Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Talaud

Dilaksanakan Secara Sederhana, Upacara Prosesi Adat Mane'e di Talaud Berlangsung Hikmat

Tradisi adat Mane'e konon sudah ada sejak abad ke-17, bermula ketika Pulau Nanusa diguncang gempa bumi dan tsunami. 

Penulis: Ivent Mamentiwalo | Editor: Rizali Posumah
Istimewa.
Prosesi Adat Mane'e di Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, Manado - Prosesi Adat Mane'e menangkap ikan atau tradisi untuk memperingati puncak surut air laut ketika masa eha/Ehaca berakhir dan sukses digelar dengan hikmat dan penuh kebersamaan.

Kegiatan itu berjalan mulus sesuai dengan tujuan Ritual Adat ini yaitu menjaga hubungan dengan alam.

Apabilah manusia bisa menjaga hubungan baik dengan alam maka sebaliknya alampun akan bermurah hati kepada manusia.

Wakil Bupati Kepulauan Talaud Moktar Arunde Parapaga kepada Tribun Manado Senin (31/5/2021) mengatakan pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud sangat berterima kasih kepada semua elemen yang turut mensukseskan Upacara Adat perayaan Mane'e tahun 2021.

"Kiranya dengan semangat Sansiote Sampate Pate bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari -hari," ujar Parapaga.

Prosesi Adat Mane'e di Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara.
Prosesi Adat Mane'e di Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara. (Istimewa.)

Semboyan "Sansiote sampate pate" memiliki arti "Kebersamaan dalam satu persatuan".

"Semboyan ini memiliki muatan nilai Kebersamaanyang terbangun dari tempo dulu, dan akan terus terjaga hingga regenerasi di masa yang akan datang," tutup Parapaga . 

Sejarah Mane'e

Tradisi ini sendiri konon sudah ada sejak abad ke-17, bermula ketika Pulau Nanusa diguncang gempa bumi dan tsunami. 

Dashyatnya tsunami itu kemudian memisahkan ketiga pulau yang sebelumnya saling berhimpitan yakni Pulau Karakelang, Pulau Intata dan Pulau Malo.

Di antara ketiga pulau yang akhirnya terpisah akibat tsunami itu terdapat nyare yaitu perairan dangkal yang ketika air sedang surut dapat dilalui dengan hanya berjalan kaki.

Nah, karena dashyatnya bencana tersebut, di samping berdampak pada terpisahnya kepulauan itu juga menimbulkan dampak psikologis yakni penduduk trauma untuk berlayar ke tengah lautan untuk menangkap ikan.

Akibatnya, penduduk pun kekurangan pangan karena memang nelayan adalah satu-satunya profesi mereka pada saat itu.

Keadaan inilah yang kemudian membuat sang tetua adat berinisiatif melakukan prosesi Mane’e agar penduduk yang masih trauma itu tetap dapat menangkap ikan, tanpa harus melaut ke tengah samudera, tapi cukup menangkap ikan di nyare atau perairan dangkal tersebut.

Bupati dan Wakil Bupati Talaud juga mengatakan, tujuan dilaksanakannya Festival Mane’e adalah untuk memperingati berakhirnya 'Masa Eha'

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved