Selasa, 12 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Prajurit TNI Tertembak

Sosok Praka Dedi Irawan, Prajurit TNI yang Gugur Tertembak Dibagian Perut oleh Kelompok MIT

Prajurit TNI kembali gugur saat kontak senjata. Kali ini terkait anggota TNI ini jadi korban dari kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT)

Tayang:
Editor: Glendi Manengal
Istimewa
Prajurit TNI Praka Dedi Irawan Meninggal saat Bertugas, Tertembak kelompok MIT 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Prajurit TNI kembali gugur saat kontak senjata.

Kali ini terkait anggota TNI ini jadi korban dari kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT)

Prajuri TNI bernama Praka Dedi Irawan tertembak dibagian perut.

Baca juga: Cara dan Syarat Daftar Kartu Prakerja Gelombang 13 di www.prakerja.go.id, Cek Disini

Baca juga: Nama-nama Korban Kecelakaan Mitsubishi Pajero Sport, Seorang Kontraktor Tewas,Sopir Selamat Jadi TSK

Baca juga: Minta UU ITE Jangan Dihapus, Nikita Mirzani: Kalau Dihapus Nanti pada Barbar Netizennya


Foto Jenazah Praka Dedi Irawan yang gugur di Poso saat dimakamkan di Pekanbaru. Berikut ini profil dan biodatanya. (Tribun Pekanbaru)

Praka Dedi Irawan gugur dalam kontak senjata antara Satgas  Madago Raya dan teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di wilayah Pegunungan Andole, Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Senin (1/3/2021).

Jenazah almarhum Praka Dedi Irawan diterbangkan dari Sulawesi Tengah ke Jakarta.

Selanjutnya, jenazah diterbangkan dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta menuju Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, untuk dibawa ke rumah duka milik orangtuanya di Jalan Kusuma, Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukitraya, Kota Pekanbaru.

Karangan bunga ucapan belasungkawa datang dari berbagai kalangan di rumah duka itu. 

Kursi plastik untuk tempat duduk para pelayat, terlihat berjejer di bawah tenda yang terpasang.

Sosok dan biodata Praka Dedi Irawan, prajurit TNI, anak buah Jenderal Andika Perkasa yang gugur di Poso.

Berikut ini biodata Praka Dedi Irawan dan fakta-fakta yang terungkap: 

1. Anak masih 26 bulan

Praka Dedi Irawan merupakan anak keempat dari lima bersaudara.

Ia lahir pada 19 Agustus 1991.

Praka Dedi Irawan meninggalkan seorang istri yang selama ini tinggal di Solo, Jawa Tengah.

Ia juga meninggalkan anak yang masih berusia 2 tahun 2 bulan.

Istri Praka Dedi dan putrinya terlihat ikut dalam mobil yang membawa jenazah ke rumah duka pada Selasa, (2/3/2021) sekitar pukul  17.00 WIB.

Hujan tangis pecah ketika putri Praka Dedi menjerit disambut keluarga di rumah duka.

Sehari-hari, Praka Dedi dikenal sebagai sosok yang baik dan tidak pernah membuat orang tuanya bersedih.

"Dialah anak yang tidak pernah membuat air mata orang tua jatuh. Ya, yang namanya umur kita tidak tahu.

Sosok yang baik adalah dia," ucap Heru, kakak Dedi Irawan.

2. Firasat orangtuanya

Ternyata, firasat kepergian Kopda Anumerta Dedi Irawan Dedi Irawan sudah dirasakan orangtuanya. Gigi patah menjadi pertanda bakal berduka.

Disampaikan Heru, firasat gigi patah disampaikan orang tua mereka.

"Kalau saya tidak ada firasat, cuma dari orang tua gigi patah," tutur Heru.

Heru menyebutkan, keluarga begitu tidak menyangka adiknya pergi secepat itu.

3. Ibunda memeluk Danrem

Rabu siang, Komandan Korem (Danrem) 031/ Wira Bima, Brigjen TNI M Syech Ismed datang langsung ke kediaman orangtua Praka Dedi Irawan.

Ibunda Dedi, Hj Ismiati, tak kuasa menahan tangis.

Air matanya menetes deras . Seketika, sang ibunda langsung memeluk tubuh Brigjen Ismed.

Danrem pun mencoba menenangkan ibunda Praka Dedi. Raut wajah Brigjen Ismed pun berubah sedih.

Ia juga terlihat merasakan kedukaan yang mendalam dari ibunda Dedi Irawan.

4. Sempat Video Call

Heru, abang Dedi Irawan menyebutkan, keluarga begitu tidak menyangka adiknya pergi secepat ini.

Padahal pagi hari sebelum dikabarkan gugur, almarhum masih sempat berkomunikasi lewat video call dan mengabarkan tentang kondisi dirinya di Poso.

"Kami kaget, soalnya pagi kita masih video call, habis Magrib kita dapat kabar duka bahwa adik kita sudah tidak ada," katanya.

Heru menyebutkan, Dedi Irawan sudah berada di Poso selama tiga bulan. Ia menjalankan tugas negara dan tergabung dalam Satgas Operasi Madago Raya.

Sebelum berangkat ke Poso, Praka Dedi Irawan sempat pulang ke Pekanbaru, selama 10 hari.

"Sebelum berangkat ke Poso dia ke sini. Dia ambil cuti kurang lebih 10 hari. Setelah itu dia berangkat ke Poso," ungkap Heru.

5. Naik Pangkat

Setelah disemayamkan sebentar di rumah duka, jenazah Praka Dedi Irawan dibawa ke Masjid Abu Bakar untuk disalatkan.

Setelah itu, jenazah diserahkan kepada TNI untuk selanjutnya dimakamkan di komplek Taman Bahagia Pekanbaru.

Peti jenazah almarhum yang berbalut bendera merah putih itu diangkat 6 orang personel TNI.

Iring-iringan jenazah tiba di dekat makam. Tembakan salvo meletus beberapa kali, mengiringi proses pemakaman Praka Dedi Irawan secara militer ini.

Keluarga pun ikut mengiringi. Ibunda Praka Dedi yang mengenakan mukenah warna putih, terlihat memeluk erat foto almarhum semasa hidup. Ia didampingi anggota keluar yang lain.

Hadir dalam pemakaman Praka Dedi Irawan, Wadankoopsus TNI, Brigjen TNI (Mar) Widodo. Karena gugur dalam melaksanakan tugas negara, Praka Dedi Irawan naik pangkat menjadi Kopda (Anumerta).

"Itu kan sudah haknya almarhum, karena melaksanakan tugas negara. Itu reward dari Panglima TNI. Sebelumnya pangkat Praka, menjadi Kopda," ujarnya.

Diungkapkannya, almarhum dikenal baik. Dia terbilang bagus dalam menjalankan tugas-tugas.

Sementara itu, Danrem 031/ Wira Bima Brigjen TNI M Syech Ismed yang juga hadir dalam pemakaman almarhum menuturkan, pihaknya menyampaikan duka cita atas berpulangnya salah satu prajurit dari Koopsus TNI ini.

Katanya, orangtua almarhum Dedi Irawan,memang tinggal di Pekanbaru. Namun ia berasal dari satuan Koopsus TNI.


Foto Jenazah Prajurit TNI Praka Dedi Irawan. (istimewa)

6. Kronologi kontak senjata

Kontak senjata antara Satgas Mandago Raya dan teroris MIT Poso juga mengakibatkan dua anggota MIT anak buah Ali Kalora tewas. 

Mereka adalah Samid alias Alvin serta Haerul alias Irul yang merupakan menantu dari Santoso.

Santoso merupakan pimpinan MIT sebelum digantikan oleh Ali Kalora.

Santoso  tewas saat baku tembak dengan petugas Satgas Operasi Tinombala terjadi 18 Juli 2016. 

Kapolda Sulteng Irjen Pol Abdul Rakhman Baso menjelaskan, Samid alias Alvin  selama ini masuk daftar pencarian orang (DPO).

Informasi diperoleh TribunPalu.com, Selasa (2/3/2021), Tim Koopsgabsus Chandra 2 dipimpin Serma Nyoman Dani baku tembak dengan kelompok DPO MIT di Pegunungan Andole, Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, 1 Maret 2021, pukul 16.30 Wita.

Dalam pertempuran itu, Alvin tertembak dan tewas di tempat.

Sementara satu DPO MIT Poso belum diketahui identitasnya jatuh ke jurang setelah tertembak.

Praka Dedi juga tewas setelah bagian perutnya ditembus proyektil dari senjata DPO MIT Poso.

Pukul 18.40 Wita, Praka Dedi Irawan (Pos Kampung Maros) dievakuasi menuju RS Palu, menggunakan helikopter.

Pukul 19.23 Wita, jenazah Praka Dedi Irawan tiba di RS Sindhu Trisno atau RS Wirabuana, Kota Palu.

Pukul 19.31 Wita, Jenazah di masukkan ke ruangan VIP Sakti.

Hingga kini Tim Koopsus TNI masih memgejar DPO MIT Poso yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Artikel ini telah tayang di Tribunpekanbaru.com dengan judul Gigi Patah Firasat Kepergian Kopda Anumerta Dedi Irawan,HujanTangis Iringi Pemakaman di Pekanbaru, https://pekanbaru.tribunnews.com/2021/03/03/gigi-patah-firasat-kepergian-kopda-anumerta-dedi-irawanhujantangis-iringi-pemakaman-di-pekanbaru.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved