Jumat, 1 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Banjir dan Longsor di Manado

Ini Analisis Walhi Sulut Tentang Penyebab Banjir di Manado

Banjir dan longsor di Sulut khususnya di Manado disebabkan oleh daya tampung dan daya dukung lingkungan sudah tidak memadai

Tayang:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: David_Kusuma
Tribun manado / Arthur Rompis
Suasana Pasca-Banjir di Manado 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulawesi Utara Theo Runtuwene mengungkapkan,

Banjir dan longsor di Sulut khususnya di Manado disebabkan oleh daya tampung dan daya dukung lingkungan sudah tidak memadai. 

Hutan digunduli, kegiatan reklamasi di Manado Utara berlangsung masif, pertambangan marak.

Pembangunan dilakukan tanpa memperhitungkan efek kerusakan ekosistem. 

Sampah menghuni selokan dan dibuang ke sungai.

Baca juga: Gadis Cantik Kezia Cecilia Tulangow Bantu Korban Bencana

Baca juga: DPC PDIP Tomohon Tanam 500 Pohon di Gunung Mahawu

Baca juga: Banyak Dikeluhkan Warga, Pembatasan Jam Operasional di Tomohon Akan Ditinjau Kembali

Jauh-jauh hari kami sudah meramalkan bakal terjadi bencana besar seperti 2014.

Setelah ini pun masih akan terjadi banjir dengan skala lebih besar. 

Karena alam sudah rusak dan terus dirusak. 

Ditambah lagi dengan faktor anomali alam. 

Walhi selalu mengingatkan hal itu ke pemerintah kota Manado. Tapi tidak pernah didengar. 

Kami bahkan tidak diikutkan pada pembahasan perencanaan kota yang di dalamnya membahas lingkungan. 

Baca juga: Ada Dentuman Misterius di Bali, Warga Sempat Lihat Meteor di Langit: BMKG: Bukan Gempa

Baca juga: Promo JCO Terbaru, 1/2 lusin JCLUBS 2 Iced Thai Tea Hanya 109 Ribu, Berlaku hingga 29 Januari 2021

Penanganan bencana selalu hanya terhenti di hulu. 

Artinya jika sudah ada bencana barulah diatasi. Dengan pemberian bantuan dan lainnya. 

Tidak pernah ada upaya mengatasi masalah dari hilirnya. Padahal ini adalah masalah serius. Yang kita pertaruhkan adalah nyawa, kelangsungan hidup dan warisan bagi anak cucu. 

Suasana saat beberapa wilayah di Kota Manado terendam banjir, Jumat (22/1/2021)
Suasana saat beberapa wilayah di Kota Manado terendam banjir, Jumat (22/1/2021) (tribunmanado.co.id/Fistel Mukuan)

Konsep pembangunan hanya mementingkan asas ekonomi.  Lingkungan hidup terabaikan. 

Padahal cost mengatasi bencana lebih besar dari nilai ekonomis yang didapatkan dari pembangunan serampangan. 

Upaya mengatasi sampah lebih banyak berupa imbauan. 

Perda sampah jadi macan ompong. Jalan keluar yang kami tawarkan adalah duduk bersama semua stakeholder untuk mengurai masalah tersebut satu persatu guna mencari solusinya. 

Kami usulkan perlunya konsep pembangunan berwawasan lingkungan hidup. 

Hentikan reklamasi Manado Utara karena merusak lingkungan hidup.

Ciptakan produk hukum yang memuat sanksi keras dan laksanakan tanpa pandang bulu. 

Tata drainase dan lakukan gerakan penghijauan. Arah baru tersebut sangat mungkin dilakukan 
karena Manado punya pemimpin baru.

Baca juga: Intip Deretan Koleksi Kacamata Mewah Arya Saloka Pemeran Aldebaran dalam Sinetron Ikatan Cinta

Baru baru ini PDI P yang merupakan partai penguasa Manado mencanangkan gerakan lingkungan 
hidup dalam HUT-nya. 

Daerah sekeliling Manado yang selama ini jadi salah satu sumber penyebab banjir Manado kebetulan dipimpin pemimpin sama warna. 

Kami sangat berharap kesamaan politis ini dapat membuahkan kesepakatan untuk mendasarkan pembangunan pada lingkungan hidup. 

Saya akan menghadap Gubernur dan Wali kota Manado untuk memberi saran tentang pembangunan berbasis lingkungan hidup. 

Untuk daerah lainnya di Sulut, masalah yang dihadapi kurang lebih sama yakni masifnya pertambangan dan penggundulan hutan. 

Perlu sinergi untuk sama sama membangun Sulut dengan memperhatikan lingkumgan hidup.  (art) 

Baca juga: DPC PDIP Tomohon Tanam 500 Pohon di Gunung Mahawu

SUBSCRIBE YOUTUBE TRIBUN MANADO:

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved