Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Amerika Serikat

Desakan Pemakzulan Donald Trump Mencuat setelah Kerusuhan di Gedung Capitol, Bukan Pertama Kali

Seruan pemecatan atau pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump kembali mencuat.

Editor: Frandi Piring
Kloase/Tribunmanado
Donald Trump dan Pendukunya, Tuduh Biden 'Curi' Suara di Pilpres AS 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Presiden AS Donald Trump kini menjadi sorotan dunia setelah kerusuhan di Gedung Capitol.

Seruan pemecatan atau pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump kembali mencuat.

Kerusuhan di Gedung Capitol, Washington DC, AS itu dikabarkan telah memakan korban jiwa, di mana seorang wanita tewas ditembak mati aparat akibat membawa bom saat demo.

Pendukung Trump melakukan demo untuk aksi protes hasil Pilpres November 2020 lalu.

Massa Trump Serbu Kongres untuk Batalkan Kemenangan Biden, Mike Pence: Hari Gelap dalam Sejarah Capitol AS
Massa Trump Serbu Kongres untuk Batalkan Kemenangan Biden, Mike Pence: Hari Gelap dalam Sejarah Capitol AS (Tangkap Layar Video The Wall Street Journal)

Diberitakan Kompas.com sebelumnya, Jaksa Agung untuk District of Columbia Karl Racin, menyerukan agar Wakil Presiden AS Mike Pence mengatur kabinet dan mengaktifkan Amendemen 25.

Amendemen 25 menyebutkan bahwa wakil presiden, bersama mayoritas pejabat eksekutif maupun Kongres, bisa mendeklarasikan presiden tidak bisa menjalankan kewajibannya.

Sebelum seruan itu muncul, Trump pernah dimakzulkan di level DPR AS pada Desember 2019. Kala itu, DPR AS menyetujui dua pasal pemakzulan terhadap presiden berusia 74 tahun itu.

Namun, cerita berbeda terjadi di level Senat AS. Pada 2020, Senat AS meloloskan Presiden Donald Trump dari tuduhan pemakzulan.

Berikut rangkuman proses pemakzulan Trump hingga akhirnya dia lolos dari pemakzulan berdasarkan pemberitaan Kompas.com sebelumnya.

Usulan pemakzulan

Pemakzulan dimulai saat Ketua DPR AS Nancy Pelosi resmi membuka penyelidikan formal terhadap Trump.

Langkah tersebut diambil setelah Trump dianggap melanggar konstitusi karena mencari bantuan dari Ukraina untuk menghalangi saingannya dari Partai Demokrat, Joe Biden.

"Tindakan Presiden Trump mengungkap fakta yang tidak terhormat tentang pengkhianatan presiden atas sumpah jabatannya dan terhadap keamanan nasional serta integritas pemilu kita," kata Pelosi pada 24 September 2019.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengepalkan tangannya ketika berbicara di malam pemilihan di East Room, Gedung Putih, Washington DC, pada 4 November 2020.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengepalkan tangannya ketika berbicara di malam pemilihan di East Room, Gedung Putih, Washington DC, pada 4 November 2020. ((AFP PHOTO/MANDEL NGAN))

Sehari setelah itu, Gedung Putih merilis transkrip panggilan telepon antara Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Transkrip itu mengonfirmasi bahwa Trump meminta pemerintah Ukraina menyelidiki Biden. Dokumen transkrip sepanjang lima halaman itu merupakan ringkasan pembicaraan Trump dengan Zelensky.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved