Breaking News:

Bedah Buku

Bedah Buku Rekson Silaban Bertajuk ''Pergerakan Tanpa Batas'', Begini Kata Wali Kota Maurits Mantiri

Pemerintah Kota Bitung menyelenggarakan kegiatan seminar nasional dan bedah buku bertajuk “Pergerakan Tanpa Batas”

Penulis: Aswin_Lumintang | Editor: Aswin_Lumintang
istimewa
Rekson Silaban, aktifis buruh dalam bedah buku ''Rekleksi Tanpa Batas'' 

BITUNG, TRIBUNMANADO.CO.ID – Pemerintah Kota Bitung menyelenggarakan kegiatan seminar nasional dan bedah buku bertajuk “Pergerakan Tanpa Batas” pada, Kamis, 27 Mei 2021 bertempat di Ruang SH Sarundajang.

Kegiatan ini mengelaborasi bagaimana kisah perjuangan seorang aktivis perburuhan, Rekson Silaban dalam medan perjuangan dalam cakupan nasional maupun internasional untuk kesejahteraan kaum buruh.

Perjuangan Rekson sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Sulawesi Utara yang dicetuskan oleh Sam Ratulangi ‘Si Tou Timou Tumou Tou’ yang bermakna manusia hidup memanusiakan manusia lain.

Rekson Silaban, aktifis buruh dalam bedah buku ''Rekleksi Tanpa Batas''
Rekson Silaban, aktifis buruh dalam bedah buku ''Rekleksi Tanpa Batas'' (istimewa)

Kredo memanusiakan manusia mutlak dibutuhkan agar tercipta harmonisasi antar pekerja dan pemberi kerja. Apalagi di tengah keadaan dunia yang penuh tantangan dengan kecenderungan yang saat ini dikenal dengan VUCA (votatility, incertainty, complexity and ambiquity).

Untuk itu dalam sambutannya Wali kota Bitung, Ir Maurits Mantiri, MM menekan pentingnya pendekatan pentahelix dalam memecahkan suatu problem.

“Pentahelix ini perhatiannya kerja bareng oleh karena tanpa kerja bareng tentu tidak akan mudah mengatasi masalah yang ada”, ujar Maurits. Wali Kota Bitung ini juga menambahkan bahwa dalam era transformasi digital dewasa ini, buruh tidak boleh teraleniasi dari kebijakan digitalisasi industri. “Pemanfaatan teknologi harus paralel dengan jaminan kepastian bekerja dan perlindungan terhadap pekerja”, ujarnya, Kamis (27/05/2021).

Wali Kota Bitung juga menegaskan bahwa fokus agenda pembangunan ke depan adalah meningkatkan investasi bagi terciptanya lapangan pekerjaan baru agar angkatan kerja lokal dapat terserap pada industri – industri dengan upah yang layak. Dengan demikian, kesejahteraan buruh dan pertumbuhan ekonomi akan meningkat.

Merespon hal ini Rekson Silaban dalam paparannya mengutarakan bagaimana pola perjuangan aktivis yang dari mengkritisi pemerintah kemudian menjadi bagian dari pemerintah.

Baca juga: Robert Winerungan: Kereta Api Makassar-Manado Dorong Pariwisata, Kurangi Disparitas Antardaerah

Baca juga: Sebelum Laga RANS Cilegon FC vs Arema FC, Raffi Ahmad Tantang Uji Nyali

“Kita lihat bagaimana Soekarno dan Hatta dulu mengkritisi pemerintah kolonial, kemudian mereka beralih menjadi bagian dari pemerintahan itu sendiri, sama juga halnya dengan aktivis tahun 66 dan 98 yang pernah mengambil bagian dalam kepemerintahan. Artinya pergerakan itu tanpa batas”, ujar Rekson yang pernah menjadi Governing Body ILO.

Sejalan dengan visi mewujudkan Kota Bitung untuk menjadi kota digital, Rekson juga menambahkan pentingnya perlindungan sosial bagi pekerja digital.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved