Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Banjir di Manado

Derita Bayi Korban Bencana Banjir: Tak Ada Susu, Diberi Teh

Tak ada susu Sabtu malam, kala pengungsian korban bencana alam mencapai saat yang genting, terpaksa dua bayi bernama diberi minum teh.

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
tribunmanado.co.id/Arthur Rompis
Kondisi para pengungsi korban banjir di Kantor Pengadilan Agama Malendeng, Kecamatan Tikala, Kota Manado, Sabtu (23/1/2021) 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Seorang wanita tua memegang sebuah botol susu bayi. Isinya air berwarna merah tua

"Ini teh, bukan susu," kata dia kepada Tribun Manado di kantor Pengadilan Agama Malendeng, Kecamatan Tikala, Kota Manado, Sabtu (23/1/2021) siang yang jadi lokasi penampungan korban banjir. 

Tak ada susu Sabtu malam, kala pengungsian korban bencana alam mencapai saat yang genting, terpaksa dua bayi bernama 
Alika (1 bulan) dan Rara (4 bulan) diberi minum teh

"Keduanya terus menangis minta susu," kata wanita bernama Umi itu. 

Sabtu siang itu, kedua bayi tersebut tengah tidur pulas.

Umi yang tengah menjagai bayi itu dilanda kecemasan. 

"Tak ada susu hingga sekarang,  tak tahu lagi bagaimana kalau mereka bangun," ujarnya. 

Selain susu, dua bocah tersebut butuh pempres dan baju ganti. 

Pakaian keduanya hanyut dibawa air bandang. 

"Kami mohon agar segera dikirimi dua barang tersebut, kalau makan kami sudah punya, tapi untuk bayi bayi ini belum ada," kata dia. 

Sebut dia, salah seorang bayi rumahnya rusak karena longsor. 

Seorang lagi, rumah kos tempat ia dan orang tuanya bermukim kebanjiran air setinggi leher. 

Marni warga lainnya mengatakan, ada banyak anak-anak di lokasi penampungan itu. 

"Selain dua bayi, ada juga balita serta anak anak usia 7 dan 8 tahun," katanya. 

Amatan Tribun, anak - anak yang berusia di atas 5 tahun tak hilang keceriannya di tengah suasana suram itu. 

Mereka nampak melompat - lompat di atas kasur, bergulat di atasnya, berlarian sepanjang ruangan, seolah terpisah dari penderitaan sekelilingnya. 

Bak Peter Pan, tokoh dongeng yang ingin tetap menjadi anak-anak agar tidak dewasa untuk merasakan derita manusia. 

Namun tak semua demikian. Seorang anak berusia 6 tahun di Kelurahan Banjer Lingkungan 1 rebahan di bangku yang sudah dipindahkan di jalan lorong, karena sementara dibersihkan dari lumpur.

Ia memakai baju kotor. Tak pakai calana. Hanya pempers. Wajahnya memelas. Seperti muka ayahnya di sampingnya. 

"Disini banyak bayi yang tidak punya pakaian, pempers dan susu, " tutur Ani warga setempat. (art) 

Baca juga: Kentang Punya Manfaat Bagi Kesehatan, Ini Kandungannya

Baca juga: Ashanty Pamer Foto Bareng Millen Cyrus: Mau Seburuk Apapun, Keluarga adalah Segalanya

Baca juga: Promo Indomaret Terbaru, Produk Bayi Diskon 15 Ribu, Harga Susu Murah, Cek Katalog di Sini!

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved