Penanganan Covid
Waspada Lonjakan Kasus Covid-19, Epidemiolog Sulut: Kita Harus Siap Kemungkinan Terburuk
Terkait kekhawatiran penularan covid-19 ini, Epidemiolog Sulut Jonesius Manoppo menyebut, sebenarnya covid memang menyerang semua umur.
Penulis: Mejer Lumantow | Editor: Rizali Posumah
TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Munculnya berbagai varian mutasi baru Covid-19 membuat pemerintah dan masyarakat harus semakin mawas diri dengan semakin disiplin menerapkan protokol kesehatan.
Belum lagi penularan covid-19 yang begitu cepat di masyarakat harus dapat ditangani dengan cepat dan maksimal.
Tak menganal usia, anak-anak juga sangat berpotensi besar terpapar covid-19.
Terkait kekhawatiran penularan covid-19 ini, Epidemiolog Sulut Jonesius Manoppo menyebut, sebenarnya covid memang menyerang semua umur.
"Hanya saja di awal pandemi tahun lalu pemerintah langsung bereaksi dengan mengurangi mobilitas anak dengan mengeluarkan kebijakan sekolah dari rumah, menutup tempat bermain bahkan melarang anak dibawah 12 tahun untuk berada di keramaian terutama di pusat perbelanjaan," terangnya.
Menurut Manoppo, hal ini membuat banyak anak terlindungi dan tidak terpapar dengan virus ini, tapi meski demikian laporan mengenai kejadian infeksi covid-19 pada anak cukup tinggi, hal ini juga menepis anggapan bahwa anak-anak tidak rentan terhadap covid-19.
"Keadaan belakangan berubah dengan kebijakan relaksasi, mulai dari KBM tatap muka terbatas dan kesempatan terbuka bagi anak beraktivitas di tempat umum menjadikan anak-anak mendapatkan peluang lebih besar untuk terpapar," jelasnya kepada Tribun Manado.
Disatu sisi, masalah yang perlu menjadi kesadaran bersama yaitu banyak orang dewasa yang membawa anak tidak menerapkan 3M yang baik dan benar terhadap anak mereka.
"Kurangnya pengawasan dan disiplin mencuci tangan pada anak serta banyak dijumpai anak-anak bahkan balita tanpa masker di keramaian," ujar Manoppo.
Kata dia, anak-anak itu berada dibawah kendali orang tua, jika mereka terpapar berarti ada andil orang tua disana.
"Belum lagi kita bicara tentang imunitas tubuh yang tentu saja diperoleh lewat asupan gizi seimbang, banyak anak Indonesia tidak cukup gizi, mudah terserang infeksi apapun itu," sebut Manoppo.
Selain itu, lanjutnya, saat ini juga sedang memasuki masa libur anak sekolah. Jadi memang tidak ada KBM tatap muka.
"Tapi di bulan Juli sudah diwacanakan akan ada tatap muka terbatas dibeberapa daerah, dan tatap muka langsung bagi yang sudah melakukan ujicoba dan berhasil," ujar Manoppo.
Untuk itu, Dosen Epidemiologi Unima ini mengatakan, "melihat perkembangan kasus covid, sebaiknya wacana ini perlu di bijaksanai lagi, tingginya kejadian infeksi pada anak sebaiknya menjadi basis bukti pendukung kajian penundaan KBM tatap muka apapun bentuknya."
"Kita juga sedang dalam posisi dimana perluasan penularan masih bisa ditekan dengan 3T, berarti kita masih berpeluang berhasil menekan laju penularan dengan 5M yang ketat, tapi tentu saja waktu pelaksanaan pengetatan disiplin protokol pencegahan covid ini tidak oleh diulur, harus segera," papar Manoppo.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/pengamat-kesehatan-sulut-121212.jpg)