Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Bom Depan Katedral Makassar

Perakit Bom & Otak Aksi Bom Bunuh Diri di Makassar Sudah Ditangkap Polisi, Inisialnya W

Polisi sudah menangkap otak aksi bom bunuh diri di Depan Gereja Katedral Makassar. Inisialnya W. Dia adakah perakit bom yang digunakan terduga teroris

Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Kepala Kepolisian Ri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo di Mabes Polri 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Polisi sudah menangkap otak aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar

Inisialnya W. Dia adakah perakit bom yang digunakan terduga teroris pada aksi bom bunuh diri di Makassar. 

Selain W, total orang yang ditangkap terkait bom bunuh diri ini sudah ada 23 orang. 

Baca juga: SKOR Lituania VS Italia, Berikut Nama-nama Pencetak Gol, Kualifikasi Piala Dunia 2022,

Baca juga: SKOR Jerman VS Makedonia Utara, Pemegang 4 Titel Juara Dunia Kalah Dari Tim Peringkat ke 65 FIFA

Baca juga: Hujan Lebat & Angin Kencang, Prakiraan Cuaca Hari Ini Kamis 1 April 2021, BMKG: 23 Daerah Berpotensi

Kapolri Jenderal Listyo Sigit dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto meninjau TKP Bom di Gereja Makassar Jl Kajaolalido, Minggu (28/3/2021) beberapa saat lalu

Ditangkap di 3 tempat yang berbeda.

Berikut penjelasan lengkap kapolri.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan pria berinisial W, yang merupakan perakit bom bunuh diri yang dibawa pasutri L dan YSF.

"Sampai hari ini terkait dengan pengungkapan yang kita lakukan atas kejadian bom di Makassar, sudah kita amankan 13 orang.

Di mana satu orang atas inisial W, adalah pelaku otak atau perakit bom sudah kita amankan," kata Listyo dalam konferensi pers di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Rabu (31/3/2021) malam.

Selain itu, kata Listyo, pihaknya juga berhasil mengamankan lima orang terduga teroris di Jakarta dan sekitarnya. .

"Di Jakarta dan sekitarnya kita amankan lima orang, dan di Bima, NTB, lima orang. Jadi jumlah total sampai hari ini ada 23 orang kita amankan dari tiga tempat tersebut," kata Listyo.

Menurut Listyo, pihaknya memastikan akan terus mengembangkan kasus terorisme dan mengembangkannya sampai tuntas.

"Untuk perkembangannya akan kita informasikan lebih lanjut," kata Listyo.

Sosok Terduga Teroris di Mabes Polri

Sebelumnya, Listyo memaparkan identitas terduga teroris perempuan yang melakukan penyerangan di Bareskrim Mabes Polri pada Rabu (31/3/2021) sore sekitar pukul 16.30 WIB.

Perempuan itu diketahui bernama Zakiah Aini (25) warga Ciracas, Jakarta Timur.

Zakiah Aini diketahui mantan mahasiswi salah satu perguruan tinggi yang mengalami drop out (DO) pada semester lima.

"Kemudian dari hasil profilling terhadap yang bersangkutan, maka tersangka atau pelaku ini adalah berideologi radikal ISIS, dengan bukti diantaranya, postingan di media sosialnya. Tersangka ini adalah mantan mahasiswa di salah satu kampus dan di drop out di semester 5," papar Listyo.

Listyo menjelaskan bahwa pelaku sebelum ditembak mati polisi, sempat melepaskan enam kali tembakan senjata api ke arah petugas.
Baca juga: Detik-detik Terduga Teroris Berhijab Serang Bareskrim Polri, Tewas Tersungkur Ditembak Berulang Kali

"Jadi jam 16 30, seorang wanita berjalan masuk dari pintu belakang, kemudian yang bersangkutan mengarah ke pos gerbang utama yang ada di mabes Polri," kata Listyo.

Menurutnya, Zakiah Aini kemudian menanyakan ke petugas jaga mengenai keberadaan kantor pos.

"Yang kemudian diberikan pelayanan aleh anggota yang berjaga, dengan menunjukkan arah jalan ke kantor pos," kata Listyo.

Kemudian katanya, Zakiah Aini sempat meninggalkan pos jaga utama.

"Namun kemudian ia kembali ke pos jaga, dan melakuan penyerangan kepada anggota yang ada di Pos Jaga, dengan melakukan penembakan sebanyak enam kali ke arah petugas," kata Listyo.

"Dua kali tembakan ke arah dalam pos, dua kali ke arah petugas yang di luar, dan menembak lagi dua kali kepada anggota yang di belakangnya," kata Listyo.

Wanita Tewas Diduga Teroris di Mabes Polri.

Karena tindakan yang dilakukan pelaku, kata Listyo, petugas melakukan tindakan tegas dan terukur kepada Zakiah Aini dengan melumpuhkannnya dengan timah panas.

Zakiah Aini, pun terkapar dan tewas tak jauh dari pos jaga utama Mabes Polri.

"Hasil olah TKP ditemukan bahwa yang bersangkutan bernama inisial ZA umur 25 tahun dan beralamat di Jalan Lapangan Tembak, Ciracas, Jakarta Timur," papar Listyo.

"Kemudian dari hasil identifikasi sidik jari dan recognition identitasnya serupa dengan catatan identitas di tas pelaku," katanya

Hasil profiling dari pelaku diketahui bahwa Zakiah Aini memiliki ideologi radikal ISIS yang dibuktikan lewat sebuah unggahan foto bendera ISIS di Instagram tersangka.

"ZA ini adalah mantan mahasiswa di salah satu kampus dan di drop out saat di semester 5," katanya.

Kemudian dari hasil pendalaman dan penggedahan kata Listyo didapatkan beberapa temuan terkait dengan barang yang dibawa pelaku.

"Di mana pelaku membawa map kuning yang di dalamnya ada amplop bertuliskan kata-kata, tentunya dan tas," kata Listyo.

Selain itu katanya pelaku memiliki Instagram yang dibuat atau memposting pertama kali 21 jam sebelum melakukan penyerangan ke Mabes Polri.

"Dalam postingannya, pelaku memposting bendera ISIS disertai tulisan terkait perjuangan jihad," katanya.

"Kita temukan juga saat penggeledahan di rumahnya, surat wasiat dan ada kata-kata di grup WhatsApp keluarga, bahwa yang bersangkutan pamit," kata Listyo.

Atas semua temuan itu katanya pihaknya sudah memerintahkan Kepala Densus Anti Teror 88 mendalami dan mengusut tuntas hal tersebut.

"Termasuk adanya kemungkinan kelompok dan jaringan yang terkait dengan tersangka ini," katanya. (bum)

Ledakan Bom di Makassar Adalah Pengalihan Perhatian

Kejadian ledakan bom di Makassar dan penangkapan adalah pengalihan perhatian. Demikian menurut Abdullah Hehamahua.

Adanya temuan atribut Front Pembela Islam saat Densus 88 Antiteror Polri menggerebek terduga teroris di Jakarta dan Bekasi, adalah operasi intelijen.

Hal itu disampaikan tokoh Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) enam anggota FPI Abdullah Hehamahua kepada wartawan, usai beraudiensi dengan Fraksi PKS DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (30/3/2021).

"Semua itu adalah operasi intelijen," kata Abdullah.

Abdullah menyebut temuan atribut FPI di kediaman terduga teroris, hanyalah upaya rekayasa untuk mengalihkan perhatian terhadap kematian 6 anggota FPI.

"Itu adalah operasi intelijen untuk mengalihkan perhatian terhadap TP3, mengalihkan perhatian terhadap HRS (Rizieq Shihab), maka ada bom."

"Coba anda perhatikan bom pagi, siang ditangkap."

"6 orang dibunuh (anggota FPI) sudah berapa bulan tidak tahu siapa pembunuhnya. Itu bukti operasi intelijen," ujarnya.

Abdullah mengklaim pihaknya sudah paham cara-cara intelijen beroperasi sejak zaman Orde Baru (Orba).

Menurutnya, hal-hal mengenai operasi intelijen itu secara gamblang telah diulas dalam sebuah buku karya Busyro Muqoddas.

Aparat Brimob mengambil barang bukti saat melakukan penggeledahan rumah Lukman tersangka bom bunuh diri Gereja Katedral di Jl Tinumbu 1 lrg 132, Makassar, Senin (29/3/2021).
"Kita sudah tahu itulah dari zaman masih Orba sampai sekarang."

"Kalau anda mau yakin, baca disertasi Dr Busyro Muqoddas tentang operasi Intelijen," tuturnya.

Marwan Batubara, juga anggota TP3, menyatakan tidak akan mengambil pusing soal temuan atribut FPI di kediaman terduga teroris di Jakarta dan Bekasi.

"Saya kira kita tidak terlalu ambil pusing dengan itu, karena kita tahu itu bagian dari rekayasa," cetusnya.

Marwan memilih fokus pada upaya penuntasan kasus pelanggaran HAM berat, dalam hal ini tewasnya 6 anggota FPI di KM 50 Tol Cikampek.

"Yang penting yang sangat mendesak adalah bahwa kita ingin menyatakan ini kepada Presiden, Pemerintah, DPR, ini adalah pelanggaran HAM berat."

"Karena itu prosesnya harus mengikuti UU Nomor 26/2000, bukan seperti yang sudah dilakukan oleh Komnas HAM, yang kami yakin ini juga adalah konspirasi dengan penguasa," tudingnya.

Sebelumnya, Polri mengamankan sejumlah barang bukti yang disita dalam penangkapan 4 terduga teroris di Jakarta dan Bekasi, Senin (29/3/2021).

Barang-barang bukti tersebut diperlihatkan dalam rilis di Gedung Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (29/3/2021).

Barang bukti yang mencolok adalah seragam berwarna hijau bertuliskan FPI, dan buku tebal berjudul FPI berjudul Amar Ma'ruf Nahi Munkar.

Polri juga menyita poster dengan gambar eks pentolan FPI Rizieq Shihab bertuliskan Tabligh Akbar Aksi Bela Islam, kalender, serta kaus yang berkaitan dengan reuni alumni 212.

Ada juga sejumlah barang-barang senjata tajam, kabel, rompi, hingga ponsel yang diduga terkait kasus terorisme.

Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran membenarkan barang bukti tersebut terkait kegiatan penangkapan 4 terduga teroris di Jakarta dan Bekasi, Senin (29/3/2021).

"Satgas Wilayah Densus 88 DKI Jakarta bersama jajaran Reserse Kriminal Umum telah melakukan upaya penangkapan di dua tempat."

Lokasi dan kendaraan roda dua yang digunakan pelaku bom bunuh diri di depan pagar Gereja Katedral, Jalan Kajaolalido, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3/2021) malam.
"Yang dari hasil upaya penangkapan itu telah ditangkap 4 orang," kata Irjen Fadil di Gedung Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (29/3/2021).

Lebih lanjut, Fadil menyampaikan pihaknya juga menemukan 5 bom aktif ketika menggeledah para terduga teroris tersebut.

"Dari penggeledahan itu ditemukan 5 bom aktif yang sudah dirakit dalam bentuk kaleng dalam bentuk TATP."

"Senyawa kimia yang mudah meledak dengan daya high explosive," ungkapnya.

Hentikan Konspirasi

Terpisah, Deputi V Kantor Staf Presiden Jaleswari Pramodhawardhani angkat bicara terkait tudingan Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) enam laskar pembela Rizieq Shihab yang menilai bahwa temuan atribut Front Pembela Islam saat Densus 88 Antiteror Polri menggerebek terduga teroris di Jakarta dan Bekasi, adalah operasi intelijen.

Ia meminta agar tidak ada pembentukan opini-opini konspirasi tanpa bukti karena dapat melemahkan upaya penumpasan terorisme.

"Hentikan pembentukan opini-opini konspirasi yang justru akan melemahkan upaya-upaya kita untuk bersama-sama memerangi teror," kata dia kepada wartawan, Selasa (30/3/2021).

Jaleswari meminta semua pihak untuk mempercayakan penumpasan aksi teror kepada Kepolisian.

Sehingga, Indonesia tidak lagi diwarnai aksi teror yang menggangu stabilitas keamanan negara.

"Aksi teror di Indonesia nyata, tercatat 552 serangan teror (2000-2021), sebagian besar berhasil dibongkar oleh kepolisian antara lain juga melalui mekanisme pengadilan yang terbuka," katanya.

Sebelumnya, Detasemen Khusus 88 Antiteror menangkap 4 terduga teroris di Jakarta dan Bekasi, Senin (29/3/2021).

Mereka juga menemukan 5 bom aktif sebagai barang bukti.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan, seluruh terduga teroris telah diamankan oleh tim Densus 88.

"Densus yang ada di Jakarta telah mengamankan 4 orang dengan identitas ZA, AA, AJ, dan DS," kata Jenderal Sigit kepada wartawan, Senin (29/3/2021).

Sigit juga membenarkan tim Densus 88 menemukan bom aktif yang siap digunakan saat penangkapan para terduga teroris.

"Kita temukan barang bukti 5 bom aktif jenis bom sumbu yang siap digunakan."

"Kemudian 5 stoples besar yang di dalamnya berisi aseton, H2O2, HCL, sulfur," jelasnya.

Pihaknya juga menemukan bahan baku pembuatan bom.

"Serta termometer yang bahan-bahan ini akan diolah menjadi bahan peledak."

"Jumlahnya kurang lebih 4 kilogram. Kemudian ditemukan bahan peledak yang sudah jadi jenis TATP dengan jumlah 1,5 kilogram," ungkap Kapolri. (*)

Berita Lain Terkait Bom Bunuh Diri di Makassar

Artikel ini telah tayang di:

Wartakotalive dengan judul Update Bom Gereja Katedral Makassar, Kapolri Pastikan Otak Pelaku Teror Sudah Dibekuk

Tribunnews.com dengan judul Abdullah Hehamahua Sebut Bom Bunuh Diri di Makassar Hanya Pengalihan Perhatian

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved