Breaking News:

Menyusuri Jejak-jejak Sejarah Penting di Gereja Tua Malak, Minut

Ada lampu kuno yang biasa menggunakan gas hingga lonceng peninggalan Belanda.

tribunmanado.co.id/Arthur Rompis
Gereja Tua Malak di Desa Laikit Minahasa Utara. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Bicara pariwisata di Minut tak hanya tentang pantai dan bukit. Tapi juga cagar budaya. Salah satu cagar yang unik adalah Gereja Tua Malak di Desa Laikit, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minut. Gereja ini punya histori dan bangunan kuno beserta peninggalannya yang eksotik.

Memasukinya, bak melalui lorong waktu yang menuntun siapapun kembali ke masa-masa awal kekristenan di tanah Minahasa. Gereja itu masih mempertahankan bentuk aslinya seperti kala ditahbiskan pada 1927.

Bangunannya berbahan dasar kayu, dengan bentuk mirip gereja di pedesaan Amerika yang bergaya ranch, berpadu dengan gaya bangunan Minahasa kuno. Benda-benda kuno ada di dalam gereja itu. Ada mimbar berbentuk datar, kursi mirip di ruang volskraad zaman Belanda dulu, lampu kuno yang biasa menggunakan gas, serta lonceng peninggalan Belanda.

Lonceng ini bunyinya sangat keras hingga bisa menjangkau tiga desa. Seng kuno juga masih terpasang. Beberapa bagiannya lubang lubang. Itu bekas lubang tembakan pesawat di masa permesta. Tak hanya benda kuno itu, semua yang ada dalam gereja seolah bicara mengenai masa lalu; pintu, jendela, plafon, tangga, cat putih hijau serta tata letak kursi yang memisahkan jemaat dan majelis.

Satu satunya yang modern hanyalah ubin. Tribun Manado mengunjungi gereja itu pada Selasa (16/3/2021) pagi. Gereja masih tutup. Bangunan modern sudah berdiri berdampingan dengan bangunan itu. Tapi itu justru menambah kuno bangunan itu.

Mencapai desa tersebut dapat ditempuh lewat perjalanan darat selama 30 menit. Dari Manado lewat jalan Manado Airmadidi kemudian jalan Manado Dimembe. Jantje Ngangi, warga setempat, mengatakan, kayu yang digunakan untuk membangun gereja adalah cempaka Wasian.

Sebelum memotong kayu, para pekerja memanjatkan doa. "Mereka berdoa agar Tuhan mengokohkan gereja ini. Doa mereka terwujud," kata dia Disebutnya, gereja itu dibuat model bangunan Belanda yang ditambah sedikit gaya Minahasa. Untuk zamannya, gereja itu termasuk modern.

"Itu membuktikan para pekerja Tonsea zaman dulu sudah punya keahlian tinggi," beber dia.

Begitu rampung, gereja tersebut langsung menyatu dengan denyut nadi masyarakat. Di masa damai, jadi tempat pencerahan masyarakat. Di masa perang, jadi tempat perlindungan.

Dikatakannya, dalam masa perang yang diperkirakannya saat perang mempertahankan kemerdekaan, gereja itu sempat dihujani tembakan dari pesawat terbang. Bekas lubangnya masih ada hingga kini. "Seng gereja berlubang," kata dia.

Dikatakan Ngangi, gereja itu dinamakan Malak karena berada di antara Desa Matungkas dan Laikit. "Malak adalah Matungkas dan Laikit," kata dia.

Singkatan nama itu pula yang menjadikannya unik karena dijadikan tempat ibadah dua jemaat yakni Imanuel Laikit dan Sion Matungkas. Jika ibadah, dua jemaat itu duduk terpisah. (*)

Penulis: Arthur_Rompis
Editor: Charles Komaling
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved