Sarundajang Meninggal
Ivan Sarundajang: Ayah Penerima Bintang Mahaputera Utama, Tapi Keluarga Minta Dimakamkan di Tompaso
ayahnya SHS harus dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Jakarta atau Manado. Namun, atas permintaan keluarga, akhirnya disetujui untuk dimakamkan d
Penulis: Martsindy Rasuh | Editor: Aldi Ponge
Laporan Kotributor Tribun Manado, Martsindy Rasuh
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Mantan Wakil Bupati Kabupaten Minahasa Ivan Sarundajang (IvanSa) mengungkapkan bahwa ayahanda tercinta Sinyo Harry Sarundajang (SHS) merupakan penerima Bintang Mahaputera Utama.
Hal ini disampaikan IvanSa pada acara persemayaman terakhir di kantor bupati Minahasa, Kamis (18/2/2021).
Dengan penghargaan ini, lanjut IvanSa, seharusnya ayahnya SHS harus dimakamkan di taman makam pahlawan (TMP) Jakarta atau Manado.
Namun, atas permintaan keluarga, akhirnya disetujui untuk dimakamkan di kampung halaman Desa Tompaso Dua, Kecamatan Tompaso, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
"Sebenarnya harus di TMP, akan tetapi karena kami keluarga meminta agar dimakamkan saja di Tompaso, sehingga disetujui," jelasnya.
Diketahui, penghargaan Bintang Mahaputera Utama merupakan penghargaan sipil yang tertinggi, tetapi dikeluarkan dan diberikan sesudah Bintang Republik Indonesia kepada anggota korps militer.
Bintang ini diberikan bagi mereka yang berjasa secara luar biasa pada bidang militer.
Sepak Terjang Mendiang Sinyo Harry Sarundajang, Putra Terbaik Sulut Dengan Segudang Prestasi
SHS merupakan mantan Gubernur Sulawesi Utara ke-12 yang menjabat selama dua periode sejak 2005 hingga 2015 yang telah banyak berjasa bagi kemajuan Sulut
Seperti apa sepak terjang perjalanan karir mendiang Sinyo Harry Sarundajang berikut rangkumannya
Profil Sinyo Harry Sarundajang
Nama Lengkap : Sinyo Harry Sarundajang
Tempat Lahir : Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara
Tanggal Lahir : Selasa, 16 Januari 1945
Istri : Deetje Adelin Sarundajang Laoh Tambuwun
Anak : Steven J. Sarundajang, Vanda D. Sarundajang, Fabian R Sarundajang, Eva C. Sarundajang, Shinta Sarundajang
Sepak Terjang Sinyo Harry Sarundajang
SHS lahir di Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara 16 Januari 1945. Ia menghabiskan masa sekolahnya di kota kelahirannya.
Sementara kuliahnya, ia mengambil Jurusan Administrasi Negara, Fakultas Sosial dan Politik, Universitas Sam Ratulangi di Manado. SHS berhasil meraih sarjana muda pada tahun 1968.
Untuk meraih gelar sarjana penuh, ia harus mengikuti pendidikan ke jenjang berikutnya.
SHS kuliah di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, Jurusan Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan.
Ia berhasil menyabet gelar sarjana pada tahun 1970. Dalam perjalanan hidupnya, ia juga meneruskan ke jenjang doktor.
Karier Sinyo Harry Sarundajang dimulai sebagai dosen pada tahun 1971.
Saat usianya 26 tahun, ia menjadi dosen luar biasa Fakultas Sospol Universitas Sam Ratulangi Manado dengan mata kuliah Ilmu Politik dan dosen luar biasa Akademi Pemerintahan Dalam Negeri Manado dengan Mata Kuliah Administrasi Negara.
Kariernya terus meningkat. Ia sering diberi tugas darurat untuk menyelesaikan persoalan suatu daerah dengan ditunjuk menjadi pejabat sementara (Pj).
Ia mulai sebagai menjadi Pj. Sekwilda Minahasa, Pj. Karo Bina Pemerintahan Daerah Kantor Gubernur Sulawesi Utara, PJ. Walikotamadya Bitung, Walikotamadya Bitung dalam dua periode.
Kariernya terus naik. SHS menjadi Pj. Gubernur Maluku Utara.
Sementara jabatan tetapnya, SHS menjabat Gubernur Sulawesi Utara selama dua periode; 2005-2010 dan 2010-2015.
Dalam berpartai dia bergabung dengan Partai Demokrat, sebelumnya ia adalah kader PDI Perjuangan.
Saat memimpin Sulut, ia didukung oleh Partai Demokrat. Dia juga sempat ikut konvensi calon presiden yang digelar oleh Partai Demokrat pada tahun 2014.
Sayang, Konvensi Capres yang digelar Demokrat tak berjalan mulus.
Bagi SHS tak masalah tidak jadi ikut bakal Capres 2014. Ia pun menuntaskan pekerjaanya sebagai gubernur.
Tak lagi sebagai orang nomor satu di Sulut, ia diminta berkontribusi di tempat lain. SHS terpilih sebagai anggota Dewan Pers periode 2016-2019.
Tangani Konflik di Maluku
Selain cakap dalam dunia birokrasi dan politik, SHS juga dikenal sebagai tokoh Sulut yang sangat berprestasi.
Karena prestasinya tersebut, ia bahkan memiliki sekitar 51 penghargaan (Sumber Wikipedia), baik dari Kementerian hingga Presiden
SHS tak hanya dikenal sebagai tokoh berprestasi dan pintar namun juga tokoh yang menjunjung tinggi toleransi baik antar suku hingga agama
Sarundajang bahkan menerima penghargaan sebagai tokoh perdamaian Maluku dan Maluku Utara, karena berhasil menyelesaikan konflik disana
Dikutip dari lama fkub.org, Sinyo Harry Sarundajang (SHS) menceritakan pengalamannya dalam menyelesaikan kasus kerusuhan di Maluku Utara dan Maluku.
Kinerjanya di Maluku Utara dan Maluku bukan tanpa hambatan.
Kehadirannya justru diawali oleh tantangan yang bisa mangancam nyawanya.
Apalagi, Sarundajang adalah seorang Kristen yang harus berperan sebagai mediator di kelompok garis keras Kristen dan Muslim.
Saat itu SHS diperintah oleh Megawati Soekarnoputri yang pada saat itu menjabat sebagai wakil presiden, untuk menyelesaikan kasus di Maluku Utara dan Maluku.
Daerah tersebut sudah empat setengah tahun konflik, sudah tujuh Panglima TNI dan empat Kapolda tapi belum bisa menyelesaikan kerusuhan di dua Maluku tersebut.
Akhirnya SHS berangkat ke daerah konflik tersebut dan bisa menyelesaikannya dalam waktu 11 bulan.
Menurut SHS konflik di Maluku Ambon lebih rumit, karena di Ambon selain ada konflik antar dua agama Islam dan Kristen, di Ambon juga ada RMS.
Namun SHS mampu mengatasi masalah yang rumit itu dengan tetap menyesuaikan budaya dan kearifan lokal masyarakat.
Ketika bertugas di daerah konflik seperti Maluku dan Maluku Utara, SHS berusaha untuk menyelesaikan konflik dengan melihat akar permasalahan yang sesungguhnya.
Akhirnya kasus di Maluku dan Maluku Utara bisa selesai dan sehingga sampai sekarang Maluku dan Maluku Utara bisa aman.
Kesuksesan Sarundajang membawa misi perdamaian, berbuahkan hasil.
Beberapa tokoh terkemuka umat Muslim Maluku, menyebutnya sebagai ‘Panglima Laskar Jihad Maluku’.
Sedangkan tokoh Kristen di sana menyapanya sebagai ‘Malaikat Kecil’.
Sukses Pimpin Sulut
SHS juga memaparkan keberhasilannya dalam memimpin Sulawesi Utara, menjadikan Sulut daerah yang aman.
Padahal ketika itu berkembang isu ATM (Ambon, Ternate, Manado) yang menjadi daerah target kerusuhan.
Namun itu tidak terjadi, pemerintah Sulut bekerja sama dengan aparat kemanan, tokoh agama dan masyarakat mampu menjaga daerah ini.
Karir birokrat yang matang dengan segudang prestasi dan pengalaman membuat SHS berkontribusi besar atas kemajuan Sulut selama menjabat sebagai gubernur
Bahkan tanpa perjuangan SHS Sulut, tak mungkin mendapat sorotan dunia dan melaksakan event akbar World Ocean Conference (WOC) pada tahun 2009.
Kini SHS telah berpulang dan sumbangsi pemikiran serta pembangunan yang dilakukan akan menjadi landasan para generasi muda untuk membawah Sulawesi Utara lebih baik lagi. (Martsindy/Don/Tribun Manado)