Breaking News:

Sidang Peganiayaan

Vebry Haryadi: JPU Kejari Minsel yang Tak Berikan Salinan BAP Adalah Sikap Lecehkan Kuasa Hukum

Vebry Tri Haryadi SH mempertanyakan sikap Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Minahasa Selatan

Lefrando Gosal
Pengacara Terdakwa Yods usai sidang di PN Tondano, Minahasa, Rabu (2/3/2021) 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Kuasa Hukum terdakwa JHW alias Yods, Vebry Tri Haryadi SH mempertanyakan sikap Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Minahasa Selatan, dalam perkara dugaan tindak pidana penganiayaan yang ditanganinya yang saat ini sedang menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Tondano.

Usai sidang di PN Tondano, Rabu (2/6/2021) siang, Vebry mengatakan, selaku Kuasa Hukum Yods, dirinya telah meminta salinan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terkait kasus dugaan penganiayaan yang terjadi antara kliennya dan pelapor BB alias Berry berulang kali, namun tetap tidak digubris JPU.

"Sampai saat ini kami tidak diberikan berkas turunan BAP. Kami sudah meminta BAP turunan itu, baik secara langsung ke yang bersangkutan, maupun di hadapan persidangan. Namun, JPU tidak memberikan dengan berbagai alasan yang menurut kami tidak masuk akal. Sehingga, kami mempertanyakan, ada apa ini? Sebab, pengalaman saya dalam persidangan, BAP itu diberikan ke terdakwa atau kuasa hukumnya. Tapi ini tidak," tukas Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ormas Manguni Indonesia Maju ini.

Baca juga: Cegah Covid-19, AP I Bandara Samrat Tata Alur Transportasi Agar Tak Terjadi Kerumunan Penjemput

Lanjut kata Vebry, pihaknya akan menyurat ke Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, terkait ulah JPU dari Kejaksaan Negeri Minahasa Selatan ini.

Menurutnya, tidak memberikan BAP kepada terdakwa dengan berbagai alasan tersebut merupakan sikap melecehkan Advokat atau Kuasa Hukum Terdakwa.

"Kami akan menyurat ke Kejati Sulut terkait yang dilakukan JPU dari Kejari Minsel ini. Ini pelecehan terhadap kami selaku Kuasa Hukum, sebab waktu kami minta dihadapan persidangan, jawabannya tidak mengenakkan. Rasa hormat JPU terhadap Penasihat Hukum tersangka tidak ada, Kami pertanyakan profesional dari JPU ini," jelasnya.

"Saya iimbau kepada semua yang terlibat dalam penyelesaian kasus ini, mari junjung tinggi asas praduga tak bersalah dengan sama-sama membuktikan mengenai kebenaran materill dari perkara ini. Kalau memang klien kami bersalah, kami menerima. Akan tetapi, harus saling menghormati dan menghargai proses jalannya persidangan. Hargai Kami sebagai Penasehat Hukum untuk bersama membuktikan," pungkasnya.

Sementara, kasus dugaan penganiayaan ini sendiri merupakan peristiwa yang terjadi di lokasi perkebunan Alason Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), medio 07 Februari 2021 lalu.

Sedari awal, Vebry mengatakan bahwa pihaknya menduga ada kejanggalan penanganan pihak berwajib pada kasus ini.

Dia menjelaskan, sejak awal peristiwa dugaan penganiayaan ini terjadi, kliennya JHW alias Yods lebih dahulu melaporkan dengan isi laporan pengancaman, penodongan dan penembakan yang dialaminya, ke Polsek Ratatotok pada 07 Februari 2021 berdasarkan laporan Polisi Lp/16/Feb 2021 SK RTTK dan laporan polisi tersebut kini telah dilimpahkan ke Polres Minahasa Tenggara.

Kemudian, di pihak BB alias Berry juga telah melayangkan laporan berdasarkan laporan Polisi Lp/15/Feb 2021 SK RTTK. Namun sayangnya, atas laporan Polisi dari Berry ini, klien kami JHW yang justru ditahan pihak penyidik di rumah tahanan Mapolda Sulut.

“Pada konferensi pers yang dilakukan oleh Polda Sulut, dalam hal ini oleh Humas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abraham Abast, yang didampingi Kapolres Mitra AKBP Rudi Hartono, tanggal 09 Februari 2021, ditemukan barang bukti di pihak Berry berupa dua bilah senjata tajam jenis pedang besi putih dan parang, serta satu pucuk Airsoft Gun. Kemudian, di pihak klien kami ditemukan barang bukti sebilah besi siku panjang,” terang Vebry.

"Dalam persidangan pemeriksaan saksi korban Berry dan saksi lainnya yang adalah teman-teman Berry, tidak mengakui mengenai barang bukti parang tersebut milik mereka. Dan saksi Berry juga tidak mengakui kalau telah melakukan penembakan dengan Airsoft Gun. Padahal saat ini status Berry sebagai berstatus tersangka, walaupun pihak kejaksaan Kejari Minsel melakukan P-19 dengan menambahkan banyak hal yang tentu akan menyulitkan pihak penyidik untuk memenuhinya. Kami sangsi jika status Tersangka Berry akan ditingkatkan ke tahap selanjutnya atau tahap P-21," jelasnya.

Baca juga: Peringatan Dini Besok Kamis 3 Juni 2021, BMKG: Ini 9 Wilayah yang Patut Waspada Alami Hujan Lebat

YOUTUBE TRIBUN MANADO:

Penulis: Lefrando Andre Gosal
Editor: David_Kusuma
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved