Senin, 1 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sulawesi Utara

Momen Akhir Tahun, Selamatkan Yaki Ingatkan Warga Sulut Lindungi Satwa Liar

Ketua Selamatkan Yaki Indonesia, Yunita Siwi mengatakan, masyarakat bisa merayakan tahun baru tanpa harus mengorbankan satwa liar.

Tayang:
Istimewa/Yayasan Selamatkan Yaki
Yaki (Macaca nigra), monyet hitam endemik Sulut. Yayasan Selamatkan Yaki mengimbau warga Sulut tak lagi mengkonsumsi daging satwa liar. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Momen akhir tahun biasanya identik dengan meningkatnya konsumsi daging oleh masyarakat Sulut.

Kendati pandemi Covid-19, minat masyarakat untuk mengkonsumsi daging, termasuk di dalamnya daging satwa liar tetap tinggi.

Melihat fenomena tahunan tersebut, Yayasan Selamatkan Yaki (Save Yaki) mengkampanyekan Bijak Konsumsi Daging.

Baca juga: Ternyata yang Datang ke Markas FPI, Sekretaris Kedua di Kedutaan Jerman, Dia Terdaftar Diplomat

Baca juga: Doa Akhir Tahun 2020 dan Awal Tahun 2021, Lengkap Arab, Latin dan Terjemahan Indonesia

Baca juga: Dokter Terawan: Saya Mengawali Lewat Pensiun, Sekarang Saya Akhiri dengan Pensiun

Yaki (Macaca nigra), monyet hitam endemik Sulut. Yayasan Selamatkan Yaki mengimbau warga Sulut tak lagi mengkonsumsi daging satwa liar.
Yaki (Macaca nigra), monyet hitam endemik Sulut. Yayasan Selamatkan Yaki mengimbau warga Sulut tak lagi mengkonsumsi daging satwa liar. (Istimewa/Yayasan Selamatkan Yaki)

Ketua Selamatkan Yaki Indonesia, Yunita Siwi mengatakan, masyarakat bisa merayakan tahun baru tanpa harus mengorbankan satwa liar.

"Memang sudah tradisi dalam perayaan tahun baru ada jamuan keluarga dengan menu spesial tapi alangkah bijaksana jika tidak menghidangkan daging satwa liar," kata Yunita kepada Tribun Manado, Rabu (30/12/2020).

Katanya, keberadaan satwa liar di alam bebas kian terancam oleh karena perburuan untuk dikonsumsi.

"Bahkan ada yang sudah terancam punah seperti Yaki (Macaca nigra) dan anoa," jelasnya.

Yaki, monyet hitam endemik Sulut berstatus terancam punah.

Populasinya tergerus hingga 80 persen akibat perburuan.

Satwa ini masih sering dijual hidup atau mati walau tidak secara terbuka di pasar-pasar tradisional di Sulut.

Ancaman terhadap Yaki juga datang dari perburuan karena dianggap sebagai hama bagi tanaman.

Selain Yaki dan Anoa, satwa liar lain yang juga terancam kalah babi rusa, kuskus dan bahkan kelelawar.

"Dari survei yang dilakukan di pasar, terbukti bahwa suplai paniki saat ini bukan lagi dari Sulut tetapi bahkan sudah dari Gorontalo, Sulteng dan provinsi lainnya di Sulawesi," jelasnya.

Kondisi ini jika terus dibiarkan akan berbahaya bagi ekosistem di Sulut.

Karena itu Selamatkan Yaki meminta kepedulian dan kerja sama warga Sulut agar bijak konsumsi daging dalam perayaan akhir tahun.

"Mari bangga memiliki satwa beragam yang Tuhan berikan.

Torang masih boleh ambil pilihan-pilihan lain untuk dikonsumsi tanpa mengurangi rasa sukacita dan syukur," jelasnya.

(Tribun Manado/Fernando Lumowa)

Baca juga: Tingkatkan Kualitas Wisata Bahari, Menparekraf Sandiaga Uno Ungkap Daerah Potensial

Baca juga: Deretan Zodiak yang Terkenal Karena Kecerdasannya, Gemini Guru yang Fantastis, Virgo Peneliti

Baca juga: 4 Zodiak Ini Sering Buat Orang Lain Terpesona, Mereka Baik dan Tulus Hatinya, Zodiakmu Termasuk?

TONTON JUGA:

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved