Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Trilogi Pembangunan Jemaat

BACAAN ALKITAB - “Akulah DIA!”

Manusia adalah mahkluk ciptaan Tuhan yang segambar dan serupa dengan Allah (Imago Dei). Diciptakan-Nya manusia dan dikarunia

Editor: Aswin_Lumintang
internet
Ilustrasi renungan 

MTPJ 14 – 20 Maret 2021 – Minggu Sengsara IV

TEMA BULANAN : “Penataan Persekutuan adalah Cerminan Kualitas Pelayanan”
TEMA MINGGUAN : “Akulah DIA!”
BACAAN ALKITAB : Yohanes 18:1-11

Ilustrasi Renungan
Ilustrasi Renungan (internet)

ALASAN PEMILIHAN TEMA
Manusia adalah mahkluk ciptaan Tuhan yang segambar dan serupa dengan Allah (Imago Dei).
Diciptakan-Nya manu-sia dan dikarunia berbagai kelebihan sebagai anugerah Tuhan untuk mengekpresikan talentanya sehingga menghasil-kan sumber daya manusia yang tangguh dan berkualitas, yang walaupun dibalik kelebihan manusia ada kelemahan dan kekurangan.

Salah satu kelemahan dan keberdosaan manusia dapat dilihat ketika manusia jujur berani mengaku kesalahan-nya di mata hukum. Banyak suka berkelit dengan memakai seribu dalih dan alasan demi pembenaran bahkan orang lain dijadikan kambing hitam.

Sangat berbeda dengan apa yang dilakukan Yesus ketika Ia sedang dicari oleh sepasukan prajurit bersama Yudas si pengkhianat itu. Yesus tidak lari dan melarikan diri dari kenyataan, dan merasa takut atau berpura-pura menghindar dari penangkapan itu, tetapi justru Yesus yang lebih dahulu maju dan bertanya kepada mereka: Siapakah yang kalian cari? Jawab mereka : Yesus dari Nazaret. Kemudian dengan tulus, lantang dan berani Yesus menjawab: Akulah Dia. Pengakuan Yesus ini akan menjadi refleksi dari Gereja termasuk orang percaya di masa Raya Minggu Sengsara keempat ini.

Baca juga: Bakal Meluncur di Tanah Air? Daihatsu Rocky Tertangkap Kamera dalam Balutan Kamuflase Lagi Uji Coba

Baca juga: AHY Masuk 4 Besar Survei Calon Presiden, Ishak Sugeha : Itu Wajar

PEMBAHASAN TEMATIS:
 Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Nama Ibrani YHWH sesungguhnya berkaitan dengan kata Ibrani hayoh“adalah” yang berarti “Aku adalah Dia yang ada” atau “Akulah yang akan tetap ada”. Dalam Injil Yohanes, Yesus juga memakai ungkapan “Aku adalah” untuk menghubungkan dirinya dari hakekat Allah ini untuk meng-gambarkan apa yang Allah berikan kepada-Nya agar ia lakukan bagi manusia. Yesus memperkenalkan sebagai Dia yang menyediakan semua kebutuhan (Yohanes 6:35) bahkan Injil Yohanes telah menunjukkan bahwa Yesus sudah ada sejak awal dalam rencana Allah : “Sebelum Abram jadi, Aku sudah ada (Yohanes 8:58).

Dalam prolog ditegaskan bahwa Yesus adalah Tuhan dan bahwa Ia praeksistensi artinya Ia sudah ada sebelum segala makhluk ada. Logos (Firman) tidak hanya bersama-sama dengan Allah pada mulanya, tapi adalah Allah (1:1) dan Logos inilah yang menjadi manusia dalam Kristus. Beberapa kali Yesus menampilkan hubungan ke-Anak-an-Nya sendiri dengan Bapa.

Rencana penyelamatan diberlakukan oleh Bapa melalui Anak: karena kasih untuk dunia maka Allah mengaruniakan Anak-Nya (3:16). Anak adalah utusan melalui siapa Allah Bapa menyatakan diri-Nya 1:18). Tuntutan Yesus bahwa Ia Anak Allah adalah dasar gugatan di depan Pilatus bahwa menurut hukum Yahudi Dia harus mati (19:7).

Demikian juga halnya yang disaksikan oleh Yohanes 18:1 -11 dimana sesudah Yesus berdoa untuk murid-murid-Nya maka Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan pergi ke seberang Sungai Kidron dan di situ ada taman yang oleh para penulis kitab Sinoptis menamai tempat itu dengan taman Getsemani (Markus 14:32; Matius 26:36; Lukas 22:39-46).

Kemudian Yesus masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya untuk berdoa, kemudian Yesus menyendiri ke tempat tertentu untuk berdoa dengan maksud agar Dia diberikan kekuatan oleh Bapa-Nya yang di sorga dalam menghadapi perderitaan yang akan dijalani (ayat 1). Demikian halnya dengan Yudas mengetahui tempat itu karena mungkin ia juga sering bersama Yesus ke tempat itu. Setelah Yesus selesai berdoa tiba-tiba Yudas dengan sepasukan prajurit dan penjaga Bait Allah yang di suruh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan sulu, lentera dan senjata untuk datang menangkap Yesus (ayat 2-3).

Bagi Yesus sepatutnya Yudas tidak perlu menangkap Yesus dengan cara kekuasaan dan militer karena Yudas lupa bahwa Yesus adalah sebagai anak Allah yang punya kuasa. Sesungguhnya Yesus telah lebih dahulu mengetahui apa yang harus Ia alami atau menimpa diri-Nya.

Sehingga Yesus tidak menunggu, Yudas untuk mengutarakan apa maksud keha-diran mereka di tempat itu. Yesus sendiri yang lebih dahulu bertindak melangkah ke depan dan menyapa para prajurit serta bertanya: “Siapakah yang kamu cari?” bahkan ada tiga kali Yesus bertanya “Siapakah yang kamu cari?”. Jawab mereka: “Yesus dari Nazaret”. Jawaban Yudas dan para Prajurit bahwa yang mereka cari adalah Yesus dari Nazaret mau menjelaskan bahwa kemungkinan besar di kota kota sekitar Nazaret ada/banyak yang bernama Yesus sehingga mereka tidak salah menangkap-Nya. Kemudian kata Yesus kepada mereka: “Akulah Dia,” jawaban Yesus merupa-kan momen yang tepat dalam rangka memperkenalkan diri-Nya sendiri bahwa Dia-lah Yesus dari Nazaret.

Ketika para Prajurit mendengar perkataan Yesus bahwa Dialah Yesus dari Nazaret, maka serdadu dan prajurit-prajurit sangat terkejut karena perkataan Yesus itu, sehingga mereka mundur dan jatuh ke tanah Yudas dan prajurit itu terkejut dan jatuh karena sesungguhnya mereka berhadapan dengan Yesus sebagai anak Allah yang memiliki wibawa tetapi juga memiliki kuasa yang dari Allah Bapa-Nya sehingga kata-kata-Nya mengan-dung kuasa yang sangat ajaib (ayat 4-6; Markus1:27). Kemudian dengan ketenangan sebagai seorang Raja, Yesus telah memperingatkan mereka bahwa Ia telah menunjukan diri-Nya yang mereka cari itu, sehingga Yesuspun meminta supaya murid-murid yang bersama Dia dibiarkan pergi. Maka genaplah firman karena mereka yang engkau serahkan kepada-Ku tidak seorangpun yang Ku biarkan binasa. Pernyataan Yesus ini sesungguhnya menggambarkan sifat penderitaan-Nya sehingga Ia membiarkan diri-Nya ditangkap dan dihukum agar nyata bagi kebenaran dan pengampunan dari dosa (ayat 9).

Simon Petrus adalah seorang murid Yesus yang kepribadiannya sangat cepat memberikan reaksi bahkan ia orang yang selalu ada di garda terdepan untuk membela Yesus. Dalam peristiwa ini sepertinya Petrus ingin membela Yesus, dengan cara memutuskan telinga kanan Malkhus hamba seorang Imam Besar (ayat 10).

Namun apa yang di lakukan Simon Petrus adalah cara yang keliru atau salah, sebab apa yang ia lakukan merupakan simbol kekerasan yang sangat bertentangan dengan ajaran Yesus seperti dalam hukum kasih 1 Petrus 3:9; Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan 1 Tesalonika 5:15, jangan membalas jahat dengan jahat sabagaimana kebiasan orang Israel di Perjanjian lama seperti gigi ganti gigi, mata ganti mata, kejahatan di balas dengan kejahatan. Yesus memberikan pengajaran contoh dan teladan kepada para murid bahwa siapa yang main pedang, maka ia akan di makan oleh pedang, kejahatan harus dibalas dengan kebaikan.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved