Tokoh Nasional

Sosok Arsitek Masjid Istiqlal, Kawan Karib Kristen Presiden Soekarno, Ini Kisahnya

Situs Jakarta Tourism menjelaskan, Friedrich adalah seorang Kristen Prostestan yang dipilih oleh Presiden Soekarno untuk merancang Masjid Istiqlal.

Editor: Alpen Martinus
Kolase foto https://muslimobsession.com//Pat Hendranto/Kompas
Friedrich Silaban, Anak Seorang Pendeta yang Jadi Arsitek Masjid Istiqlal 

TRIBUNMANADO.CO.ID,JAKARTA -Masjid Istiqlal menjadi satu di antara ikon DKI Jakarta yang masih berdiri megah, meski sudah berusia tua.

Masjid tersebut dibangun arsitek hebat, dan merupakan kawan karib Presiden Soekarno.

Pembangunan masjid diwarnai dengan toleransi yang sangat tinggi.

Sebab arsitek Istiqlal dibuat oleh tokoh non muslim.

Masjid Istiqlal, yang berdiri pada 22 Februari 1978 atau 43 tahun yang lalu, dianggap sebagai simbol toleransi antaragama.

Makna toleransi yang dilekatkan kepada Masjid Istiqlal tak cuma karena berlokasi di seberang Gereja Katedral di Jakarta Pusat.

Alasan lain adalah sosok di balik perancang desain Masjid Istiqlal bernama Friedrich Silaban.

Baca juga: Kisah Master Tarno, Dari Miskin Sempat Kaya Raya dan Istri Dua, Miris Kondisinya Sekarang

Soekarno (kiri) dan arsitek Friedrich Silaban (kanan)
Soekarno (kiri) dan arsitek Friedrich Silaban (kanan) (Istimewa/Galeri Nasional Indonesia)

Situs Jakarta Tourism menjelaskan, Friedrich adalah seorang Kristen Prostestan yang dipilih oleh Presiden Soekarno untuk merancang Masjid Istiqlal.

Pemilihan tersebut terjadi lewat sayembara oleh Soekarno pada 1955.

Putra Friedrich, Panogu Silaban, mengisahkan awal mula sang ayah memutuskan untuk ikut sayembara tersebut.

Dia menjelaskan bahwa Friedrich, yang memiliki kedekatan ke Soekarno, meminta izin sang Presiden untuk turut berpartisipasi pada sayembara.

Baca juga: Ridwan Kamil dan Sandiaga Uno Pendam Keinginan Berpasangan di Pilpres 2024, Masih Fokus Tugas

"Dia (Friedrich) pernah bertanya kepada Soekarno langsung: 'Ini mau ngadain sayembara Istiqlal loh? Saya ikut enggak ya?' Mereka memang dekat ya.

Lalu (Soekarno jawab): 'Tapi kalau ikut harus pakai nama samaran. Kalau enggak, enggak ada yang mau milih'," kata Panogu dalam wawancara dengan tayangan SINGKAP Kompas TV pada akhir Februari 2018.

Dijelaskan Panogu, ayahnya memang kerap mengikuti sayembara dengan nama samaran berupa moto.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved