Breaking News:

Berita Manado

Diduga Memalsukan Bea Meterai dan Surat, WNA Swiss Dilaporkan Ke Polresta Manado

Josephine Manupessi warga Desa Kalasey, Kabupaten Minahasa melaporkan seorang warga negara asing (WNA) asal Swiss

Tribun manado / Andreas Ruaw
Josephine Manupessi warga Desa Kalasey, Kabupaten Minahasa, bersama pengacaranya melaporkan seorang warga negara asing (WNA) asal Swiss terkait dugaan Pemalsuan bea meterai dan surat. 

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Dugaan Pemalsuan bea meterai dan surat, Josephine Manupessi warga Desa Kalasey, Kabupaten Minahasa melaporkan seorang warga negara asing (WNA) asal Swiss.

Menurut kuasa hukumnya Vebry Haryadi yang ditemui saat mendampingi Josephin di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Manado mengatakan, pihaknya melaporkan kasus ini, sekaligus menjelaskan kronologi peristiwa pada, Jumat (19/2/2021).

Warga negara asing yang namanya Max Pieter Weber yang berasal dari Negara Swiss, nah Max ini merupakan warga negara pemegang surat Kartu Izin Tinggal Terbatas (Kitas).

"Jadi klien saya ini adalah warga negara Indonesia yang tinggal di Kota Manado," ujar Vebry

Baca juga: Pendamping Desa di Bolsel Keluhkan Keterlambatan Gaji ke Herson Mayulu

Baca juga: Gulirkan PPKM dan Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Kiat Vicky Lumentut di Akhir Masa Kepemimpinan

Baca juga: Kisah Guru Pacari Muridnya Sejak Umur 8 Tahun, Kini Si Gadis Mulai Dewasa, Begini Nasib Cinta Mereka

"Sebelumnya, klien saya dan Max Weber ini tadinya memiliki status hubungan
berpacaran. Nah kemudian dari hubungan mereka, keduanya bersepakat membeli aset berupa rumah dan tanah yang berlokasi di Desa Kalasey, Kabupaten Minahasa atas nama Josephine Manupessi," ujar Vebry lagi.

"Sebelum dibelinya tanah dan rumah, Klien saya membawa ke seorang Notaris/PPAT di Manado untuk menjelaskan kedudukan hukum WNA di Indonesia. Demikian pula terhadap perjanjian mengenai maksud dibelinya tanah dan rumah atas nama Klien saya, yang dibuat oleh seorang Pengacara juga berdomisili di Manado yang dalam perjanjian diakui bahwa tanah dan rumah dibeli atas nama Klien saya untuk mengurus di masa tua dari WNA tersebut. Namun kemudian berbuntut ancaman dengan sebilah parang yang laporannya di Polda Sulut tidak berlanjut, di mana saat itu klien kami belum didampingi Pengacara saat melaporkan ancaman dengan senjata tajam itu," jelas Vebry.

Lanjut Vebry, berselang beberapa lama, si WNA ini merasa tidak menerima dengan status tanah dan rumah tersebut yang mengatasnamakan nama klien saya.

Baca juga: Kisah Guru Pacari Muridnya Sejak Umur 8 Tahun, Kini Si Gadis Mulai Dewasa, Begini Nasib Cinta Mereka

Sehingga atas sikap keberatannya itu, WNA ini membuat laporan ke polisi Polres Manado dengan dugaan penipuan dan Penggelapan dengan memakai surat yang diduga dipalsukan WNA tersebut, yang isi suratnya menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Jerman, serta memakai bea meterai bertulis 6.000 yang ganjil tanpa ada lambang Garuda serta hal lainnya sebagaimana meterai yang ada di Indonesia.

"Surat tersebut tidak pernah ditandatangani klien kami serta dua saksi lainnya dalam surat yang diduga palsu itu berisi pengakuan hutang sebesar Rp 3 Miliar dengan memakai mata uang asing, serta bermeterai yang diduga meterai palsu telah digunakan untuk mempidanakan klien kami. Sehingga kami melaporkan ke Polres Manado dengan dugaan pemalsuan surat dan pemalsuan meterai Indonesia oleh WNA itu," kata Vebry.

Diketahui, Tindak pidana pemalsuan surat diatur dalam Pasal 263 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP” yang berbunyi:

Barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar· dan tidak dipalsu, diancam jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian, karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama enam tahun.

Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai surat palsu atau yang dipalsukan seolah-olah sejati, jika pemakaian surat itu dapat menimbulkan kerugian.

Selain itu, ia terancam dijerat Pasal 13 UU Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai jo Pasal 253 jo Pasal 257 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama tujuh tahun. (**)

Baca juga: Jakarta Dilanda Banjir, Janji Anies Baswedan Dipertanyakan, PDIP: Pak Anies Tidak Melakukan Apa-apa

YOUTUBE TRIBUN MANADO:

Penulis: Andreas Ruauw
Editor: David_Kusuma
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved