Breaking News:

TRIBUN BAKU DAPA

Sejarawan Minahasa Ungkap Legenda Toar Lumimuut, Asal Tou Minahasa hingga Minum Darah Manusia

Sejarah selalu menarik untuk diungkap, termasuk sejarah orang Minahasa yang mempunyai sejarah asal muasal dengan berbagai versi penelitian

tribun manado/ronald moha
TRIBUN BAKU DAPA bersama Bodewyn Grey Talumewo, Sejarawan Minahasa dipandu Jurnalis Tribun Manado, Aswin Lumintang 

MANADO, TRIBUN MANADO.CO.ID - Sejarah selalu menarik untuk diungkap, termasuk sejarah orang Minahasa yang mempunyai sejarah asal muasal dengan berbagai versi penelitian maupun cerita yang terus dikembangkan hingga kini.

Dan, seperti daerah lainnya Orang Minahasa juga mempunyai legenda cerita Toar dan Lumimuut yang diyakini merupakan nenek moyang tou Minahasa (orang Minahasa).

Hal ini yang diungkapkan Bodewyn Grey Talumewo, S.S, Sejarawan Minahasa dalam Talk Show Tribun Baku Dapa dengan tema; ''Sejarah Tou Minahasa di Tanah Malesung'', Jumat (27/05/2021), yang dipandu Jurnalis Tribun Manado, Aswin Lumintang.

TRIBUN BAKU DAPA bersama Bodewyn Grey Talumewo, Sejarawan Minahasa
TRIBUN BAKU DAPA bersama Bodewyn Grey Talumewo, Sejarawan Minahasa (tribun manado/ronald moha)

Bode mengatakan, jika berdasarkan legenda Toar dan Lumimuut terjadi oleh ''angin barat''. '' Jadi saat itu semua angin dari beberapa penjuru menghempas ke daerah Malesung, kemudian atas perkenan penguasa alam muncul Lumimuut, kemudian hamil dan melahirkan Toar, '' ujarnya.

Sedangkan jika berdasarkan berbagai hasil penelitian ada yang menyebut orang Minahasa berasal dari Yunan, China, Mongol, Tiongkok, Jepang. Bahkan, ada yang menyebut keturunan orang Minahasa berasal dari Taiwan.

'' Klaim berasal dari beberapa wilayah ini berdasarkan bentuk tubuh, warna kulit dan hal lainnya, '' ujar Bode sapaan akrab Sejarawan ini saat berada di Studio Tribun Manado.

Bode juga mengungkap bahwa sejak dulu orang Minahasa tidak mengenal kerajaan. ''Jadi dulu hanya ada yang bertugas mengawasi tanaman (bertani), administrasi dan bidang lainnya. Tidak ada istilah raja atau pemimpin, '' ujarnya.

Jika berperang melawan walak yang lain atau bangsa asing baru kemudian ada semacam struktur atau tingkatan yang memimpin perang. Satu di antaranya yang disebut Waranei. ''Tapi bukan Waranei yang tingkatannya paling tinggi, '' ujar Bode meyakinkan.

Dia juga menjelaskan Tarian Perang Kabasaran dulunya lebih menyeramkan dari saat ini. ''Karena ini sebenarnya (Tarian Perang Kabasaran) merupakan ritual. Jadi bukan seperti saat ini, tapi ini saja kan ada orang luar yang merasa ngeri kalau menonton Kabasaran, '' ujarnya.

Bode mengatakan seperti suku-suku di kawasan Pasifik lainnya. ''Dulu kalau perang ada yang meminum darah lawan yang dikalahkannya, '' ujarnya.

Terkait kepercayaan kata Bode, orang Minahasa dahulu bukan penganut Hindu atau Budha melainkan percaya kepada sesuatu yang lebih berkuasa dan kuat dari manusia. Artinya sang penguasa alam. '' Hanya nenek moyang kita tentunya mencari sesuatu sebagai simbol yang disembahnya itu. Tetapi intinya ada sesuatu yang lebih kuat, yang namanya Opo Empung, itu yang mereka sembah, '' ujarnya.

Sedangkan mengenai Watu Pinawetengan merupakan tempat pembagian wilayah kepada sub etnis Minahasa yang terdiri dari etnis, Tombulu, Tonsea, Tontemboan, Tolour dan lainnya. '' Ceritanya dulu ada perselisihan wilayah, kemudian diputuskan dilakukan pembagian wilayah tempat bermukim, '' ujarnya.

Dia juga menjelaskan bahwa nenek moyang Minahasa melihat tanda-tanda alam melalui Burung Manguni. ''Tidak semua lewat burung Manguni, tetapi didominasi oleh burung ini, '' ujarnya.

Misalnya akan ada bencana dan hal lainnya biasanya Burung Manguni yang memberi tanda, dan itu dipahami oleh nenek moyang orang Minahasa. ''Kebiasaan mengartikan bunyi burung, untuk mengetahui yang akan terjadi masih ada hingga saat ini, '' ujarnya.

Penulis: Aswin_Lumintang
Editor: Aswin_Lumintang
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved