakukan manuver dengan membawa pasukan berisi ahli pedang dan pemanah.
Kali ini, Musashi datang lebih awal beberapa jam. Dia bersembunyi, dan melakukan serangan mendadak serta membunuh Matashichiro.
Musashi berusaha melarikan diri dari kepungan pengikut keluarga Yoshioka.
Untuk melawan mereka, dia terpaksa menarik pedang keduanya, sehingga muncul aliran dua pedang atau niten'ichi.
Setelah meninggalkan Kyoto, beberapa dokumen menceritakan Musashi sempat berkunjung ke Hozoin di Nara. Di mana dia berduel dan belajar dari biksu setempat.
Antara 1605-1612, dia bepergian ke seluruh Jepang sebagai musha shugyo, atau samurai peziarah yang mengasah kemampuan lewat duel.
Selama berkeliling Jepang itu, Musashi telah melakukan duel sebanyak 60 kali dan tak terkalahkan menggunakan bokken atau pedang kayu.
Di 1611, Musashi mulai mempelajari seni meditasi atau zazen di kuil Myoshin-ji di mana dia bertemu Nagaoka Sado, abdi samurai bernama Hosokawa Tadaoki.
4. Tak Terkalahkan dalam 60 Duel
Duel di Jepang awal abad ke-17 seringkali berakibat fatal.
Miyamoto Musashi menghabiskan sebagian besar hidupnya bepergian ke seluruh Jepang untuk terlibat dalam duel dan membantai banyak master.
Melalui kampanye pertempuran terus-menerus ini, Musashi menyempurnakan keterampilannya dan bangkit menjadi pendekar pedang terhebat dalam sejarah Jepang.
5. Dia Mengalahkan Seorang Ahli Pendekar Pedang dengan Pedang Kayu yang Diukir dari Dayung
Dalam duel Musashi yang paling terkenal, dia berhadapan dengan Sasaki Kojiro , yang juga dikenal sebagai Iblis dari Barat.
Kojiro adalah samurai yang ideal dalam banyak hal: dia sangat dihormati dan dilatih secara klasik di sekolah Chujo-ry.
Duel ditetapkan untuk pagi hari tanggal 13 April 1612, di pulau Funashima.
Namun, ketika saatnya tiba, Musashi tidak ditemukan di mana pun.
Ketika Musashi akhirnya tiba, sengaja terlambat, dia kusut dan memegang bokken (pedang kayu) yang dia buat dari dayung yang dia temukan di atas perahu untuk berduel.
Membuat lawan menunggu adalah taktik psikologis yang tak terpisahkan dari strategi pertempuran Musashi.
Kojiro sangat marah dengan sikap tidak hormat ini.
Dia dikatakan telah membuang sarungnya dalam kemarahan, yang ditanggapi Musashi, "Jika kamu tidak lagi menggunakan sarungmu, kamu sudah mati."
Musashi telah mengukir bokkennya menjadi beberapa inci lebih panjang dari no-dachi milik Kojiro, memungkinkan kemenangan Musashi.
6. Memenangkan Duel Pertamanya Ketika Berusia 13
Sementara Musashi adalah seorang pemuda yang tinggal di kuil Zen bersama pamannya, samurai pengembara Arima Kihei datang mencari penantang.
Kihei, dari sekolah kenjutsu Shinto-Ryu, melakukan perjalanan dari kota ke kota memberikan tantangan terbuka kepada siapa saja yang akan berduel dengannya.
Ketika Musashi yang berusia 13 tahun menantangnya, dia tidak menganggap serius bocah itu.
Keesokan harinya, pada saat duel, Musashi menjatuhkan lawannya ke tanah dan memukulinya dengan pedang kayunya – yang dikenal sebagai bokuto – sampai Kihei tewas dalam genangan darahnya sendiri.
7. Masa Tua dan Kematian
Pada 1633, Musashi tinggal bersama daimyo (penguasa) Istana Kumamoto, Hosokawa Tadatoshi yang ironisnya, merupakan tuan dari Sasaki Kojiro.
Musashi meninggal diperkirakan pada usia 60 tahun di gua bernama Reigando pada 13 Juni 1643, dan diyakini menderita kanker paru-paru.
Saat dia meninggal, Musashi baru saja merampungkan buku Dokkodo berisi 21 aturan tentang kedisiplinan diri bagi generasi masa depan.
Jenazahnya dimakamkan menggunakan baju zirah di desa Yuge, dekat jalan utama Gunung Iwato, adapun rambutnya ditanam di Iwato.
Artikel ini telah tayang di intisari.id dengan judul 3 Fakta Mematikan Musashi Miyamoto, Samurai Jepang Terhebat Sepanjang Masa yang Kalahkan 'Iblis dari Barat' dan di Kompas.com dengan judul "Biografi Tokoh Dunia: Miyamoto Musashi, Ahli Pedang Legendaris Jepang"
Berita lain terkait Samurai