Kabar Israel
2 Syarat Diajukan Hamas Untuk Gencatan Senjata dengan Israel
Hamas pun menyatakan kesediannya menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan kontingen militer Israel dengan dua syarat,
TRIBUNMANADO.CO.ID - Upaya gencatan senjata antara Hamas dan Israel terus dilakukan banyak negara.
PBB dan berbagai negara terus menekan kedua pihak agar menghenghentikan perang yang sudah menelan 230 warga Palestina, termasuk anak-anak
Sedangkan korban jiwa dari Israel sebanyak 12 orang, sehingga total korban jiwa untuk kedua belah pihak sebanyak 242 orang.
Otoritas Palestina menyebutkan kerugian material mencapai 322 juta dolar Amerika Serikat, selama 11 hari serangan militer Israel ke Palestina.
Hamas pun menyatakan kesediannya menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan kontingen militer Israel dengan dua syarat, menurut seorang pejabat senior Hamas.
"Kami memberi tahu semua pihak bahwa kami akan menerima gencatan senjata bersama dengan Israel dengan dua syarat," kata Dr Basem Naim, mantan menteri kesehatan Palestina yang sekarang menjadi kepala dewan hubungan internasional Hamas, kepada ABC News diwartakan pada Rabu (19/5/2021).

"Pertama, pasukan Israel harus menghentikan serangan ke kompleks Masjid Al-Aqsa dan menghormati situs tersebut.”
“Kedua, Israel harus menghentikan evakuasi paksa warga Palestina di lingkungan Sheikh Jarrah. Kondisi ini sesuai dengan hukum internasional, bukan hanya syarat yang diharapkan oleh otoritas Hamas."
Namun menurut seorang pejabat Israel yang mengetahui langsung masalah tersebut, mengaku Israel, bagaimanapun, tidak tertarik dengan syarat apa pun.
"Kami menyatakan berhenti sebelum waktunya adalah memberi Hamas kemenangan yang diinginkannya," kata pejabat Israel itu kepada ABC News pada Selasa malam (18/5/2021).
"Hamas harus kalah sebagai hasil akhir dari (pertempuran) ini."
Kebuntuan tampak terjadi saat babak pertarungan antara kedua belah pihak memasuki hari ke-10 berturut-turut.
Hamas, yang memperoleh mayoritas dalam pemilihan legislatif Palestina 2006. Kelompok ini mengambil kendali Jalur Gaza pada 2007 setelah memerangi saingannya dari pasukan Palestina.
Sebelumnya kelompok militan ini mengaku serangan roketnya ke Israel merupakan tanggapan atas bentrokan baru-baru ini, antara pengunjuk rasa Palestina dan polisi Israel di Kota Tua Yerusalem di luar kompleks Masjid Al-Aqsa.
Situs itu merupakan salah satu tempat paling suci dalam Islam. Sementara bentrokan pecah di tengah meningkatnya kemarahan atas potensi penggusuran puluhan warga Palestina.