Sosok Tokoh
Sosok Edwin Kawilarang yang Meninggal, Mantan DPR RI, Putra Perintis Kopassus Pernah Tampar Soeharto
Edwin Kawilarang merupakan politisi dan pengusaha asal Sulawesi Utar, meninggal dunia saat usia 66 tahun RS Siloam TB Simatupang.
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNMANADO.CO.ID - Sosok Edwin Kawilarang, mantan anggota DPR RI asal Sulut yang meninggal dunia pada Minggu (29/11/2020) pukul 11.15 WIB.
Edwin Kawilarang meninggal dunia saat usia 66 tahun RS Siloam TB Simatupang.
Edwin Kawilarang merupakan politisi dan pengusaha asal Sulawesi Utara.
Jenazah Edwin disemayamkan di di rumah duka, jalan pertanian III no 11, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Baca juga: Kabar Duka, Herry Kereh Mantan Anggota DPRD Sulut Meninggal Karena Kecelakaan

Siapa Edwin Kawilarang?
Edwin lahir di Bandung pada 20 Maret 1954.
Edwin merupakan putra dari Alex Evert Kawilarang, seorang tokoh militer angkatan 1945 dan mantan anggota KNIL yang juga sebagai pendiri Korps Baret Merah KKO (sekarang Kopassus).
Nama AE Kawilarang akan selalu dikenang karena menjadi Pemimpin Tentara Permesta di masa pergolakan 1957-1962.
Edwin merupakan tokoh senior di partai Golkar.
Edwin menjadi anggota DPR RI utusan daerah Sulawesi Utara tahun 1997-1999 dan 1999-2004.
Pada Pemilihan Umum langsung tahun 2004, Edwin terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) 2004-2009.
Baca juga: VIRAL Rekaman CCTV Anak Kecil Tergilas Mobil, Lepas dari Pengawasan Orangtua saat Isi BBM
Dia lalu terpilih lagi menjadi anggota DPR RI Dapil Sulut tahun 2009-2014. Ketika tahun 2014, dia tidak mencalonkan diri lagi.
Kawilarang dekat dengan Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh.
Edwin turut melahirkan Nasdem yang awal munculnya sebagai Organisasi Masyarakat.
Edwin pernah menjabat Bendahara Umum DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) periode 1994-1997 dan Ketua Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan ABRI (FKPPI) periode 1998-2003.
Selain politisi, dia juga sebagai pengusaha sukses. Alumnus Institut Teknologi Bandung jurusan Planologi ini memulai bisnisnya di PT Bimantara Siti Wisesa.
Perusahannya mengembangkan perumahan Lebak Bulus Indah, Plaza Indonesia, Hotel Grand Hyatt Jakarta dan beberapa properti terkenal.
Alexander Edwin Kawilarang merupakan mantan Ketua Umum Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) dan Kamar Dagang dan Industri (KADIN).
Edwin pernah menjabat sebagai komisaris stasiun televisi RCTI dan menjadi pendiri Global TV.
Baca juga: Sosok Teman Dekat Surya Paloh & Mantan Anggota DPR RI, Edwin Kawilarang Dikabarkan Meninggal Dunia
Selain itu, Edwin Kawilarang turut memajukan dunia olahraga. Dia pernah menjadi Pengurus Besar gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Gabsi) masa bakti 2002-2006.
Reyner Ointoe, sahabat Edwin mengungkapkan dukacitanya atas meninggalnya Edwin Kawilarang.
“RIP Bung Ewin, kebaikanmu sepanjang hidup akan dikenang generasi demi generasi seperti jasa ayahmu sebagai pejuang kemerdekaan RI,” tulisnya
Sosok Ayahnya, Alex Evert Kawilarang

Kolonel Inf (Purn) Alexander Evert Kawilarang meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo di Jakarta dan disemayamkan di Ruang Soedirman di Markas Kodam III/Siliwangi, pada 6 Juni 2000
Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra di Bandung.
Kolonel Inf (Purn) Alex Evert Kawilarang sangat melegenda di kalangan Kopassus atau TNI Republik Indonesia.
Dia merupakan salah satu perintis pasukan berkualifikasi komandi di tubuh Tentara Nasional Indonesia.
Alex Kawilarang lahir di Jakarta 23 Pebruari 1920.
Jabatan terakhir dalam pemerintahan resmi adalah Atase Militer di KBRI Washington (1957).
Setelah tahun itu nama Alex Kawilarang lebih sering dihubung-hubungkan dengan angkatan perang PRRI/Permesta (1959).
Alex Kawilarang dikenal sebagai seorang yang berdarah militer.
Ayahnya seorang perwira KNIL yang pada tahun 1910 sudah mendapat pendidikan sekolah perwira di Jatinegara.
Alex Kawilarang sendiri setelah menyelesaikan sekolah menengahnya di Bandung masuk CORO (Corps Opleiding Reserve Officieren =Korps Pendidikan Perwira Cadangan).
Pada tahun 1941, Alex Kawilarang masuk Koninklijk Militair Academia=Akademi Militer Kerajaan (KMA), yang dipindahkan dari Breda (Belanda) ke Hindia setelah serbuan Jerman atas Belanda (1940).
Karena dinilai sangat cakap, Alex Kawilarang ditunjuk menjadi instruktur pada akademi militer tersebut dan ikut bertempur melawan Jepang, bahkan ia pernah merasakan siksaan sebagai tawanan Jepang.
Pada awal revolusi Alex Kawilarang bersama sejumlah rekannya di CORO dan KMA ikut menyusun tentara keamanan rakyat di wilayah Jawa Barat.
Pada awal 1946 Alex Kawilarang diangkat sebagai Komandan Brigade II untuk wilayah yang mencakup Cianjur, Bogor dan Sukabumi dengan pangkat Letnan Kolonel.
Dalam Agresi Belanda pertama (pertengahan 1947), Alex Kawilarang mendapat ultimatum dari Belanda untuk menyerah, akan tetapi Alex Kawilarang menjawab bahwa ia bersama rekannya lebih suka mati dari pada menyerah.
Kota Sukanegara yang menjadi markas Brigade II direbut Belanda, namun Alex Kawilarang telah membumihanguskannya terlebih dahulu.
Seiring dengan berlakunya Perjanjian Renville, Alex Kawilarang ikut pindah ke Yogyakarta.
Pada bulan Agustus 1948 Alex Kawilarang dikirim ke Sumatera untuk ikut mengadakan reorganisasi ketentaraan di sana.
Membasmi Pemberontakan
Setelah penyerahan kedaulatan ia diangkat sebagai Panglima Teritorium Sumatera Utara dan berkedudukan sebagai Gubernur Militer (1950).
Alex Kawilarang kemudian ditugaskan untuk menumpas pemberontakan militer Andi Azis di Sulawesi Selatan.
Dalam operasi tersebut ia diangkat sebagai Panglima dari semua satuan (darat, laut dan udara) yang bertugas menjalankan operasi di wilayah Indonesia Timur.
Setelah pemberontakan tersebut berhasil ditumpas, Alex Kawilarang kembali ditugaskan untuk mengatasi pemberontakan RMS di Maluku dan Kahar Muzakar.
Pada bulan Nopember 1951, Alex Kawilarang diangkat sebagai Komandan Teritorium III Jawa Barat dengan pangkat Letnan Kolonel.
Pada saat inilah Alex Kawilarang mewujudkan dibentuknya Kesatuan Komando yang terlatih bertempur dalam satuan-satuan kecil yang serba bisa dan dapat diandalkan.
Alex Kawilarang pun meminta Idjon Djanbi untuk melatih kader perwira dan bintara untuk membentuk pasukan khusus, yang kini dikenal sebagai Kopassus.
Sebagai Panglima Divisi Siliwangi ia terjun langsung dalam penumpasan gerombolan Darul Islam pimpinan Karto Suwiryo.
Alex Kawilarang diangkat sebagai Atase Militer di KBRI Washington hingga tahun 1957.
Ia selanjutnya mengajukan pengunduran diri karena tidak setuju dengan kebijaksanaan pemerintah pusat dalam menangani kasus Permesta.
Sejak saat itu namanya sering dicantumkan sebagai Kepala Staf Angkatan Perang PRRI/Permesta.
Perintis Pasukan Komando di TNI
Pasukan Komando pertama kali dimiliki oleh TNI AD berkat ide seorang yang berpengalaman di satuan militer Belanda KNIL, dan merupakan pejuang Repulik Indonesia di masa perang mempertahankan kemerdekaan, yakni Alexander Evert Kawilarang.
Pada tanggal 16 April 1952, Kolonel A.E. Kawilarang mendirikan Kesatuan Komando Tentara Territorium III/Siliwangi (Kesko TT).
Ide pembentukan kesatuan komando ini berasal dari pengalamannya menumpas gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku.
Saat itu A.E. Kawilarang bersama Letkol Slamet Riyadi (Brigjen Anumerta) merasa kesulitan menghadapi pasukan komando RMS.
A.E. Kawilarang bercita-cita untuk mendirikan pasukan komando yang dapat bergerak tangkas dan cepat.
Selanjutnya, sebagaimana yang dikutip dari laman kopassus.mil.id, melalui Instruksi Panglima Tentara dan Teritorial III No. 55/Inst/PDS/52 tanggal 16 April 1952 terbentuklah KESATUAN KOMANDO TERITORIUM III yang merupakan cikal bakal “Korps Baret Merah”.
Sebagai Komandan pertama dipercayakan kepada Mayor Mochammad Idjon Djanbi. Idjon Djanbi adalah mantan kapten KNIL Belanda kelahiran Kanada, yang memiliki nama asli Kapten Rokus Bernardus Visser.
Pada tanggal 9 Februari 1953, Kesko TT dialihkan dari Siliwangi dan langsung berada di bawah Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD).
Selanjutnya tanggal 18 Maret 1953, Markas Besar (Mabes) Angkatan Bersenjata Republi Indonesia (ABRI: nama TNI waktu itu) mengambil alih dari komando Siliwangi dan kemudian mengubah namanya menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD).
Selanjutnya pada tahun 1955 namanya diubah menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dengan menambah kualifikasi Para kepada setiap prajuritnya.
Tahun 1966 satuan ini kembali berganti nama menjadi Pusat Pasukan Khusus TNI AD (PUSPASSUS TNI AD).
Berganti lagi menjadi Komando Pasukan Sandi Yudha disingkat KOPASSANDHA pada tahun 197.
Terakhir tahun 1985 satuan ini berganti nama menjadi Komando Pasukan Khusus (KOPASSUS) sampai sekarang.
Dikabarkan Pernah Tampar Soeharto Muda
Alex Evert Kawilarang adalah Panglima militer berdarah Minahasa, Sulawesi Utara, yang pernah menampar Soeharto
Soeharto kala itu masih muda.
Tentunya, seorang prajurit wajar menerima pelajaran dan hukuman dari atasannya.
Alex Evert Kawilarang saat itu menjabat sebagai Panglima selaku atasan dari Letkol Soeharto.
Saat Soeharto muda masih aktif di militer, dia dikabarkan pernah ditampar oleh seorang panglima militer yang sekaligus pendiri Kopassus.
Kisah penamparan Soeharto oleh Alex Evert Kawilarang ini ada dalam buku 'Suharto and His Generals: Indonesian Military
Politics 1975-1983' tulisan David Jenkins (1984)
Sekitar tahun 1950-an, sebagai Panglima Wirabuana, Alex Kawilarang melaporkan kepada Presiden Soekarno bahwa keadaan di Makassar sudah aman.
Namun Soekarno justru menyodorkan sebuah radiogram yang baru saja diterimanya yang melaporkan bahwa pasukan KNIL Belanda sudah menduduki Makassar.
Brigade Mataram, pasukan yang seharusnya mempertahankan kota Makassar saat itu juga dilaporkan telah mundur ke Lapangan Udara Mandai.
Mendengar radiogram tersebut, Kawilarang marah besar dan segera kembali ke Makassar.
Setibanya di lapangan udara Mandai, ia langsung memarahi Komandan Brigade Mataram,
Letkol Soeharto, sambil menamparnya.
"Sirkus apa-apaan nih?" kata Kolonel Alex Kawilarang sambil menampar pipi Letkol Soeharto.
Bagaimana reaksi Soeharto? beliau hanya bisa menahan sakit sambil bersungut-sungut karena kelalaiannya dalam menjalankan tugas. (Fernando Lumowa/Tribunnews)