Konflik Israel Palestina
Kondisi Ekonomi Palestina, Ternyata Sangat Bergantung pada Israel dan Donasi Internasional
Ekonomi Palestina bisa dibilang hampir tak pernah stabil, sebagai negara yang selama puluhan tahun dilanda Konflik Palestina Israel
Mengutip laporan dari Bank Dunia yang dirilis Juni 2020, pandemi Covid-19 membuat ekonomi Palestina sangat terpukul.
Warga Palestina memilih hewan di pasar hewan kurban di Jalur Gaza, pada Senin (5/8/2019), menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada Minggu (11/8/2019).(REUTERS / IBRAHEEM ABU MUSTAFA)
Tahun lalu saja, pertumbuhan ekonomi di negara itu hanya 1 persen.
Lalu, pada tahun 2020, ekonomi Palestina diprediksi akan terkontraksi setidaknya 7,6 persen.
Palestina bisa mengalami dampak lebih buruk lagi seandainya Israel terus mencaplok wilayahnya di Tepi Barat.
Bahkan, kontraksi ekonomi pada tahun ini bisa lebih parah, yakni mencapai 11 persen jika otoritas Palestina lambat melakukan penanganan.
"Dengan adanya pandemi Covid-19 di bulan ketiga, ini akan memengaruhi kehidupan dan mata pencarian orang Palestina.
Otoritas Palestina sendiri telah berupaya keras untuk menanggulangi pandemi," jelas Direktur Bank Dunia untuk Tepi Barat dan Gaza, Kanthan Shankar, seperti dikutip, Senin (27/7/2020).
"Namun, di sisi lain, donasi dari luar juga terus menyusut dan terbatasnya instrumen ekonomi.
Kondisi ini membuat pemerintah dalam kondisi sulit untuk melindungi ekonomi warganya," kata dia lagi.
Bahkan, menurut laporan Bank Dunia, lebih dari seperempat warga Palestina hidup di bawah garis kemiskinan sebelum datangnya virus corona.
Pasca-pandemi, jumlah warga miskin diperkirakan meningkat tajam, antara lain sebesar 30 persen di Tepi Barat dan 64 persen di Jalur Gaza.
Yang lebih mencolok adalah tingkat pengangguran kaum muda Palestina yang berada di level 38 persen.
Angka pengangguran ini sangat mengkhawatirkan, jauh di bawah rata-rata negara kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.
Nelayan Palestina bernama Mouad Abu Zeid (kanan) dan rekan-rekannya membawa perahu yang terbuat dari 700 botol plastik kosong di sebuah pantai di Rafah di Jalur Gaza selatan, Selasa (14/8/2018). (AFP/Said Khatib)