Sabtu, 9 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

HUT 398 Kota Manado

UMKM Manado Terpuruk di Masa Pandemi, Emi Minta Perhatian Pemerintah Kota

Wali Kota Manado Andrei Angouw menekankan sikap gotong royong menghadapi pandemi.

Tayang:
Penulis: Isvara Savitri | Editor: maximus conterius
Tribun Manado/Isvara Savitri
Ema, pedagang kuliner di kawasan Megamas Manado, beraktivitas melayani konsumen, Rabu (14/7/2021). Selama masa PPKM mikro di Manado, UMKM maksimal beroperasi hingga pukul 20.00 atau jam 8 malam. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Menghadapi pandemi Covid-19 bukan pekerjaan pemerintah semata. Pun bukan warga. Semua pihak harus saling membantu.

Pembatasan operasional usaha yang berlaku di Kota Manado memang memberatkan Ema.

Pengusaha kuliner berbasis mobil ini sudah merasakannya saat pembatasan di awal pandemi pada 2020 lalu.

"Saya baru berjualan lagi di sini sekitar dua minggu lalu," kata Ema yang ditemui Tribun Manado saat berjualan di kawasan Megamas Manado, Rabu (14/7/2021).

Ema memulai bisnis kuliner di pinggir pantai Megamas pada 2017. Pembatasan jam operasional di masa pandemi sangat berpengaruh pada usahanya itu.

"Omzet per hari turun jauh sekali jika dibanding sebelum pandemi Covid-19, lebih dari 50 persen," jelas Ema.

Agar tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19, Ema memiliki beberapa cara.

Satu di antaranya berkoordinasi dengan pihak Megamas agar warungnya bisa beroperasi lebih cepat dari biasanya, yaitu mulai pukul 15.00.

"Biasanya warung makan di sini buka pukul 16.00, tapi kami sudah berkoordinasi dengan pihak Megamas agar bisa buka lebih cepat yaitu pukul 15.00," terang dia.

Dengan adanya PPKM mikro, warung makan Ema buka pukul 15.00 hingga 20.00. Selain itu, Ema juga berjualan secara daring melalui Facebook.

Bertepatan dengan HUT ke-398 Kota Manado, Ema berharap Pemkot Manado semakin memperhatikan pelaku UMKM seperti dirinya.

"Saya berharap Pemkot Manado lebih memperhatikan pengusaha UMKM seperti pedagang kuliner di sini apalagi di masa pandemi Covid-19 seperti ini," ujar dia.

Untuk mendukung pemerintah mengatasi pandemi Covid-19, Ema juga berharap masyarakat Kota Manado patuh dan menerapkan protokol kesehatan.

"Saya rasa kalau masyarakat menerapkan protokol kesehatan pandemi Covid-19 ini bisa cepat berakhir," tutup Ema.

Harapan Ema, harapan Wali Kota Andrei Angouw juga.

Memimpin upacara HUT Manado di Lapangan Sparta Tikala, Andrei menekankan sikap gotong royong menghadapi pandemi.

"Si tou timou tumou tou. Itu adalah falsafah Minahasa yang artinya ‘manusia hidup untuk memanusiakan manusia lainnya’," ujar dia.

Dikatakannya, si tou timou tumou tou mirip dengan Pancasila.

Lima sila dalam Pancasila bilamana diperas akan menjadi satu kata yakni gotong royong. Jadi, sitou timou tumou tou berarti gotong royong.

"Covid hanya bisa dilawan dengan gotong royong," ujarnya.

Dalam konteks Manado, ia membeber, gotong royong atasi Covid-19 terwujud dalam vaksinasi massal. Juga dalam kesediaan warga Manado jalani tes Covid-19.

"Warga yang Covid segeralah jalani isolasi. Yang merasa kontak erat segera jalani tes," kata dia.

Andrei Angouw mengimbau gotong royong agar menjadi pola hidup warga.

Ia kemudian menunjuk sebuah tugu di depan kantor Wali Kota Manado.

"Inilah simbol gotong royong. Mari kita bergotong royong selesaikan Covid-19. Masalah di Manado akan selesai dengan gotong royong. Jangan kita saling menjatuhkan," ujar dia. (*)

Baca juga: Tinggal di Tengah Hutan, Begini Cara Hidup Sepasang Suami Istri Edi Suharto dan Peni, Tanpa Listrik

Baca juga: Tak Banyak yang Tahu, Sejarah Terbentuknya Palung Mariana Tempat Terdalam di Bumi, Ini Penjelasannya

Baca juga: Warga Manado Meninggal Sehari Setelah Suntik AstraZeneca, Epidemiolog: Jangan Kambinghitamkan Vaksin

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved