Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Presiden Soekarno

Soekarno Geram Bukan Main, Menlu AS Sampai Ketar-Ketir: Kami Terpaksa Lakukan Politik Pakai Senjata

Ia langsung menyampaikan ini kepada Presiden Amerika dan ajaibnya Paman Sam mulai lunak agar Irian Barat diserahkan kepada Indonesia.

Editor:
Kloase/Tribunmanado
Presiden Soekarno Pernah Ancam Menlu AS Sampai Ketar-Ketir 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Siapa sangka, Presiden  Ir Soekarno pernah membuat menteri luar negeri AS ketar-ketir.

Menurut informasi yang ada, Menteri AS tersebut menjadi ketar ketir kena semprot terkait kasus Papua pada tahun 60-an.

Diwartakan Intisari-Online.Com bahwa enam belas tahun silam pernah ada peristiwa yang membuat suasana Indonesia tak enak.

70 figur politik Papua dengan mengibarkan bendera Bintang Kejora di Irian Barat pada 1 Desember 1961.

Tindakan main api ini diperparah dengan disandingkannya bendera Bintang Kejora dengan bendera Merah-Putih-Biru milik Belanda.

Hari itu para elit Papua pengikut Belanda juga menyepakati untuk memberi nama Papua Barat dan meresmikan lagu kebangsaan 'Hai Tanahku Papua' dengan lambang negara 'Burung Mambruk' serta semboyan 'Satu Rakyat, Satu Jiwa.'

Aksi 'teatrikal' ini mendapat respon keras dari pemerintah Indonesia.

Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno
Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno (Istimewa)

Indonesia memandang Belanda mencoba membuat negara boneka Papua dengan aksi teatrikal itu.

Mengutip Asvi Warman Adam : Determinasi Soekarno Memilih Hari Proklamasi yang diterbitkan oleh Majalah Intisari No.635 Agustus 2015, 18 hari kemudian untuk merespon aksi teatrikal itu, Soekarno langsung mengumandangkan Tri Komando Rakyat (Trikora) di Yogyakarta.

Sengaja Soekarno mengumandangkan Trikora pada 19 Desember 1961 untuk mengingat Agresi Militer Belanda pada 19 Desember 1948 di Yogyakarta.

Kini Indonesia menuntut balas atas Agresi Militer itu dengan merebut Irian Barat yang sudah menjadi hak bangsa ini.

Menindaklanjuti seruan ini, maka Angkatan Perang Indonesia membentuk Komando Mandala yang dikomandani oleh Soeharto.

Segera berbondong-bondong kekuatan tempur dikonsolidasi lalu dilakukan berbagai operasi militer ke Irian Barat.

Beralihnya diplomasi basa-basi Indonesia di meja perundingan menjadi 'gebuk dulu urusan belakangan' tak lain dan tak bukan karena sikap Belanda dan Amerika yang sebelumnya keras kepala kukuh agar Irian Barat jadi negara sendiri.

Awalnya Indonesia ingin masalah Irian Barat diselesaikan di meja perundingan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved