Breaking News
Kamis, 23 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Kotamobagu

Gaji Amel, THL di Kotamobagu Tak Kunjung Dibayarkan, Berharap Ada Titik Terang

Selain menguras tenaga, katanya, satu tahun belakangan juga semakin berat sebab pandemi Covid-19 membayangi kegiatan sehari-hari.

Penulis: Theza Gobel | Editor: Rizali Posumah
tribunmanado.co.id/Theza Van Gobel
Amel membawa banner sambil menitikkan air mata. 

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Berbulan-bulan bekerja tanpa lelah, salah satu Tenaga Harian Lepas (THL) yang bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Kotamobagu ini tak kunjung menerima gaji sejak bulan Januari hingga bulan Maret 2021. 

Amel Mentu namanya. Dirinya telah bekerja sebagai THL di RSUD Kota Kotamobagu sejak bulan Maret tahun 2017 silam.

Ia mengaku, pekerjaan sebagai seorang tenaga kesehatan memang cukup berat. 

Selain menguras tenaga, katanya, satu tahun belakangan juga semakin berat sebab pandemi Covid-19 membayangi kegiatan sehari-hari.

Rasa takut bisa terpapar virus amat besar, namun karena dedikasi tinggi, ia tak lelah melayani. 

Namun kesabaran juga ada batasnya. Setelah menanti selama 3 bulan, nyatanya gaji tak kunjung dibayarkan.

“Tak pernah ada itikad baik dari pihak RSUD untuk memberitahu kami perihal gaji. Bahkan banyak (THL) yang diberhentikan sepihak. 

Waktu itu sempat diberi tahu akan ada pengurangan gaji. Kemudian bagi yang tidak mau divaksin akan dievaluasi kembali,” ungkap Amel dengan lirih. 

Ia mengaku amat sangat terkejut, ketika akan menandatangani daftar gaji, namanya dan nama beberapa temannya sudah dihapuskan. Tak ada lagi dalam daftar. 

“Bayangkan selama 3 bulan saya harus meminta biaya hidup dari orang tua. Padahal saya ini tulang punggung keluarga. Saya heran nama saya sudah tak ada, malah muncul nama-nama baru yang entah siapa,” jelasnya. 

Amel berkata, salah satu temannya yang sudah bekerja selama 5 tahun tak diberi SK THL. 

Ia selalu bersabar, namun situasi yang berat, ditambah lagi tidak ada kejelasan tentang statusnya sebagai pekerja, membuatnya turun protes dengan membawa banner berisi tulisan-tulisan seperti “ini rumah sakit umum, bukan rumah sakit keluarga”. 

Amel yang merupakan janda cerai mati, menjadi tulang punggung sejak tahun 2019. Dia harus menghidupi ketiga anaknya. Masing-masing berusia 10, 4, dan yang bungsu masih berusia 1 tahun 8 bulan. 

“Yang sulung dan tengah masih aktif mengkonsumsi susu formula. Kemudian yang bungsu masih mengenakan popok. Di saat seperti ini jiwa keibuan saya meronta. Saya tak ingin anak saya susah,” ujar wanita kelahiran Oktober 1989 ini. 

Ia berharap pemerintah bisa berlaku adil, dan ia berharap akan segera ada titik terang. 

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved