Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kabar Tokoh

Ingat Dewi Tanjung, Politisi Kontroversial? Kini Muncul Buat Heboh Lagi, Para Zombie RI Jadi Sasaran

Dewi Tanjung kembali mengeluarkan penyataan kontroversial, sindir pelaku terorisme Bom Makassar hingga teror di Mabes Polri.

Editor: Frandi Piring
Tangkapan layar akun Youtube Dewi Tanjung
Politisi PDIP Dewi Tanjung. Kabar terbaru singgung pelaku terorisme di Makassar dan di Mabes Polri. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Masih ingat dengan Politisi PDIP, Dewi Tanjung?

Dewi Tanjung yang dikenal sebagai politikus kontroversial kembali bikin publik heboh.

Ia mengeluarkan penyataan kontroversial terkait aksi terorisme yang baru-baru terjadi saat ini di Indonesia.

Pernyataan Dewi Tanjung pun mengundang perhatian publik dan jadi sorotan.

Pasalnya Dewi Tanjung ingin wanita bercadar dan pria bercelana cingkrang keluar dari Indonesia.

Politisi PDIP <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/dewi-tanjung' title='Dewi Tanjung'>Dewi Tanjung</a>. Kabar terbaru singgung pelaku <a href='https://manado.tribunnews.com/tag/teroris' title='teroris'>teroris</a>me di Makassar dan di Mabes Polri.
(Foto: Politisi PDIP Dewi Tanjung. Kabar terbaru singgung pelaku terorisme di Makassar dan di Mabes Polri./Tangkapan layar akun Youtube Dewi Tanjung)

Dewi Tanjung mengaku geli meligat pria dengan celana cingkrang dan berjengkot, termasuk ketika ia melihat perempuan mengenakan cadar

"Nyai Geli banget liat Kadrun Bercelana Cingkrang, berjenggot, berjidat hitam dan geli liat perempuan Bercadar.

Liatlah tampang-tampang mereka seperti zombie hidup muka pucat dan pandangan mata mereka kosong," tulis Dewi di laman Twitter pribadinya, Jumat (2/4/2021)

"Kalo Kadrun Kilafah mau bergaya seperti ini sebaiknya keluar dari Indonesia," tulisnya.

Politikus yang kerap membuat pernyataan kontroversial tersebut juga menyebut para pelaku teroris berpakaian seperti yang dia sebutkan di atas.

Pernyataan pengurus MUI tentang polemik cadar

Pihak Kepengurusan Majelis Ulama Indonesia (MUI), K.H. Zaitun Rasmin, beberapa waktu yang lalu menyebut diskriminasi terhadap warga negara yang mengenakan cadar maupun celana cingkrang sangat mengusik umat muslim.

Karena diyakinkannya, walau pakai cadar dan celana cingkrang, mereka tetap menjunjung tinggi Pancasila dan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Hal itu disampaikan K.H. Zaitun Rasmin dalam Program Indonesia Lawyers Club (ILC) bertajuk 'Apa, Siapa, Radikal' di TV One pada Selasa (5/11/2019) silam.

Dalam paparannya, K.H. Zaitun Rasmin menekankan agar sejumlah pihak tidak menyampaikan penilaian sepihak, khususnya tentang penggunaan cadar dan celana cingkrang.

Terlebih, penilaian tersebut jauh dari pendapat ulama ataupun organisasi Islam yang ada di Indonesia, yakni Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

"Ada tiga ormas besar atau terbesar yang mempunyai kompetensi, kita kembalikan bagaimana penilaian-penilaian itu agar kita tidak bebas nilai.

Dua Pelaku Terorisme, Lukman (kiri) pelaku Bom Makassar dan Zakiah Aini (kanan) pelaku teror Mabes Polri.
(Foto: Dua Pelaku Terorisme, Lukman (kiri) pelaku Bom Makassar dan Zakiah Aini (kanan) pelaku teror Mabes Polri. /Kolase Foto Istimewa)

Nah, saya setuju bahwa kita juga jangan apologi, di dalam dunia Islam yang namanya radikal berdasarkan agama itu pasti ada, dari zaman awal ada Khawarij dan membawa korban tidak sedikit,

ada syiah juga yang membawa korban waktu Qaramithah berkuasa, ada 30.000 orang dibunuh dari jemaah haji, Hajar Aswad dicuri dan ada liberalisme pemikiran ini juga tidak boleh kita tidak akui dalam dunia Islam," kata K.H. Zaitun Rasmin.

"Ya kalau Ahlussunnah saya akui flat dari dulu, ada kasus-kasus ahlussunnah membunuh dan sebagainya itu kasus yang lumrah terjadi di manusia, bukan karena berangkat dari pemahaman yang radikal tadi itu," tambahnya.

Pemahaman tentang radikalisme hingga liberalisme yang dianut kaum Syiah katanya tercatat dalam sejarah kaum Mu'tazilah,

mereka katanya dapat memutarbalikkan pendapat para ulama yang telah disepakati sebelumnya.

Namun, umat muslim Indonesia umumnya menganut paham Ahlussunnah yang menegaskan tidak boleh ada pendapat apabila telah didapatkan ijma ulama sebelumnya.

"Sekarang, kita biarkan radikalisme pemikiran itu, ini menunjukkan ketidakadilan. Misalnya, ada disertasi yang orang istilahkan disertasi mesum yang mengatakan hubungan laki-perempuan di luar pernikahan sebagai bukan zina, padahal ayatnya jelas,

hadistnya jelas, ijma ulama tentang itu juga jelas, nah ini kalau kita biarkan maka kita sendiri yang sebetulnya yang akan melahirkan radikalisme-radikalisme," kata K.H. Zaitun Rasmin.

"Sebab, di dunia ini pasti ada aksi-reaksi, kalau ada ekstrim kiri, akan mengundang ekstrim kanan. Bersyukurlah, alhamdulillah bang Karni,

di Indonesia ini banyak orang-orang yang punya komitmen agama yang tinggi, pakai cadar-celana cingkrang, tapi pemahaman wasathiyah-nya tinggi, sehingga tidak menjadi ekstrim," kata dia menegaskan.

Tidak Boleh Menyakiti

K.H. Zaitun Rasmin pun menyampaikan, selain sebagai Wakil Sekretaris jenderal MUI, dirinya juga merupakan Ketua Umum Wahdah Islamiyah Indonesia.

Dalam organisasi Islam tersebut, banyak anggotanya yang mengenakan cadar dan celana cungkring, padahal diungkapkannya ketentuan memakai cadar adalah sunnah.

"Banyak yang pakai cadar, tetapi tidak satu pun, Alhamdulillah yang berpikiran ekstrim, kita menyanyikan Indonesia Raya, kita juga sangat bergaul, pandangan kami kepada non muslim jelas sekali berdasarkan Alquran.

Jangankan, jangankan, kita tidak boleh menyakiti mereka, berbuat baik pada orang kafir, orang non muslim, itu adalah sesuatu yang dibenarkan,

walaupun dalam istilah 'kafir' bagi kami juga jelas dari Al Quran dan orang-orang yang berlebihan saja yang melarang-larang," kata K.H. Zaitun Rasmin.

"Istilah kafir itu tidak satu pun saya temukan di Indonesia yang pernah memanggil nonmuslim, 'kafir', belum pernah, sepanjang saya hidup.

Bahkan dalam pertemuan ya bang Karni, kalau ada pertemuan nonmuslim-muslim.

Belum ada satu pun yang bilang, 'bapak-bapak, ibu-ibu selain kita di sini orang muslim ada orang kafir'.

Tidak, tidak ada. pasti menyebut, 'bapak-bapak, di sini ada muslim, di sini juga ada saudara kita orang Hindu, ada sodara kita orang Nasrani, dan seterusnya'," tambahnya.

K.H. Zaitun Rasmin berharap agar pemerintah tidak membesarkan masalah, khususnya larangan pemakaian cadar dan celana cingkrang.

Dirinya justru mempertanyakan jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memakai cadar atau celana cingkrang di Kementerian Agama atau Kementerian lainnya yang menurutnya sangat sedikit atau tidak ada sama sekali.

"Nah ini juga hal yang patut kita garisbawahi, dan masalah keagamaan adalah hal yang sangat-sangat sakral di negeri kita ini. Dan umat pasti akan selalu berusaha mengamalkan yang terbaik.

Saya juga ingin menyampaikan tidak usah terlalu khawatir, Indonesia ini, dengan perkembangan cadar tidak akan berubah menjadi mayoritas pakai cadar,

sama dengan jilbab, sampai sekarang masih b oleh dikatakan 50:50 yang pakai jilbab dengan yang tidak pakai jilbab," katanya.

(Tribunnewswiki.com/Wartakotalive.com)

Artikel ini telah tayang di Tribunnewswiki.com dengan judul Dewi Tanjung Ingin Wanita Bercadar & Pria Bercelana Cingkrang Keluar dari Indonesia: Seperti Zombie

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Sebut Seperti Zombie, Dewi Tanjung Ingin Wanita Bercadar & Pria Bercelana Cingkrang Keluar dari RI, https://aceh.tribunnews.com/2021/04/02/sebut-seperti-zombie-dewi-tanjung-ingin-wanita-bercadar-pria-bercelana-cingkrang-keluar-dari-ri?page=all.

Berita Terkait Teror Mabes Polri

Sumber: TribunnewsWiki
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved